muslim doctor’s site

July 21, 2007

Filed under: Uncategorized — dokterqyu @ 8:42 am

(LEARN TO BE) SPIRITUAL DOCTOR

Kata SPIRITUAL DOCTOR ini terinspirasi setelah membaca sebuah artikel di majalah UMMI mengenai seorang ibu rumah tangga yang disebut penulis sebagai spiritual mother. Seorang ibu sekaligus ustadzah –yang kebetulan juga sangat saya kenal- dalam menjalankan profesinya sebagai ibu rumah tangga ini menerapkan tiga prinsip:

Cinta, ibadah, dan peningkatan kompetensi.

cinta-ibadah-kompetensi.jpg

Inilah yang seharusnya dimiliki oleh semua profesi, apapun itu.

Cinta, artinya lakukan segala yang menjadi tanggung jawab dengan landasan cinta. Tentu saja cinta yang utama cinta kepada Alllah, baru kepada yang lain (orangtua, keluarga, kerabat bahkan pasien). Lalu kesemua pekerjaan itu dilaksanakan sebagai manifestasi peribadatan kepada Allah. Kemudian yang terakhir, kita harus bisa menarik pelajaran baru atau hikmah-hikmah dari setiap aktivitas yang kita lakukan, baik dari sisi pengetahuan baru, ketrampilan, dan sikap-sikap baru hasil adaptasi yang menghasilkan suatu kompetensi dalam aktifitas yang dilakukan. Kompetensi baru yang kita miliki ini pada akhirnya juga memberikan kecintaan yang bertambah bagi setiap aktifitas yang kita lakukan.

Dengan tiga prinsip ini kita dapat selalu bersemangat, bergembira dan mensyukuri segala yang kita lakukan. Manusiawi kok, jika kamu mengalami titik jenuh. Namun, pandangan hidup dengan prinsip-prinsip tadi lah yang dapat membantu kita mengembalikan kondisi hati dan perasaan kepada keadaan normal. Karena pandangan hiduplah yang dapat mengendalikan hati dan perasaan seseorang. Jadikanlah dirimu sendiri sebagai pengendali hati dan perasaanmu! Bukan sebaliknya!

Menjadi seorang spiritual doctor memang tidak mudah. Diperlukan usaha yang sungguh-sungguh untuk melaksanakannya. Awalnya seseorang harus memperdalam pengenalannya terhadap Allah. Ia harus memahami apa sih yang dimaksud dengan Allah itu Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Lalu kemudian ia harus meresapi bahwa Allah adalah satu-satunya Dzat yang patut diibadahi dan dicintai. Penghayatan ini muncul tidak begitu saja, namun tumbuh seiring perenungan dalam setiap waktu yang ia jalani. Spiritualitas juga dibangun dengan memperbaiki orientasi kehidupan. Cita-cita hidup ditujukan sampai meraih kebahagiaan akhirat, tidak hanya kebahagiaan dunia saja. Kemudian, prasangka baik terhadap Allah harus senantiasa ditumbuhkan. Apapun peristiwa yang kita alami, termasuk yang tidak kita harapkan, harus dapat kita temuklan kebaikan di dalamnya.

Memang sulit, perjuangan (tadhiyyah) yang panjang sangat diperlukan sebelum seseorang dapat mencapai taraf itu. Ketika sebuah penghayatan spiritual dapat merasuk dalam setiap aktivitas yang kita lakukan maka kita akan dapat bertahan ketika menghadapi sebuah hasil yang mengecewakan dari sebuah kegiatan. Tidak hanya itu, sebuah spiritual spirit dapat membuat seseorang mau bersungguh-sungguh dengan cara yang terbaik. Proses pelaksanaan aktivitas pun dilaksanakan dengan penuh keikhlasan dan kegembiraan karena semuanya berlandaskan cinta pada Allah. Dan kesemua itu membuat pekerjaan kita bernilai di sisi Allah.

Sebab aku cinta
Menurut Al-Junaid, cinta adalah kecenderungan hati, perasaan jiwa dan dorongan hati yang menyebabkan seseorang condong kepada apa yang dicintainya dengan semangat mengasihi dan menyayangi. Jadi cinta yang sebenarnya datang dari hati (bukan dari mata, telinga, hidung, apalagi tenggorokan..
J).

Tingkatan cinta
Abdullah Nashih Ulwan membagi cinta dalam 3 tingkatan, antara lain:
1. Al Mahabat Al Ula
2. Al Mahabat Al Wustha
3. Al Mahabat Al Adna
Pembagian ini berdasarkan firman Allah SWT:
”Katakanlah: ”Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudaramu, isteri-isterimu, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu cemaskan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, semua itu lebih kamu cintai daripada Allah, rasul-Nya, dan berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusannya.” Dan Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. (QS. At Taubah:24)

Al Mahabat Al Ula
Adalah tingkatan cinta tertinggi, utama. Satu-satunya sebab cinta yang akan melahirkan cinta abadi! Yaitu cinta kepada Allah dan Rasulnya, juga semua yang berkaitan dengan kedua hal di atas. Allah Maha Abadi, tiada yang dapat menandingi-Nya. Jika cinta ini sudah terpatri di hati, maka hati pun pasti akan tentram, masalah duniawi yang silih berganti tak akan membuat kita risau.
Lho, kok bisa? Tentunya Allah sebagai Sang Kekasih tak akan membiarkan orang yang tulus mencintaiNya gelisah dan merana dalam hidup. Lihat saja betapa tentram dan damainya hidup Rasulullah, para shahabat, dan para alim ulama. Mereka mencintai Allah, begitu pula sebaliknya. Ketika dilanda musibah pun mereka tetap dalam kesabaran karena yakin bahwa Allah memberi cobaan semata-mata untuk menguji kesungguhan cinta mereka padaNya. Mereka percaya bahwa semua yang diberikan oleh Yang Tercinta adalah yang terbaik untuk mereka. Subhanallah…

”(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenang.” (QS. Ar Rad:28)

Al Mahabat Al Wustha adalah kecintaan terhadap keluarga, harta, tahta, wanita, dan segala yang bersifat duniawi. Cinta ini berada di bawah cinta yang utama, sebab dan pelaksanaannya juga didasarkan pada cinta yang pertama. Jika cinta ini mengungguli cinta yang utama, maka cinta ini akan jatuh menjadi Al Mahabat Al Adna yaitu cinta yang paling rendah, yang akan mendatangkan kehinaan.

Lalu, sudahkah kita termasuk orang-orang yang menjadikan Dia sebagai yang paling dicintai dalam hidup ini? Bergetarkah hati ini ketika namaNya disebut,? Rindukah hati ini pada Dia saat ayat-ayatNya (surat cintaNya untuk kita semua) dilantunkan? Tanyakanlah pada hati kita..
”Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut Nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka dan kepada Tuhan-lah mereka bertawakal.” (QS. Al Anfal:2)

DOKTER MATI RASA?

Filed under: Uncategorized — dokterqyu @ 8:42 am

 

sebagai seorang dokter kita harus berEMPATI thd pasien (merasakan, memahami perasaan org lain, tapi tidak ikut terhanyut). Tapi JANGAN SAMPAI MENJADI SIMPATI (lebih dari EMPATI, dimana perasaan mjd terhanyut..pasien menangis..kita ikut menangis..minimal berkaca-kaca)!!! itu yang ditekankan oleh sang dosen di depan kelas…

hmmm..iya sih aneh juga kalo ada pasien yg sdg bercerita ttg keadaannya sambil nangis..eh dokternya ikut nangis..bisa2 nanti nangis bareng…

tapi justru fenomena yang ada malah dokter menjadi KEBAL HATI…. dari sekian banyak dokter2 yang gue liat atao yang pnh gue denger dari org2 yang curhat ttg dokter…. jangankan berEMPATI…. melihat dan mendengarkan pasien pun tidak…. makanya ga sdkt pasien yg ngeluh “ih, kok dokternya kaku gitu…serem…tampang tak bersahabat…” and emang sih kbykn justru itu adlh para dokter yg ber ‘jam terbang tinggi’ alias pasiennya pun pada ngantri… (jadi ada alasan krn mhemat waktu juga sih kayanya….)

gue jg blm meneliti lbh lanjut..mgp hal itu bs terjadi…? para dokter mmg sgt sering terpapar oleh fakta2 yang menyedihkan ttg khidupan...sakit parah, pasien yang tak mampu mbayar, keadaan koma, harapan hidup tipis, dan kematian…
dulu aja pas pertama gue ngeliat kadaver (mayat yg dipake buat praktikum)…ga bisa tidurlah, kasianlah, kebayang2 lah… tapi lama2 ya..jadi smkn “tega” meng’obok2′ mereka….

bulan2 pertama ‘terjun’ ke dunia RSDK… sering bgt ga tega ngeliat pasien2 yang berada dlm keadaan yang cukup menyedihkan… tapi lama2 jadi terbiasa dan menganggap itu adalah hal yg biasa… seperti pas gue di poli gynekologi.. seorg ibu yang gue temenin di kamar pemeriksaan tb2 nangis krn tnyta bliau bliau supek Ca.cerviks (kanker leher rahim). gue yg trs terang bingung harus bersikap bgmn cm bs nenangin si ibu..dan ‘mhibur bliau dgn mgtkn bhwa smua itu blm pasti sblm di cek PA (lab) nya… jujur gue juga dah mulai berkaca2…apalagi ketika sang dokter yang menangani cuma bilang “ibu nih kmgknn kena kanker leher rahim” dgn nada kaya’ ngomong “cuaca cerah ya bu“.

yang harus disadari oleh para dokter (dan calon dokter) mgkn adalah hal2 yang biasa mereka hadapi itu akan menjadi hal yang luar biasa bagi pasien. dokter bs jadi  setiap harinya menyaksikan 1-10 kematian. tapi dari setiap kematian itu adalah 1 pengalaman yang bgtu tak terlupakan bagi keluarga jenazah… brgkali jenazah adalah seorg bapak yang menaggung 1 istri dan 5 org anak…mungkin  jenazah adlh seorg anak tunggal yang telah lama diharapkan kehadirannya…
dan apa yg diperbuat (dan yg dikatakan) oleh sang dokter akan SANGAT BERBEKAS dihati mereka… perlakuan atau perkataan yg tdk mengenakkan hati akan terus diingat oleh mereka….

hmmmh……. berat yah…. ketika kita secara tdk sadar telah menyakiti hati org lain…. “dosa” itu akan terus mereka ingat..dan kita nyantai2 aja..tanpa sdktpun menyadarinya….

TIPS EN TRIK BELAJARMU

Filed under: Uncategorized — dokterqyu @ 8:36 am

sudah berusaha belajar, tapii hasilnya kok selalu tidak memuaskan?

Jangan salah , bahkan dalam belajarpun Islam telah mengatur ‘tips’ dan  etikanya lho… semua aturan ini bukan untuk memberatkan ummat Islam, namun tidak lain untuk dirii kita sendiri, agar selalu berada dalam kebenaran:

Dan Kami tidak menurunkan Al Quran ini kepadamu agar kamu menjadi takut (QS. Thaha:2)

Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu dalam kebenaran. (QS. Al-Baqarah:186)

Menyampaikan ilmu kita miliki                                 

Mungkin ketika ada teman yang bertanya tentang suatu ilmu (ilmu apapun termasuk pelajaran kuliah) terkadang kita malas untuk menjawabnya. Dalam hati kita ngedumel: siapa suruh nggak dateng kuliah kemarin….. padahal Islam mengajarkan untuk menyampaikan ilmu yang didapatkan kepada orang yang tidak mendengar langsung. Siapa tahu ternyata ketika itu teman kita sedang ada uzur yang menyebabkannya tidak bisa datang kuliah. Lagipula dengan menyanpaikan ilmu yang kita ketahui kepada orang lain tidak akan mengurangi ilmu yang kita miliki kan? Bahkan dengan menyampaikan suatu ilmu, maka  ilmu yang kamu dapatkan akan bertambah. Penguasaanmu terhadap ilmu tersebut juga akan lebih mendalam. Coba deh rasakan, sedikit apapun ilmu yang kamu miliki sampaikan kepada teman yang belum mengetahuinya. Belajar tidak hanya dari proses membaca dan mendengar, namun juga dari proses berbicara. Semakin sering kamu mengulang sesuatu dalam perkataan, maka daya ingatmu akan pelajaran tersebut juga akan lebih bagus.

Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al Quran, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan (nya) lalu mereka berkata: “Diamlah kamu (untuk mendengarkannya).” Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan. (QS. Al Ahqaaf: 29)

So, jangan pelit bagi-bagi ilmu. Dijamin nggak bakal rugi kok. Dan jangan sampai kita termasuk dalam golongan orang-orang yang disampaikan di ayat di bawah ini:

Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dila’nati Allah dan dila’nati (pula) oleh semua (mahluk) yang dapat mela’nati (QS. QS.Al-Baqarah:159)

Etika dan cara mengajarkan ilmu

Sebuah kisah tentang nabi Musa dan nabi khidhr telah memberikan begitu banyak gambaran tentang proses mendapatkan ilmu, etika, dan cara penyampaian ilmu. Seorang dosen juga mencontohkan kisah ini layaknya masa ‘per co-ass an’ nabi Musa a.s kepada nabi Khidr a.s.

Musa berkata kepada Khidhr: “Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?” Dia menjawab: “Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersama aku. Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?” Musa berkata: “Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusanpun.” Dia berkata: “Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apapun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu.” Maka berjalanlah keduanya, hingga tatkala keduanya menaiki perahu lalu Khidhr melobanginya. Musa berkata: “Mengapa kamu melobangi perahu itu akibatnya kamu menenggelamkan penumpangnya?” Sesungguhnya kamu telah berbuat sesuatu kesalahan yang besar. Dia (Khidhr) berkata: “Bukankah aku telah berkata: “Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersama dengan aku.” Musa berkata: “Janganlah kamu menghukum aku karena kelupaanku dan janganlah kamu membebani aku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku. Maka berjalanlah keduanya; hingga tatkala keduanya berjumpa dengan seorang anak, maka Khidhr membunuhnya. Musa berkata: “Mengapa kamu membunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan suatu yang mungkar.” Khidhr berkata: “Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa sesungguhnya kamu tidak akan dapat sabar bersamaku?” Musa berkata: “Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah (kali) ini, maka janganlah kamu memperbolehkan aku menyertaimu, sesungguhnya kamu sudah cukup memberikan uzur adaku.” Maka keduanya berjalan; hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu, tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka, kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh, maka Khidhr menegakkan dinding itu. Musa berkata: “Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu.” Khidhr berkata: “Inilah perpisahan antara aku dengan kamu; kelak akan kuberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya. Adapun bahtera itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku bertujuan merusakkan bahtera itu, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera. Dan adapun anak muda itu, maka keduanya adalah orang-orang mukmin, dan kami khawatir bahwa dia akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran. Dan kami menghendaki, supaya Tuhan mereka mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya dari anaknya itu dan lebih dalam kasih sayangnya (kepada ibu bapaknya). Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu; dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya.” (QS.Al-Kahfi 66-82)                      

Dari kisah diatas, hal-hal yang kita petik adalah:

  1. Memperhatikan kondisi pendengar

      Ketika mengajarkan sesuatu kepada orang lain, hendaknya kita memperhatikan bagaimana kondisi orang yang kita ajarkan. Seperti pada kisah diatas, ketika nabi Musa as meminta nabi Khidir untuk mengizinkannya ikut dalam perjalanan, nabi khidhr berkata: “Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersama aku. Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?” dan Nabi Khidhr juga memaklumi Musa ketika ia alpa. Musa berkata: “Janganlah kamu menghukum aku karena kelupaanku dan janganlah kamu membebani aku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku”.

  1. Kelapangan dada orang alim

      Nabi Khidhr as mengetahui bahwa Musa as tidak akan dapat berasabar akan tindakan-tindakan yang akan ia lakukan. Namun nabi khidhr tetap memperbolehkan Musa untuk ikut bersamanya. “Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersama aku”

  1. Etika seorang murid :
    • Menghormati guru

      Musa as tetap menghormati Khidhr as setelah beberapa hal yang dilakukannya tidak sesuai dengan hati Musa. Musa pun bertanya kepada Khidhr dengan perkataan yang sopan. “Mengapa kamu melobangi perahu itu akibatnya kamu menenggelamkan penumpangnya?”

    • Memperhatikan keterangan orang alim

      Dia berkata: “Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apapun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu.”

    • Sabar dalam mendapatkan ilmu

“Bukankah aku telah berkata: “Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersama dengan aku.”

Musa berkata: “Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusanpun.”

Sabar dalam belajar itu kudu kamu jalanin. Ya sabar dalam mempelajari pelajaran yang njelimet, sabar dalam melawan kantukmu, juga sabar dalam hal-hal yang tidak sesuai dengan apa yang kamu harpkan (misalnya nilai kamu jelek, kamu harus bias sabar dan terus berusaha untuk memperbaiki nilai kamu)

  1. Menegur guru bila terbukti salah

      “Mengapa kamu melobangi perahu itu akibatnya kamu menenggelamkan penumpangnya?” Sesungguhnya kamu telah berbuat sesuatu kesalahan yang besar.

Etika dalam majelis ilmu

  1. Meluaskan ruang belajar

Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu (QS.Al-Mujadilah: 11)

  1. Etika berbisik-bisik:

      Apakah tidak kamu perhatikan orang-orang yang telah dilarang mengadakan pembicaraan rahasia, kemudian mereka kembali (mengerjakan) larangan itu dan mereka mengadakan pembicaraan rahasia untuk berbuat dosa, permusuhan dan durhaka kepada Rasul (Al-Mujadilah: 8)
 

Mengajar dengan cara bertanya:

Metode belajar dengan bertanya yang termasuk dalam QUANTUM TEACHING juga telah Allah contohkan dalam ayat-Nya:
 
Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku jika Allah mencabut pendengaran dan penglihatan serta menutup hatimu, siapakah tuhan selain Allah yang kuasa mengembalikannya kepadamu?” Perhatikanlah bagaimana Kami berkali-kali memperlihatkan tanda-tanda kebesaran (Kami), kemudian mereka tetap berpaling (juga). (QS.Al-An’am:46)

 

 Semua ilmu kembali kepada Allah

Kita harus meyakini bahwa segala ilmu yang ada di dunia ini kembali kepada Allah SWT. Karena Ia lah yang Maha Mengetahui, Ia lah Yang Menciptakan dunia beserta isinya. Bahkan ilmu yang lita miliki tidak mencapai 1% dari seluruh ilmu yang ada di dunia ini. Dalam ilmu kedokteran pun masih sangat banyak etiolgi (penyebab) penyakit dan proses penyakit yang masih dalam tanda tanya besar (unknown etiology and unknown pathogensis)

Mereka menjawab: “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana (QS.Al-Baqarah:32)

Pengamalan dan kewajiban orang yang berilmu:

Setelah kita memiliki suatu ilmu, maka ilmu tersebut haruslah diamalkan. Dan orang pertama yang harus mengamalkannya adalah diri kita sendiri, bukan orang lain:

 

Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? . Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan. (QS. Ash-shaf 2-3)

Mengamalkan dan menyampaikan ilmu yang kita miliki akan dihitung sebagai ‘menyeru’ kepada orang lain. Selama hal tersebut adalah hal yang baik, yang menuju kebaikan, kebenaran dan keridhaan-Nya. Dan bukan hal yan gbertentangan dengan perintah-Nya.

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat:33)

Dan di antara kaum Musa itu terdapat suatu umat yang memberi petunjuk (kepada manusia) dengan hak dan dengan yang hak itulah mereka menjalankan keadilan. (QS. Al-a’raf:159)

Hal yang harus kita hindari adalah perasaan ujub (tinggi hati) dan riya’. Kedua hal ini akan membawa manusia menjadi sombong. Tidak sedikit manusia yang merasa dirinya hebat karena ilmu yang dimiliki. Semakin berilmu seseorang seharusnya semakin merunduklah ia, semakin tunduklah ia kepada Allah SWT. Semakin banyak ilmu yang dimiliki seharusnya seseorang semakin menyadari bahwa ilmu yang ia miliki masih sangat sedikit. Apalagi jika dibandingkan dengan ilmu Sang Khaliq Yang Maha Mengetahui segala sesuatu.

Janganlah sekali-kali kamu menyangka, hahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan janganlah kamu menyangka bahwa mereka terlepas dari siksa, dan bagi mereka siksa yang pedih. (QS. Ali-Imran:188)

Filed under: Uncategorized — dokterqyu @ 8:30 am


AKTIFITAS ~ BELAJAR

Ketika kamu memutuskan untuk mengejar cita-citamu, itu artinya kamu telah memutuskan untuk menjadi BUKAN ORANG YANG BIASA! Banyak manusia di dunia ini. Namun yang membedakan satu sama lainnya adalah KEINGINAN untuk menjadi manusia yang lebih baik, yang dapat menjadi SEBAIK-BAIKNYA MANUSIA:

Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain

Bagaimana caranya agar dapat menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain? Pemuda muslim adalah harapan! Pada dirinya terdapat semangat yang tidak didapatkan dari usia-usia lain dalam suatu fase kehidupan manusia: SEMANGAT PERJUANGAN!

Perjuangan ini tidak hanya berorientasi pada dirinya sendiri, karena ia bukan manusia egois yang hanya ingin menjadikan dirinya seorang MANUSIA HEBAT. Ia mempunyai cita dan harapan agar lingkungannya, masyarakatnya dan bangsanya menjadi BANGSA YANG HEBAT!

Apakah kamu adalah pemuda harapan itu???

Gelombang tidak berawal dari air yang besar. Sesungguhnya ia berasal dari tetes air di laut yang mempunyai energi besar yang kemudian menyebarkan energi tersebut kesekitarnya membentuk gelombang besar. Begitu pula seorang pemuda muslim harapan. Ia bukanlah hanya satu riak ombak dilaut. Banyak jumlahnya, namun hilang begitu saja ditelan riak lain yang lebih besar. Contoh yang paling mudah adalah analogi gelombang tsunami:

a22.jpga19.jpg

Begitulah pemuda Muslm. Ia memiliki energi yang bermula dari dirinya sendiri. Kemudian energi tersebut disebarkan kesekelilingnya. Bukan karena ia ingin menjadi MANUSIA HEBAT yang berdiri sendiri, tapi ia ingin menjadi bagian dari sebuah BANGSA HEBAT yang mempunyai energi dan kekuatan mengubah dunia!

Ya, kamu adalah pemuda Muslim harapan itu!

Bergeraklah! Karena air yang tidak bergerak hanya akan mengendapkan segala potensi dirinya. Dan kemudian hanya menjadi air genangan yang tidak berarti. Air yang senantiasa bergerak dan mengalir akan selalu menghsilkan energi dan ia akan selalu saling menjernihkan antara satu tetes dengan tetes lainnya.

Tentu saja jika kamu mengakui dirimu sebagai PEMUDA MUSLIM HARAPAN, bergeraklah bersama pemuda lainnya! Umat muslim yang satu dengan lainnya bagaikan suatu bangunan yang saling menguatkan. Engkau adalah batu bata peradaban yang akan membangun sebuah ISTANA PERADABAN.

Ada hal yang menarik sewaktu saya membaca blog seorang residen (dokter yang sedang menempuh pendidikan dokter spesialis). Beliau menuliskan tentang betapa sulitnya memegang prinsip kebenaran dalam lingkungan yang tidak mendukung. Walaupun hanya berawal dari bentuk kecil ketidak jujuran, (yang kemudian dianggap hal yang biasa) namun bukankan semua hal besar berasal dari hal kecil?

“ya, memang sulit pak ketika kita menjadi ikan kecil yang harus melawan arus besar di sungai” comment yang saya berikan waktu itu. Lalu beliau menjawab “satu ikan kecill memang sulit, namun jika ikan-ikan kecil itu menggabungkan kekuatannya pasti kita bisa”

Saya pun langsung teringat pada satu cuplikan film animasi “finding nemo” yang menceritakan ikan-ikan kecil dalam jaring perangkap akhirnya bisa melepaskan diri setelah mereka menggabungkan kekuatan.

Lalu bagaimana cara memulainya? Mencontek kalimat aa gym: 3M. Mulai dari diri sendir, mulai dari hal yang kecil dan mulai dari sekarang!

Gelombang besar yang berawal dari suatu titik energi ini tidak dapat kamu jalankan sendiri. Karena ia membutuhkan kumpulan energi besar dan hembusan angin bernama KOMITMEN untuk dapat menjalankannya.

PEMUDA bukanlah hanya sebagai mahasiswa. Pemuda mempunyai fungsi lebih dari hanya sekedar belajar. Ia adalah sumber energi peradaban bangsa. Kebiasaan sejak awal untuk peduli terhadap keadaan sekeliling khususnya dan keadaan umat dan bangsa ini pada umumnya akan mengasah kepekaanmu dalam mencintai bangsa ini. Semua manusia yang tercatat dalam sejarah sebagai pembangun peradaban bukanlah orang yang hanya berkutat dengan dirnya sendiri. Mereka adalah manusia-manusia yang telah melahirkan pemikiran cemerlang mengenai bangsanya.

Apakah itu kamu? Mahasiswa (yang mengaku) pemuda yang ternyata selama ini hanya berkutat di wilayah ‘aman’ 3K (Kampus, Kantin,Kos)?

Ataukah itu kamu? Pemuda harapan bangsa ini yang senantiasa ingin menberikan apa-apa yang dimiliki untuk kepentingan masyarakatnya? Bangsanya?

Study oriented HARUS bagi setiap mahasiswa (yang mengaku sebagai pemuda). Yang tidak boleh adalah study oriented only……..

Bukankah semangat belajarmu berawal dari keinginan memperoleh ridha-Nya?

So, ganti motto study oriented mu dengan Allah oriented. Dimana study oriented adalah bagian dari Allah oriented. Sepakat?

Terakhir, ketika kamu memutuskan untuk menjadi PEMUDA harapan yang ingin selalu bergerak, jangan lupa akan keseimbangan (tawadzun). Jangan menjadi aktivis dengan nilai tipis. Tawadzun antara belajar dan beraktifitas adalah tantangan yang harus kamu jalani. Allah dan segala penciptaan-Nya pun berada dalam suatu keseimbangan.

“Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang”? (QS. Al-mulk: 3)

Filed under: Uncategorized — dokterqyu @ 8:14 am

 

NIKMATNYA KULIAH  DI FK

 

Diberikan kesempatan untuk mempelajari ilmu kedokteran adalah nikmat yang besar. Sesungguhnya ini adalah kesempatan kita untuk dapat lebih mentafakkuri ciptaan-Nya, mempelajari ayat-ayat kauniyah-Nya. Apabila kita dapat melakukan semua itu dengan hati yang peka, nurani yang tajam dan kalbu yang bersih maka buahnya adalah keimanan yang bertambah! Ketika seorang dokter menyaksikan begitu sempurnanya sistem tubuh manusia, seharusnyalah keimanan-Nya bertambah. Ciptaan-Nya saja sesempurna ini, apalagi Sang Pencipta?

 

Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang. (QS.Al-Infithar:7)

 

Seorang dosen saya mengatakan “lihatlah dengan mata hati, bukan hanya dengan mata fisik”. Waktu itu beliau sedang mengajar bagaimana membaca sebuah x-foto rontgent. Memang benar, mendiagnosis penyakit dari sebuah gambaran foto rontgent pun (yang sudah ada protap dan teorinya) masih begitu sulit bagi yang belum terbiasa. Dan kemampuan ini akan meningkat seiring dengan pengalaman yang didapat. Begitu pula dengan begitu banyak tanda-tanda kebesaranNya di muka bumi ini. Bagi seseorang yang tidak terbiasa dan membiasakan diri mentadabburi ciptaan-Nya, pasti ia akan sulit memaknai setiap hal yang ia temui sebagai suatu hikmah.

 

Orang yang pintar atau berakal adalah orang yang dapat mengambil hikmah pada setiap liku hidup yang ia jalani. Hikmah bagaikan mutiara yang bertebaran di muka bumi, dan tidak semua orang dapat menemukannya. Maka, jadilah orang yang pintar! Yang selalu dapat memaknai hikmah yang ada di balik setiap peristiwa, karena tidak ada yang sia-sia dalam penciptaan-Nya.

 

Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).

(Qs.Al-Baqarah: 269)

 

Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.

(QS.Al-Baqarah:151)

 

Begitu banyaknya tanda-tanda yang telah Allah berikan di alam ini sebagai sarana bagi manusia untuk bertafakkur. Manusia seperti apa yang dapat membaca ayat-ayat kauniyah itu?

 

Tidakkah kamu memperhatikan bahwa sesungguhnya kapal itu berlayar di laut dengan nikmat Allah, supaya diperlihatkan-Nya kepadamu sebahagian dari tanda-tanda (kekuasaan)-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi semua orang yang sangat sabar lagi banyak bersyukur. (QS.Luqman:31)

 

Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda. (QS.Al-Hijr:75)

 

Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui. Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah tidurmu di waktu malam dan siang hari dan usahamu mencari sebagian dari karuniaNya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan. Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, Dia memperlihatkan kepadamu kilat untuk (menimbulkan) ketakutan dan harapan, dan Dia menurunkan hujan dari langit, lalu menghidupkan bumi dengan air itu sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mempergunakan akalnya. .(QS.Ar-Rum 21-24)

 

Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu. (QS.Alankabut: 43)

 

Hasil akhir dari suatu kepekaan hati  dalam mengamati ayat-ayat kauniyah-Nya adalah KEIMANAN dan KETUNDUKAN HATI kepada Allah SWT.

 

Dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu, meyakini bahwasanya Al Quran itulah yang hak dari Tuhan-mu lalu mereka beriman dan tunduk hati mereka kepadaNya dan sesungguhnya Allah adalah Pemberi Petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus (QS.Al-Hajj:54)

 

So.. seharusnya kita selalu meminta kepada Allah untuk senantiasa menyinari hati ini dengan cahaya-Nya, Cahaya di Atas Cahaya.

Allah (Pemberi) Cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seoerti mutiara,  yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tunbuh tidak di sebelah timur dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, ,walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah Membimbing kepada Cahaya-Nya siapa yang Dia Kehendaki, dan Allah Memperbuat perumpamaan bagi manusia, dan Allah Mengetahui segala sesuatu. (QS. An Nur:35)

Pertanyaan wajib dalam diri setiap calon maupun yang telah menjadi dokter adalah “apakah engkau merasa keimanan dan ketundukan hatimu pada Sang Khalik bertambah seiring dengan waktu yang telah kamu jalani dalam menuntut ilmu kedokteran?”

 

Atau jangan-jangan hati ini telah mengeras? Sekeras batu seprti dalam perumpamaan ayat dibawah ini:

Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras sepertti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal di antra batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sunagi daripadanya dan diantaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air daripadanya, dan di antaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. Dan allah tidak akan sekali-kali lengah dari apa ynag kamu kerjakan. (QS. Al Baqarah:74)

 

Jawaban yang murni ada di hati kita masing-masing dan ini dapat menjadi indikator apakah kita telah menjadi ORANG YANG BERAKAL seperti yang disebutkan dalam ayat-ayat diatas.

 

BERATNYA JADI ANAK FK?

Filed under: Uncategorized — dokterqyu @ 8:10 am

 

Ketika di semester 1 dulu banyak sekali dosen saya yang mengucapkan SELAMAT kepada para mahasiswa baru. “Kami tahu, kalian pasti para bintang di daerahnya masing-masing, kalian datang kesini untuk menuntut ilmu dengan membawa serta harapan yang besar dari orangtua, keluarga bahkan masyarakat, karena itu belajarlah yang baik dan jadilah dokter yang baik”. Nasihat bijak dari seorang bapak kepada anak didiknya ini begitu membekas dan seharusnya sih dapat menjadi motivasi yang besar bagi kami semua untuk dapat survive di fakultas kedokteran.

Sewaktu sang dosen memberikan pernyataan diatas, sebenarnya saya sendiri berkata dalam hati “masa sih? Pas di SMU dulu saya rankingnya diatas terus tuh…diatas rangking 10 (belasan sampai puluhan maksudnya…..hehehe). Mau tidak mau ini cukup membuat saya berpikir apakah saya dapat survive?

Seorang teman seperjuangan (yang sama-sama ingin masuk FK) di SMU dulu pernah berkata “ga perlu jenius untuk jadi dokter sar, yang penting rajin dan tekun”. Perkataannya terbukti, semua teman-teman di kampus pintar dan cerdas, namun yang membuat berbeda satu sama lain adalah ketekunannya. Teori ikhtiar menentukan prestasi terbukti disini. Lalu apakah hanya ikhtiar saja?

Anatomi, salah satu mata kuliah yang menjadi ‘momok’ ini menurut saya menjadi ‘candra dimuka’ pertama di kampus. Dengan bahan kuliah yang bejibun dan sedikit gemblengan mental dapat membentuk kepribadian BERJUANG sampai titik darah penghabisan (duh, segitunya…..). Berjuang untuk dapat menguasai pelajaran yang disampaikan, berjuang untuk fisik yang lebih kuat (karena jadwal yang sangat padat) dan berjuang melawan virus MALAS (ini yang paling berat).

Ada satu pelajaran yang penting yang tidak terlupakan. Pada ujian perdana identifikasi Anantomi saya PD abis, saya merasa usaha belajar saya sudah maksimal. Saya belajar siang malam demi anatomi dan mengikuti praktikum bebas sampai badan terasa sangat letih.

Sayang sekali…..nilai yang keluar tidak memuaskan.. (hiks)

Setelah mengintropeksi diri, saya temukan jawabnya! DOA yang kurang! Saya bangun malam untuk belajar..namun jarang sekali menyempatkan untuk Qiyamul lail (shalat malam) di 1/3 malamNya, saya mengulang semua bahan kuliah yang pernah disampaikan, namun hapalan AlQuran saya jarang sekali diulang hingga menguap entah kemana, saya sangat sering mengikuti praktikum bebas sebagai tambahan, namun shalat sunnah rawatib seringkali ketinggalan……..

Menjelang ujian identifikasi kedua, saya perbanyak doa, Qiyamul Lail tak pernah ketinggalan, tilawah sehabis shalat fardhu, dll. Namun setelah nilai keluar,

kalian tau????

JRENG….Nilai yang PERSIS SAMA (sampai titik komanya!) seperti ujian yang pertama!!! Kok bisa siih???!!!

Ternyata kali ini saya belajarnya memang kurang (gubrak banget ga sih…). Jika dibandingkan dengan persiapan ujian yang pertama, usaha belajar yang sekarang sangat jauh dibawahnya. Semangat belajar yang ada juga minim sekali (dengan alasan toh dulu belajar sampai jungkir balik juga ga ada hasilnya).

Ujian identifikasi ketiga, saya mengejar ketinggalan saya dengan proses simultan yang seharusnya saya terapkan sejak pertama kali = IKHTIAR + DOA + TAWAKKAL. Alhamdulillah akhirnya saya lulus mata kuliah Anatomi I dengan nilai yang tidak mengecawakan.

Lalu apa itu ikhtiar, doa, dan tawakkal? Gimana sih cara melaksanakannya?

IKHTIAR

Ikhtiar adalah usaha seseorang dan usaha yang benar adalah usaha yang sungguh-sungguh (jiddiyah). Usaha yang sungguh-sungguh ini ditandai dengan adanya pengorbanan (tadhiyyah). So, kalau kamu mau mengukur seberat apa sih usaha yang sudah kamu lakukan, jawabnya gampang.. sudah seberapa banyak pengorbanan yang telah kamu lakukan? Pengorbanan punya banyak jalan. Pengorbananmu bangun malam untuk shalat dan belajar, pengorbananmu untuk menahan rasa kantuk demi mengikuti pelajaran di kelas, dan banyak lagi.

(yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.

(QS.Ash-Shaff:11)

Semestinya, kesungguhan ini dilakukan dalam berbagai keadaan. Artinya kesungguhan (jiddiyah) yang dilakukan secara terus-menerus (istimrariyah), baik dalam keadaan ringan ataupun berat, keadaan lapang maupun sempit, di kala mudah maupun susah, dikala senang maupun sedih. So, belajar bukan Cuma di waktu luang aja… anggap saja belajar ketika kondisi mu lagi MALES BANGET adalah sebagai kesungguhan dan pengorbananmu ketika kamu sedang dalam keadaan berat.

Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. (QS.At taubah:41)

Kesungguhan (jiddiyah) yang disertai pengorbanan (tadhiyyah) apabila dilakukan secara berkesinambungan atau terus-menerus (istimrariyah) maka buahnya adalah KERJA yang PROFESIONAL (itqanul ‘amal) atau IKHTIAR maksimal yang bisa kamu lakukan. Ketiga elemen ini apabila dilakukan secara simultan makan akan menghasilkan suatu ENERGI besar bagi seseorang dalam berikhtiar.

Golden Triangle

KESUNGGUHAN + PENGORBANAN  + KESINAMBUNGAN

= PROFESIONALISME

Rasulullah SAW menekankan pentingnya itqanul amal atau kerja yang profesional. Dalam sebuah hadist dikatakan:

 “Sesunguhnya Allah SWT menyukai bila seseorang bekerja dengan itqan (HR.Bukhari)

Ingat!!!! yang perlu di garis bawahi adalah usaha manusia yang mendapat pahala-Nya adalah usaha yang dilakukan di jalan Allah. Yaitu ikhtiar dalam tujuan memperoleh ridha Allah semata…(masih ingat kan pembahasan kita tentang motivasi seorang muslim di bab sebelumnya). Dan Allah telah menjanjikan suatu kemenangan bagi orang-orang yang bersungguh-sungguh (jihad). Kemenangan dunia dan akhirat!!

Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.

(QS.At taubah:20)

Bentuk perjuangan yang kita bahas disini adalah menuntut ilmu, karena menuntut ilmu adalah kewajiban setiap muslim. Kesungguhanmu dalam menuntut ilmu seharusnya menjadi bentuk perjuangan di jalan Allah SWT. Selain itu, Orang yang berilmu dan majelis keilmuan sendiri mempunyai kedudukan istimewa disisi Allah SWT.

Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS.Al-Mujadilah:11)

Segala kesempatan Allah berikan kepada manusia di dunia ini bagai suatu perniagaan, Allah SWT befirman:

Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih?

(yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.

(QS.Ash-Shaf:10-11)

Ketika kita menyadari hakikat manusia sebagai khalifah, sebagai pemegang kendali dunia… maka perniagaan yang ditawarkan oleh Sang Khalik ini seharusnya dapat membuat motivasi terbesar bagi seorang (calon) dokter untuk memiliki semangat jiddiyah dalam menuntut ilmu setinggi-tingginya.
Dalam hukum perdagangan dan ekonomi dikenal teori break event point, yaitu:

Total cost = usaha  —> Hasil yang diperoleh

Teori tersebut mengatakan, hasil yang kita peroleh akan berbanding lurus dengan usaha yang kita lakukan. Jika kamu ingin hasil yang terbaik, so usaha yang kamu lakukan juga adalah usaha TERBAIK YANG DAPAT KAMU LAKUKAN.

Dan masing-masing orang memperoleh derajat-derajat (seimbang) dengan apa yang dikerjakannya. Dan Tuhanmu tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.

(QS.Al-An’am:132)

Dosen saya pernah mengatakan “bersiaplah! Kalian adalah seorang prajurit yang akan berperang melawan penyakit! Kalian harus memiliki senjata yang ampuh, dan senjata itu ada disini, di kepala kalian”

Ya memang benar! medical science is a art. Mengobati pasien yang satu dengan lainnya tidak selalu sama. Ada banyak faktor yang berpengaruh secara simultan disana. Oleh karena itu sebagai seorang dokter diperlukan kemampuan untuk mengumpulkan semua informasi, mengolahnya dan menghasilkan suatu keputusan. Karena itu ilmu yang harus dimiliki juga harus lengkap dan kompleks agar dapat menghasilkan keputusan diagnosis atau treatmen yang baik dan benar. Semakin banyak ilmu yang kita miliki maka jenis senjata yang kita miliki pun semakin canggih. Di era globalisasi seperti ini tidaklah mungkin jika kita hanya memiliki bambu runcing sebagai senjata. Karena itu berlomba-lomba lah dalam mencari ilmu setinggi-tingginya! Seperti apa yang dikatakan oleh Rasulullah SAW:

“Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina” (Muhammad SAW)

Banyaknya ilmu yang dimiliki tidak dinilai dari sebuah nilai mata kuliah. Nilai hanyalah bonus yang Allah berikan, sedangkan ‘hadiah utama” dari usaha yang telah kita lakukan adalah ILMU dan PAHALA dari Allah. Nilai bukanlah segala-galanya. Seperti filosofi :

Seseorang yang dalam melakukan segala sesuatu hanya mengharapkan ridha dan surga Allah (istilah kata menanam padi), pasti akan dapat “bonus” nikmat dunia yang bahkan tidak disangka-sangka (rumputnya).

Tapi jika yang diharapkan hanya “rumput”, yaitu nikmat dunia : nilai mata kuliah, uang, kekuasaan, dll… maka yang didapatkan hanya rumputnya. Tanpa mendapatkan “padi” yang jelas lebih tinggi harganya. Seseorang yang ikhlas menjalankan hidup ini hanya untuk Allah, maka mereka yakin dgn janji Allah “barangsiapa yg menolong agama Allah pasti Allah akan menolong dirinya”

So, mari sejak sekarang kita nanam “padi” yg jelas-jelas sudah dijanjiikan oleh Allah akan dibalas,walaupun sebesar dzarah pun!

Lalu, ketika kamu merasa telah mendapat banyak ilmu dari hasil belajar kamu…. Jangan lupa banyak bersyukur.

Dan sesungguhnya Kami telah memberi ilmu kepada Daud dan Sulaiman; dan keduanya mengucapkan: “Segala puji bagi Allah yang melebihkan kami dari kebanyakan hamba-hambanya yang beriman.” (QS.An-Naml:15).

DOA

Dan katakanlah: “Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.” (QS.Thaahaa:114)

Doa adalah bentuk ibadah ruhiyyah, dengan doa kita mampu merasakan betapa Maha Agungnya Sang Khalik, Dzat tempat berlindung bagi setiap makhluk. Setelah semua sarana dan jalan ikhtiar telah kita lakukan, maka kepada Allah lah tempat kembali segala sesuatu. Hanya Sang Pemilik alam semesta lah yang dapat mengabulkan doa hambaNya. Doa dikatakan sebagai ibadah sebab doa merupakan bentuk pemasrahan diri secara total dan bentuk pengakuan yang sempurna terhadap ubuddiyyah (penghambaan) kepada Allah. Allah menyukai hamba-Nya yang senantiasa berdoa karena itu menunjukkan tingginya iman seseorang. Bahkan, dikatakan bahwa orang yang jarang atau tidak mau berdoa adalah orang yang sombong, yang merasa bahwa ia akan dapat berjalan di muka bumi hanya dengan kakinya sendiri. Padahal ia lupa, kakii nya pun adalah ciptaan Allah, Sang Khalik!

Allah lah Yang Maha Mengetahui segala sesuatu tentang dirimu! Dia pula lah yang akan memperbaiki keadaanmu. Maka bergegaslah kepada-Nya setelah kamu berikhtiar dengan segenap kemampuan yang kamu miliki.

“Berdoalah kamu sekalian lepada Allah dan kamu sekalian yakin Allah akan mengabulkannya. Dan ketahuilah, sesungguhnya Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai dan lengah (HR.Muslim)

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya padamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu dalam kebenaran. (QS. Al-Baqarah:186)

Dari ayat diatas, doa yang dikabulkan Allah bukan doa sembarangan lho. Ada dua syarat doa akan dikabulkan oleh Allah:

  1. orang yang berdoa memenuhi segala perintah Allah (bukan orang yang lalai dan lengah), dan
  2. beriman kepada Allah

Dan kesemua itu agar mereka (orang yang berdoa) selalu dalam kebenaran

Apakah selama ini kita merasa doa-doa kita tidak dikabulkan oleh Allah? Nah, itu berarti kita lah yang harus intropeksi diri. Jangan-jangan selama ini kita hanya berdoa tapi tidak menjalankan kewajiban kita sebagai hamba-Nya? Malu dong….minta ini-itu sama Allah tapi shalatnya aja masih bolong-bolong………..

Atau jangan-jangan lagi, selama ini doa yang kita panjatkan bukanlah sesuatu yang baik untuk kita? Sesuatu yang tidak membawa kita ke jalan kebenaran? Seperti yang disebutkan ayat di atas? So, selalu berprasangka baiklah kepada Allah karena hanya Allah Yang Maha Mengetahui segala yang terbaik untuk diri kita. Oke!!

Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingatiNya. (Qs.An-Naml: 62)

TAWAKKAL

“Bertawakkallah kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai Pemelihara”

(QS.Al-Ahzab: 3)

Pernah ga kamu benar-benar merasa semua yang telah Allah berikan untuk kita itu adalah hal yang terbaik??? Bahkan yang tidak pernah terpikirkan oleh kita sebelumnya.

Atau kalimat itu Cuma jadi sekedar “kata-kata mutiara” yang sebenarnya kita sendiri ga memahami artinya….?

Tidak ada salahnya sih, kalo kita berdoa untuk minta suatu kebaikan yang spesifik misalnya “ya Allah,nilai ujianku dapet A dooong”. Atau doa yang agak aneh (beredar pas saya smu dulu) “Ya Allah jika dia jodohku maka dekatkanlah…jika dia bukan jodohku maka jodohkanlah…” (yaelah itu doa ato maksa? Hehehe)

terlepas dari “doa-doa spesifik” tadi, kadang kita lupa kalo Allah Yang paling tau “apa sih yg terbaik buat kita..”

contoh kecilnya ketika saya sediiih bgt dapet nilai anatomi II yangtidak memuaskan hati… waktu itu sih saya sih doanya minta “yang terbaik” (yah minimal B deh….hehe). Ternyata Allah tidak mengabulkan doa agar saya bisa dpt B, tapi Allah mengabulkan doa saya untuk mendapatkan yang terbaik.

Dgn nilai yang kurang memuaskan itu, saya jadi ikut semester sisipan dan akhirnya bisa dapet A. (alhamdulillah)

Bukan berarti yang terbaik itu adalah nilai yg tinggi, tapi apa yang saya dapatkan lebih dari itu… ilmu yang saya pelajari dan dapatkan lebih mendalam (lebih ngerti gitu), dan akhirnya saya dapat mengambil hikmah jika Allah belum mengabulkan doa dan keinginan kita, ada beberapa kemungkinan:

  1. hanya ditunda
  2. kita akan mendapat yang lebih baik dari yg apa yang kita minta
  3. Allah sedang menguji kita…kalo kita dapat bersabar…wow! ”hadiah”nya sangat besar bagi orang-orang yang bersabar!!!

Ketika kamu sudah yakin bahwa Allah akan memberikan yang terbaik buatmu, tidak akan lagi ada keraguan mengenai bagaimana hasil dari usaha yang telah kamu lakukan. Kamusudah usaha optimal disertai dengan doa kepada-Nya kan?

Yakinlah!

Yakinlah akan keputusan Allah dan selalu berprasangka baik lah kepada Allah, Karena Allah menuruti prasangka hamba-Nya.

“Aku dalam persangkaan hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku bersamanya disaat ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam dirinya, maka aku mengingatnya dalam diri-Ku; dan jika ia mengingat-Ku dalam suatu kumpulan, maka Aku mengingatnya dalam suatu kumpulan yang lebih baik. Dan jika Ia mendekat kepada-Ku satu jengkal, maka Aku akan mendekat kepadanya satu hasta; danjika ia mendekat kepada-Ku satu hasta, maka Aku akan mendekat kepadanya satu deopa; serta jika ia mendekatiku dengan berjalan, maka Aku mendatanginya dengan berlari. (HR.Muslim)

Filed under: Uncategorized — dokterqyu @ 7:52 am

BELAJAR DI FK

“Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain”

(Nabi Muhammad SAW)

Menjadi mahasiswa Fakultas Kedokteran mungkin bagi sebagian orang (atau keseluruhan?) adalah suatu prestise tersendiri. Lelucon beberapa orang teman maupun dosen, seorang dokter itu “tipe menantu yang dicari-cari”. Memang masyarakat sendiri menganggap profesi ini mempunyai nilai lebih. Entah lah apa nilai lebih itu, mungkin karena bisa meyembuhkan penyakit? (Astaghfirullahaladzim, hanya allah lah Maha Peneyembuh). Bagi saya pribadi, dokter hanya lah sebuah profesi. Bernilai lebih atau tidak tergantung dari manusia yang menjalankannya. Apakah dengan menjadi dokter ia dapat menjadi “sebaik-baiknya manusia?” atau malah merugikan manusia lain? Dokter juga manusia. Ia bukan manusia sempurna tanpa keasalahan sedikitpun. Ia bukan dewa, karena saya tidak percaya dewa, hanya percaya Allah SWT (hehe J)

Profesi ataupun pekerjaan apapun itu akan bernilai lebih jika dapat memberikan nilai lebih bagi orang lain, yaitu: kemanfaatan yang besar. Bahkan seorang tukang becak pun akan lebih bernilai (di mata Allah tentunya) daripada seorang dokter, pengacara, bahkan presiden yang dalam menjalankan tugasnya banyak merugikan masyarakat.

Yang jadi pertanyaan, bagaimana sih dalam menjalankan aktifitas sebagai mahasiswa FK? Mahasiswa FK (yang mengaku) muslim khususnya?

Yang saya rasakan, (walaupun belum menjalani seluruh bagian kepaniteraan senior di RS) masa kuliah pendidikan akademik maupun profesi yang saya jalani selama ini bukan hanya sebagai ‘belajar biasa’ namun banyak sekali ‘pembelajaran hidup’ yang dapat saya petik. Disini bukan hanya belajar bagaimana menjadi dokter yang bisa (membantu) mengobati penyakit. Namun bagaimana menjadi sosok seorang dokter, sebuah profesi yang akan terjun ke masyarakat. Seorang manusia yang akan mengabdikan dirinya sesuai sumpah dokter yang telah ia ikrarkan, seorang manusia sebagai hamba Allah yang akan menggunakan profesi ini sebagai ‘jalan pengabdian’ kepada-Nya.

Blog at WordPress.com.