::writing by heart::
Diberikan kesempatan oleh Allah untuk mempelajari ilmu kedokteran adalah nikmat yang besar. Sesungguhnya ini adalah kesempatan kita untuk dapat lebih mentafakkuri ciptaan-Nya, mempelajari ayat-ayat kauniyah-Nya. Apabila kita dapat melakukan semua itu dengan hati yang peka, nurani yang tajam dan kalbu yang bersih maka buahnya adalah keimanan yang bertambah! Ketika seorang dokter menyaksikan begitu sempurnanya sistem tubuh manusia, seharusnyalah keimanan-Nya bertambah.
Ciptaan-Nya saja sesempurna ini, apalagi Sang Pencipta? Sangat logis sekali khan? Tapi sayangnya tidak semua manusia menyadarinya…
Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang. (QS.Al-Infithar:7)
Hasil akhir dari suatu kepekaan hati dalam mengamati ayat-ayat kauniyah-Nya adalah KEIMANAN dan KETUNDUKAN HATI kepada Allah SWT.
Dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu, meyakini bahwasanya Al Quran itulah yang hak dari Tuhan-mu lalu mereka beriman dan tunduk hati mereka kepadaNya dan sesungguhnya Allah adalah Pemberi Petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus (QS.Al-Hajj:54)
Hal ini berkaitan erat dengan hakikat dari seorang penulis. Seorang penulis tidak hanya menulis tanpa arti. Tapi sesungguhnya ia telah melewati suatu proses menerima informasi, memadumadankan dengan informasi sebelumnya yang telah didapatkan dan dirangkum dalam suatu “buah pikiran” yang sarat akan makna.
Itu adalah suatu proses berpikir dalam otak yang jangan ditanya bagaimana kerumitannya (jangan tanya saya maksudnya…^^,).
Menjadi seorang penulis tidak hanya bagaimana menuliskan isi pikiran, tapi bagaimana isi pikiran itu dapat sampai kepada setiap yang membaca tulisannya. Sepenglihatan saya pun, potensi teman-teman sejawat saya begitu besar dalam bidang menulis. Di kampus saya saja ada beberapa orang yang kualitas tulisannya patut diacungi puluhan jempol. Sebagian memang sering menulis karya tulis ilmiah, sebagian lagi lebih memilih menuangkan segala isi pikirannya sebagai penulis lepas, baik di majalah kampus ataupun di blog pribadinya (that’s me).
Walaupun dengan isi cerita dan gaya penulisan yang berbeda-beda, ada hal yang sama dalam setiap tulisan para calon dokter penulis ini. Selain mengungkapkan kisah seputar dunia medis namun di akhir tulisan hampir selalu ada HIKMAH yang dapat dipetik dari setiap kisah yang diungkapkan. Wajar memang, karena profesi ini berhadapan dengan manusia, bukan mesin atau robot yang tidak memiliki segumpal rasa dalam jiwanya yang bernama HATI.
Seorang dosen saya mengatakan “lihatlah dengan mata hati, bukan hanya dengan mata fisik“. Waktu itu beliau sedang mengajar bagaimana membaca sebuah x-foto rontgent. Memang benar, mendiagnosis penyakit dari sebuah gambaran foto rontgent pun (yang sudah ada protap dan teorinya) masih begitu sulit bagi yang belum terbiasa. Dan kemampuan ini akan meningkat seiring dengan pengalaman yang didapat. Begitu pula dengan begitu banyak tanda-tanda kebesaranNya di muka bumi ini.
Bagi seseorang yang tidak terbiasa dan membiasakan diri mentadabburi ciptaan-Nya, pasti ia akan sulit memaknai setiap hal yang ia temui sebagai suatu hikmah. Mungkin selama ini kita ditutupi mata hatinya? (Na’udzubillah min Dzalik).
Dengan sering menulis Insya Allah, sadar ataupun tidak seseorang akan lebih sering mengasah hati dan pikirannya untuk terbiasa menangkap segala informasi dan kesemua itu berusaha disampaikan dalam bentuk tulisan. Bahkan terkadang menyampaikan isi pikiran lewat tulisan terasa lebih mudah dibandingkan lewat lisan (well, itu sih pendapat sebagian besar penulis..).
Mulailah menulis!
Memang dalam mengawali segala sesuatu akan terasa sulit. Tapi ketika sudah dimulai maka untuk melanjutkannya akan terasa lebih mudah. Seperti melakukan hal-hal yang baru. Dalam praktek, misalnya seorang ko-ass yang baru memasang infus line edisi perdana pasti akan sangat grogi, keringat mengucur dari dahi segede biji jagung, detak jantung meningkat, laju pernafasan pun meningkat..tapi begitu sudah dicoba sekali, maka justru akan tambah penasaran. Ingin mencoba lagi, lagi dan lagi. Bahkan jika sudah sangat sering melakukannya, dengan istilah “jam terbang tinggi” pastilah untuk selanjutnya memasang infus line terasa sangat mudah. Bahkan sambil merem aja bisa (yang ini hiperbol ya, jangan dicoba-coba).
Jadi, janganlah ragu..Mulailah dengan menulis hal-hal disekelilingmu, dengan mengambil hikmah disetiap likunya. Orang yang pintar atau berakal adalah orang yang dapat mengambil hikmah pada setiap liku hidup yang ia jalani. Hikmah bagaikan mutiara yang bertebaran di muka bumi, dan tidak semua orang dapat menemukannya. Maka, jadilah orang yang pintar! Yang selalu dapat memaknai hikmah yang ada di balik setiap peristiwa (bukan yang minum jamu tolak angin ya..), karena tidak ada yang sia-sia dalam penciptaan-Nya.
Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah). (Qs.Al-Baqarah: 269)
Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.(QS.Al-Baqarah:151)
Hal pertama yang akan dirasakan ketika menulis adalah sejauh mana isi dari tulisan tersebut dapat mempengaruhi hati penulis itu sendiri. Bagaimana ia dapat memahami makna dibalik tulisannya. Untuk selanjutnya tulisan tersebut dapat “mengetuk” hati orang yang membacanya adalah buah yang akan dirasakan setelahnya. Jangan berpikir “apa ya pendapat orang tentang tulisanku?” dan jangan berpikir apa yang akan kamu tulis… tulis saja apa yang kamu pikirkkan! Itu adalah saran yang paling mudah untuk dilakukan. Selanjutnya, terserah anda…Tulis saja -apapun itu- sesuai hati nuranimu.
Hal ini berlaku bagi setiap penulis, baik penulis lepas maupun penulis tulisan-tulisan ilmiah. Yang berbeda setiap penulis tersebut memakai cara penulisan yang berbeda. Namun, tujuan dan manfaat yang dibawa Insya Allah semuanya membawa kemashlahatan di masyarakat.
Ya, ummat ini masih membutuhkan para dokter muslim yang memberikan kemanfaatan yang besar bagi masyarakat. Ummat ini masih merindukan sosok yang dapat memberikan “nutrisi hati” untuk mengisi lambung jiwa yang kosong…ummat ini merindukan tabib bagi setiap hati yang resah… ummat ini membutuhkan obat bagi penyakit kronis moral yang telah sekian lama menggerogoti bangsa ini….
Ummat ini merindukan ANDA!!!! Calon Ibnu Sina baru dari Indonesia!!!!!!!
juga ditulis disini