
Ketika di semester 1 dulu banyak sekali dosen saya yang mengucapkan SELAMAT kepada para mahasiswa baru. “Kami tahu, kalian pasti para bintang di daerahnya masing-masing, kalian datang kesini untuk menuntut ilmu dengan membawa serta harapan yang besar dari orangtua, keluarga bahkan masyarakat, karena itu belajarlah yang baik dan jadilah dokter yang baik”. Nasihat bijak dari seorang bapak kepada anak didiknya ini begitu membekas dan seharusnya sih dapat menjadi motivasi yang besar bagi kami semua untuk dapat survive di fakultas kedokteran.
Sewaktu sang dosen memberikan pernyataan diatas, sebenarnya saya sendiri berkata dalam hati “masa sih? Pas di SMU dulu saya rankingnya diatas terus tuh…diatas rangking 10 (belasan sampai puluhan maksudnya…..hehehe). Mau tidak mau ini cukup membuat saya berpikir apakah saya dapat survive?
Seorang teman seperjuangan (yang sama-sama ingin masuk FK) di SMU dulu pernah berkata “ga perlu jenius untuk jadi dokter sar, yang penting rajin dan tekun”. Perkataannya terbukti, semua teman-teman di kampus pintar dan cerdas, namun yang membuat berbeda satu sama lain adalah ketekunannya. Teori ikhtiar menentukan prestasi terbukti disini. Lalu apakah hanya ikhtiar saja?
Anatomi, salah satu mata kuliah yang menjadi ‘momok’ ini menurut saya menjadi ‘candra dimuka’ pertama di kampus. Dengan bahan kuliah yang bejibun dan sedikit gemblengan mental dapat membentuk kepribadian BERJUANG sampai titik darah penghabisan (duh, segitunya…..). Berjuang untuk dapat menguasai pelajaran yang disampaikan, berjuang untuk fisik yang lebih kuat (karena jadwal yang sangat padat) dan berjuang melawan virus MALAS (ini yang paling berat).
Ada satu pelajaran yang penting yang tidak terlupakan. Pada ujian perdana identifikasi Anantomi saya PD abis, saya merasa usaha belajar saya sudah maksimal. Saya belajar siang malam demi anatomi dan mengikuti praktikum bebas sampai badan terasa sangat letih.
Sayang sekali…..nilai yang keluar tidak memuaskan.. (hiks)
Setelah mengintropeksi diri, saya temukan jawabnya! DOA yang kurang! Saya bangun malam untuk belajar..namun jarang sekali menyempatkan untuk Qiyamul lail (shalat malam) di 1/3 malamNya, saya mengulang semua bahan kuliah yang pernah disampaikan, namun hapalan AlQuran saya jarang sekali diulang hingga menguap entah kemana, saya sangat sering mengikuti praktikum bebas sebagai tambahan, namun shalat sunnah rawatib seringkali ketinggalan……..
Menjelang ujian identifikasi kedua, saya perbanyak doa, Qiyamul Lail tak pernah ketinggalan, tilawah sehabis shalat fardhu, dll. Namun setelah nilai keluar,
kalian tau????
JRENG….Nilai yang PERSIS SAMA (sampai titik komanya!) seperti ujian yang pertama!!! Kok bisa siih???!!!
Ternyata kali ini saya belajarnya memang kurang (gubrak banget ga sih…). Jika dibandingkan dengan persiapan ujian yang pertama, usaha belajar yang sekarang sangat jauh dibawahnya. Semangat belajar yang ada juga minim sekali (dengan alasan toh dulu belajar sampai jungkir balik juga ga ada hasilnya).
Ujian identifikasi ketiga, saya mengejar ketinggalan saya dengan proses simultan yang seharusnya saya terapkan sejak pertama kali = IKHTIAR + DOA + TAWAKKAL. Alhamdulillah akhirnya saya lulus mata kuliah Anatomi I dengan nilai yang tidak mengecawakan.
Lalu apa itu ikhtiar, doa, dan tawakkal? Gimana sih cara melaksanakannya?
IKHTIAR
Ikhtiar adalah usaha seseorang dan usaha yang benar adalah usaha yang sungguh-sungguh (jiddiyah). Usaha yang sungguh-sungguh ini ditandai dengan adanya pengorbanan (tadhiyyah). So, kalau kamu mau mengukur seberat apa sih usaha yang sudah kamu lakukan, jawabnya gampang.. sudah seberapa banyak pengorbanan yang telah kamu lakukan? Pengorbanan punya banyak jalan. Pengorbananmu bangun malam untuk shalat dan belajar, pengorbananmu untuk menahan rasa kantuk demi mengikuti pelajaran di kelas, dan banyak lagi.
(yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.
(QS.Ash-Shaff:11)
Semestinya, kesungguhan ini dilakukan dalam berbagai keadaan. Artinya kesungguhan (jiddiyah) yang dilakukan secara terus-menerus (istimrariyah), baik dalam keadaan ringan ataupun berat, keadaan lapang maupun sempit, di kala mudah maupun susah, dikala senang maupun sedih. So, belajar bukan Cuma di waktu luang aja… anggap saja belajar ketika kondisi mu lagi MALES BANGET adalah sebagai kesungguhan dan pengorbananmu ketika kamu sedang dalam keadaan berat.
Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. (QS.At taubah:41)
Kesungguhan (jiddiyah) yang disertai pengorbanan (tadhiyyah) apabila dilakukan secara berkesinambungan atau terus-menerus (istimrariyah) maka buahnya adalah KERJA yang PROFESIONAL (itqanul ‘amal) atau IKHTIAR maksimal yang bisa kamu lakukan. Ketiga elemen ini apabila dilakukan secara simultan makan akan menghasilkan suatu ENERGI besar bagi seseorang dalam berikhtiar.
Golden Triangle
KESUNGGUHAN + PENGORBANAN + KESINAMBUNGAN
= PROFESIONALISME
Rasulullah SAW menekankan pentingnya itqanul amal atau kerja yang profesional. Dalam sebuah hadist dikatakan:
“Sesunguhnya Allah SWT menyukai bila seseorang bekerja dengan itqan (HR.Bukhari)
Ingat!!!! yang perlu di garis bawahi adalah usaha manusia yang mendapat pahala-Nya adalah usaha yang dilakukan di jalan Allah. Yaitu ikhtiar dalam tujuan memperoleh ridha Allah semata…(masih ingat kan pembahasan kita tentang motivasi seorang muslim di bab sebelumnya). Dan Allah telah menjanjikan suatu kemenangan bagi orang-orang yang bersungguh-sungguh (jihad). Kemenangan dunia dan akhirat!!
Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.
(QS.At taubah:20)
Bentuk perjuangan yang kita bahas disini adalah menuntut ilmu, karena menuntut ilmu adalah kewajiban setiap muslim. Kesungguhanmu dalam menuntut ilmu seharusnya menjadi bentuk perjuangan di jalan Allah SWT. Selain itu, Orang yang berilmu dan majelis keilmuan sendiri mempunyai kedudukan istimewa disisi Allah SWT.
Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS.Al-Mujadilah:11)
Segala kesempatan Allah berikan kepada manusia di dunia ini bagai suatu perniagaan, Allah SWT befirman:
Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih?
(yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.
(QS.Ash-Shaf:10-11)
Ketika kita menyadari hakikat manusia sebagai khalifah, sebagai pemegang kendali dunia… maka perniagaan yang ditawarkan oleh Sang Khalik ini seharusnya dapat membuat motivasi terbesar bagi seorang (calon) dokter untuk memiliki semangat jiddiyah dalam menuntut ilmu setinggi-tingginya.
Dalam hukum perdagangan dan ekonomi dikenal teori break event point, yaitu:
Total cost = usaha —> Hasil yang diperoleh
Teori tersebut mengatakan, hasil yang kita peroleh akan berbanding lurus dengan usaha yang kita lakukan. Jika kamu ingin hasil yang terbaik, so usaha yang kamu lakukan juga adalah usaha TERBAIK YANG DAPAT KAMU LAKUKAN.
Dan masing-masing orang memperoleh derajat-derajat (seimbang) dengan apa yang dikerjakannya. Dan Tuhanmu tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.
(QS.Al-An’am:132)
Dosen saya pernah mengatakan “bersiaplah! Kalian adalah seorang prajurit yang akan berperang melawan penyakit! Kalian harus memiliki senjata yang ampuh, dan senjata itu ada disini, di kepala kalian”
Ya memang benar! medical science is a art. Mengobati pasien yang satu dengan lainnya tidak selalu sama. Ada banyak faktor yang berpengaruh secara simultan disana. Oleh karena itu sebagai seorang dokter diperlukan kemampuan untuk mengumpulkan semua informasi, mengolahnya dan menghasilkan suatu keputusan. Karena itu ilmu yang harus dimiliki juga harus lengkap dan kompleks agar dapat menghasilkan keputusan diagnosis atau treatmen yang baik dan benar. Semakin banyak ilmu yang kita miliki maka jenis senjata yang kita miliki pun semakin canggih. Di era globalisasi seperti ini tidaklah mungkin jika kita hanya memiliki bambu runcing sebagai senjata. Karena itu berlomba-lomba lah dalam mencari ilmu setinggi-tingginya! Seperti apa yang dikatakan oleh Rasulullah SAW:
“Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina” (Muhammad SAW)
Banyaknya ilmu yang dimiliki tidak dinilai dari sebuah nilai mata kuliah. Nilai hanyalah bonus yang Allah berikan, sedangkan ‘hadiah utama” dari usaha yang telah kita lakukan adalah ILMU dan PAHALA dari Allah. Nilai bukanlah segala-galanya. Seperti filosofi :
Seseorang yang dalam melakukan segala sesuatu hanya mengharapkan ridha dan surga Allah (istilah kata menanam padi), pasti akan dapat “bonus” nikmat dunia yang bahkan tidak disangka-sangka (rumputnya).
Tapi jika yang diharapkan hanya “rumput”, yaitu nikmat dunia : nilai mata kuliah, uang, kekuasaan, dll… maka yang didapatkan hanya rumputnya. Tanpa mendapatkan “padi” yang jelas lebih tinggi harganya. Seseorang yang ikhlas menjalankan hidup ini hanya untuk Allah, maka mereka yakin dgn janji Allah “barangsiapa yg menolong agama Allah pasti Allah akan menolong dirinya”
So, mari sejak sekarang kita nanam “padi” yg jelas-jelas sudah dijanjiikan oleh Allah akan dibalas,walaupun sebesar dzarah pun!
Lalu, ketika kamu merasa telah mendapat banyak ilmu dari hasil belajar kamu…. Jangan lupa banyak bersyukur.
Dan sesungguhnya Kami telah memberi ilmu kepada Daud dan Sulaiman; dan keduanya mengucapkan: “Segala puji bagi Allah yang melebihkan kami dari kebanyakan hamba-hambanya yang beriman.” (QS.An-Naml:15).
DOA
Dan katakanlah: “Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.” (QS.Thaahaa:114)
Doa adalah bentuk ibadah ruhiyyah, dengan doa kita mampu merasakan betapa Maha Agungnya Sang Khalik, Dzat tempat berlindung bagi setiap makhluk. Setelah semua sarana dan jalan ikhtiar telah kita lakukan, maka kepada Allah lah tempat kembali segala sesuatu. Hanya Sang Pemilik alam semesta lah yang dapat mengabulkan doa hambaNya. Doa dikatakan sebagai ibadah sebab doa merupakan bentuk pemasrahan diri secara total dan bentuk pengakuan yang sempurna terhadap ubuddiyyah (penghambaan) kepada Allah. Allah menyukai hamba-Nya yang senantiasa berdoa karena itu menunjukkan tingginya iman seseorang. Bahkan, dikatakan bahwa orang yang jarang atau tidak mau berdoa adalah orang yang sombong, yang merasa bahwa ia akan dapat berjalan di muka bumi hanya dengan kakinya sendiri. Padahal ia lupa, kakii nya pun adalah ciptaan Allah, Sang Khalik!
Allah lah Yang Maha Mengetahui segala sesuatu tentang dirimu! Dia pula lah yang akan memperbaiki keadaanmu. Maka bergegaslah kepada-Nya setelah kamu berikhtiar dengan segenap kemampuan yang kamu miliki.
“Berdoalah kamu sekalian lepada Allah dan kamu sekalian yakin Allah akan mengabulkannya. Dan ketahuilah, sesungguhnya Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai dan lengah (HR.Muslim)
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya padamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu dalam kebenaran. (QS. Al-Baqarah:186)
Dari ayat diatas, doa yang dikabulkan Allah bukan doa sembarangan lho. Ada dua syarat doa akan dikabulkan oleh Allah:
- orang yang berdoa memenuhi segala perintah Allah (bukan orang yang lalai dan lengah), dan
- beriman kepada Allah
Dan kesemua itu agar mereka (orang yang berdoa) selalu dalam kebenaran
Apakah selama ini kita merasa doa-doa kita tidak dikabulkan oleh Allah? Nah, itu berarti kita lah yang harus intropeksi diri. Jangan-jangan selama ini kita hanya berdoa tapi tidak menjalankan kewajiban kita sebagai hamba-Nya? Malu dong….minta ini-itu sama Allah tapi shalatnya aja masih bolong-bolong………..
Atau jangan-jangan lagi, selama ini doa yang kita panjatkan bukanlah sesuatu yang baik untuk kita? Sesuatu yang tidak membawa kita ke jalan kebenaran? Seperti yang disebutkan ayat di atas? So, selalu berprasangka baiklah kepada Allah karena hanya Allah Yang Maha Mengetahui segala yang terbaik untuk diri kita. Oke!!
Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingatiNya. (Qs.An-Naml: 62)
TAWAKKAL
“Bertawakkallah kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai Pemelihara”
(QS.Al-Ahzab: 3)
Pernah ga kamu benar-benar merasa semua yang telah Allah berikan untuk kita itu adalah hal yang terbaik??? Bahkan yang tidak pernah terpikirkan oleh kita sebelumnya.
Atau kalimat itu Cuma jadi sekedar “kata-kata mutiara” yang sebenarnya kita sendiri ga memahami artinya….?
Tidak ada salahnya sih, kalo kita berdoa untuk minta suatu kebaikan yang spesifik misalnya “ya Allah,nilai ujianku dapet A dooong”. Atau doa yang agak aneh (beredar pas saya smu dulu) “Ya Allah jika dia jodohku maka dekatkanlah…jika dia bukan jodohku maka jodohkanlah…” (yaelah itu doa ato maksa? Hehehe)
terlepas dari “doa-doa spesifik” tadi, kadang kita lupa kalo Allah Yang paling tau “apa sih yg terbaik buat kita..”
contoh kecilnya ketika saya sediiih bgt dapet nilai anatomi II yangtidak memuaskan hati… waktu itu sih saya sih doanya minta “yang terbaik” (yah minimal B deh….hehe). Ternyata Allah tidak mengabulkan doa agar saya bisa dpt B, tapi Allah mengabulkan doa saya untuk mendapatkan yang terbaik.
Dgn nilai yang kurang memuaskan itu, saya jadi ikut semester sisipan dan akhirnya bisa dapet A. (alhamdulillah)
Bukan berarti yang terbaik itu adalah nilai yg tinggi, tapi apa yang saya dapatkan lebih dari itu… ilmu yang saya pelajari dan dapatkan lebih mendalam (lebih ngerti gitu), dan akhirnya saya dapat mengambil hikmah jika Allah belum mengabulkan doa dan keinginan kita, ada beberapa kemungkinan:
- hanya ditunda
- kita akan mendapat yang lebih baik dari yg apa yang kita minta
- Allah sedang menguji kita…kalo kita dapat bersabar…wow! ”hadiah”nya sangat besar bagi orang-orang yang bersabar!!!
Ketika kamu sudah yakin bahwa Allah akan memberikan yang terbaik buatmu, tidak akan lagi ada keraguan mengenai bagaimana hasil dari usaha yang telah kamu lakukan. Kamusudah usaha optimal disertai dengan doa kepada-Nya kan?
Yakinlah!
Yakinlah akan keputusan Allah dan selalu berprasangka baik lah kepada Allah, Karena Allah menuruti prasangka hamba-Nya.
“Aku dalam persangkaan hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku bersamanya disaat ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam dirinya, maka aku mengingatnya dalam diri-Ku; dan jika ia mengingat-Ku dalam suatu kumpulan, maka Aku mengingatnya dalam suatu kumpulan yang lebih baik. Dan jika Ia mendekat kepada-Ku satu jengkal, maka Aku akan mendekat kepadanya satu hasta; danjika ia mendekat kepada-Ku satu hasta, maka Aku akan mendekat kepadanya satu deopa; serta jika ia mendekatiku dengan berjalan, maka Aku mendatanginya dengan berlari. (HR.Muslim)