“sekiranya pohon-pohon yang ada di bumi adalah pena dan lautan (menjadi tinta) ditambah lagi dengan tujuh lautan sesudah (kering)nya. Niscaya tidak akan habis (dituliskan) kalimat-kalimat Allah.
(QS.Luqman:27)
Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa ahli kitab bertanya kepada Rasulullah SAW tentang ruh. Pertanyaan ini dijawab oleh Nabi SAW sesuai dengan firman Allah, QS.Al-Isra:85
“..dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan hanya sedikit”
Ayat ini menegaskan bahwa ruh adalah urusan Allah, dan manusia hanya diberi ilmu hanya sedikit. Ahli kitab berkata
“Engkau menganggap bahwa kami tidak diberi ilmu kecuali sedikit, padahal kami diberi taurat. Taurat adalah hikmah. Dan barangsiapa diberi hikmah, sesungguhnya ia telah diberi kebaikan yang banyak”.
Maka turunlah ayat ini (QS.Luqman:27) sebagai penjelasan bahwa ilmu yang diberikan kepada manusia hanyalah sedikit, sedangkan ilmu Allah tidak mungkin dapat dicatat karena sangat banyak.
Hal ini dapat dirasakan oleh para dokter yang berkecimpung dalam sebuah ilmu yang bernama ilmu kedokteran. Dr.Atul Gawande dalam bukunya “KOMPLIKASI” yang fenomenal mengatakan:
“Pada akhirnya, kedokteran dalam praktik sehari-harinyalah yang paling mearik buatku — apa yang terjadi ketika kesederhanaan ilmu harus berhadapan dengan rumitnya kehidupan seseorang. Walaupun berkembang sejalan dengan kehidupan modern,tetap saja banyak yang tersembunyi dan sering disalahartikan dalam dunia kedokteran. Kita memandangnya lebih sempurna daripada kenyataannya dan sekaligus melihatnya tidak sehebat yang diharapkan.
Memang, semakin manusia menyelami lautan ilmu yang begitu luasnya maka ia akan menyadari bahwa ilmu yang ia ketahui hanyalah setitik saja. Begitu juga dengan ilmu kedokteran yang selama ini dipandang sebagai ilmu logis yang terus berkembang sesuai kemajuan zaman. Yang harus terpatri dalam pikiran kita adalah bahwa Allah telah menganugerahkan ilmu ini sebagai ayat-ayat kauniyah Nya yang seharusnya selalu kita renungkan. Kalau selama berkecimpung dalam ayat-ayat kauniyahNya tapi sampai sekarang tidak menyadari akan kebesaran-Nya???
Yah itu saya sih no comment aja… mungkin asahan pisau mata hatinya lagi hilang….
Ayat-ayat-Nya
Dilihat dari jalan untuk mendapatkannya, ilmu Allah dapat diketahui dengan dua cara:
- khusus, diperoleh melalui jalur formal melalui wahyu yang disampaikan lewat para nabi dan rasulNya. Ilmu ini disebut ayat Qauliyah.
- umum, diperoleh melalui jalur non formal yang Allah berikan melalui ilham. Ilmu yang didapat tidak hanya melalui wahyu tapi melalui ilham, disebut ayat kauniyah. Allah memberikan ilmu ini kepada orang-orang yang diberi INSPIRASI. Inspirsi ini dalam bahasa arab disebut ilham.
Ada sinergi yang sangat baik antara ayat qauliyah dan ayat kauniyah, karena keduanya berasal dari sumber yang satu dan merupakan tanda-tanda kekuasaanNya. Ayat-ayat kauniyah memberikan isyarat kepada para ulama dan ilmuwan untuk melakukan kajian dan penelitian terhadap fenomena alam, hasilnya merupakan bukti kebenaran ayat qauliyah.
Wahyu datang dari Allah Yang Maha Mengetahui maka seharusnya manusia menjadikan wahyu sebagai pedoman hidup sebab kebenarannya adalah mutlak. Akan tetapi ilham (penemuan2 ilmiah) tidak dapat dijadikan pedoman hidup karena kebenarannya tidak mutlak. Kebenaran ilmiah adalah eksperimental yang kadang terbukti sesuai wahyu namun kadang terbukti sebaliknya.
Ketika ada bukti ilmiah yan berbeturan dengan ayat Qauliyah dalam AlQuran, maka ada 2 kemungkinan:
1. bukti ilmiah yang masih ada kesalahan
2. manusia belum dapat memahamai makna ayat AlQuran yang tersirat.
Kebenaran sains dan kemajuan teknologi dapat digunakan untuk sarana kehidupan, dalam rangka melaksanakan tugas memakmurkan bumi. Namun tetap harus diperhatikan batas-batas syar’i yang terdapat dalam ayat-ayat Qauliyah. Penggunaan sains yang tidak mengindahkan batas-batas wahyu dapat menimbulkan dampak negatif terhadap manusia dan alam itu sendiri. Bila ini terjadi tentu bukan kemaslahatan yang didapat, sebaliknya kehancuran. Karena kehancuran itu datang dari tangan manusia sendiri.
Adalah suatu kewajiban bagi setiap muslim untuk menggali ilmu dalam ayat-ayat qauliyah dan ayat-ayat kauniyah. Karena ayat kauniyah ini adalah sarana kita untuk menjalankan fungsi sebagai khalifah yang memakmurkan bumi ini. sepakat?
MEMPELAJARI KEDOKTERAN SEBAGAI “FARDH KIFAYA”
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik”. ( 3:110)
Dalam Islam telah dijelaskan tegas bahwa kewajiban dalam melakukan tugas/pekerjaan dapat dibedakan dalam dua hal, yaitu: “ Fardh Ain” dan “ Fardh Kifaya”.
1. “Fardh Ain” merupakan kewajiban dalam melaksanakan tugas/perintah setelah di Baligh. Tugas ini menjadi batas yang minimum sebatas bagi individu untuk menghindari dosa.
2. “Fardh Kifaya” dimaksudkan untuk memastikan bahwa suatu kewajiban/tugas tertentu telah ditetapkan demi kepentingan bersama. Perlu beberapa orang untuk melaksanakan tugas itu. Tetapi apabila tidak ada orang yang mengerjakan itu, maka keseluruhan masyarakat tersebut dianggap berdosa.
Dalam konsep “Fardh Kifaya”, telah jelas ditunjukkan bahwa setiap orang wajib untuk memberikan sumbangsih terhadap kepentingan umum sesuai dengan bidang-nya masing-masing. Hal tersbut telah dijelaskan dalam Al-qur’an bahwa sesunggunhnya Allah memberikan sesuatu sesuai dengan kesanggupan kita.
“Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh, Kami tidak memikulkan kewajiban kepada diri seseorang melainkan sekedar kesanggupannya, mereka itulah penghuni-penghuni surga; mereka kekal di dalamnya.” ( 7:42)
Kesemua itu merupakan ujian yang Allah berikan untuk manusia
“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun” ( 67:2).
Manfaat yang dapat diperoleh dari “Fardh Kifaya” adalah lebih luas dibandingkan :Fardh ‘Ain”. “Fardh Kifaya” akan menghindari dosa dan bersifat publik untuk kepentingan bersama. Yang termasuk dalam “Fardh Kifaya adalah tiap-tiap pengetahuan yang dibutuhkan dalam setiap kehidupan,jadi tidak terbatas pada ilmu-ilmu tertentu saja.
Dalam sebuah hadist Rasulullah SAW juga menyatakan bahwa:
Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang banyak (HR.Bukhari-Muslim)
So…dari keterangan diatas dapat digambarkan betapa mulianya profesi yang mengandung kemaslahatan bagi orang banyak. Jalan menuju pintu kebaikan terbuka lebar. Namun tak dapat dipungkiri, penyelewengan pun dapat terjadi di jalan ini. semua kembali kepada manusia yang menjalankan… mau pilih jalan yang mana???
Seperti nasihat seorang ustadz:
Menjadi seorang dokter bagai berada di dua jalan. Melangkah sedikit ke kanan akan masuk surga, melangkah sedikit ke kiri akan masuk neraka.
Ya memang, karena terkadang batas diantara kedua jalan itu begitu tipis. Antara menolong dan pikiran lain yang terbersit bisa menjadi suatu perdebatan batin yang hebat.
Sekali lagi..manusia lah yang memilih jalan mana yang akan ia ditempuh…..
Medical science is a art
Mengobati pasien yang satu dengan lainnya tidak selalu sama. Ada banyak faktor yang berpengaruh secara simultan disana.Setiap informasi yang didapat (knowledge) harus diolah dan dianalisa menghasilkan suatu keputusan dalam diagnosis maupun treatment. Ilmu “mengolah” inilah yang disebut-sebut sebagai seni dalam ilmu kedokteran.
Bagaikan seorang pemusik yang memadupadankan nada-nada untuk dijadikan senandung indah. Bagaikan seorang pujangga yang melahirkan sajak indah, seorang dokter juga harus dapat mendeskripsikn suatu penyakit. Baik mendeskripsikan menjadi suatu bentuk kesimpulan diagnosis dan tretment maupun mendeskripsikan segala masalah medis kepada pasien. Ia dituntut bagaimana bisa menyampaikan suatu proses di dalam tubuh yang begitu rumit menjadi suatu bahasa yang bisa dimengerti pasien ataupun keluarga pasien. Sulit memang (banget..) dengan banyaknya kemungkinan yang dapat terjadi pada suatu penyakit (harus diingat setiap individu memiliki proses yang berbeda dalam tubuhnya) seorang dokter juga dituntut untuk dapat menjelaskan secara simpel dan jelas.
“berbahasalah dengan bahasa kaummu”
Apa yang disebutkan oleh Rasulullah SAW ini juga dikatakan sebagai cara komunikasi efektif di bidang ilmu psikologi.
Apalagi yang disebut sebagai edukasi pasien ataupun untuk anamnesis (mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada pasien untuk penegakan diagnosis) seorang dokter harus berbahasa dengan bahasa pasien. Bahkan di CM (catatan medik) atau laporan kasus pun jika menulis hasil anamnesis tidak boleh memakai bahasa kedokteran!
So, para dokter itu dituntut untuk dapat menyesuakan diri dengan pasien dan keluarganya. Pasti akan berbeda edukasi yang diberikan baik dalam hal bahasa maupun muatan bagi pasien yang derajat pendidikan rendah dan yang tinggi. Pasien yang SD aja ga lulus akan sangat puas diberi penjelasan sederhana tanpa harus banyak dijelaskan tentang patogenesis (proses terjadinya penyakit). Tapi untuk pasien-pasien yang pendidikan tinggi pasti baru puas jika sudah dijelaskan lengkap dan detail.
Sekarang masyarakat Indonesia sudah semakin berpendidikan dan sebagian ada yang trauma dengan banyaknya kasus malpraktek. Sehingga tuntutan seorang dokter dalam hal seni berkomunikasi semakin meningkat. Segala hal yang berhubungan dengan diagnosis dan pengobatan yang dilakukan harus dapat dijelaskan dengan lugas. Segala resiko dan komplikasi yang dapat terjadi juga harus dijelaskan terlebih dahulu. Hal inilah yang membutuhkan komunikasi timbal balik yang baik antara dokter dan pasien. Kepercayaan dan kejujuran adalah hal dominan yang dibutuhkan keduanya. Dengan kepercayaan, kejujuran akan tercipta. Sulit juga ketika sang pasien tidak jujur dengan riwayat penyakit yang dideritanya, seorang dokter diharuskan membuat keputusan diagnosis dengan informasi yang terbatas.
Begitu juga pasien akan sulit menerima kenyataan bila sang dokter hanya memberikan informasi minimal tentang penyakit yang dideritanya. Pasti rasanya tidak enak bukan?
Kata-kata yang tepat seorang dokter kepada pasiennya adalah:
Please help me to help you
Untuk menolong pasiennya, pasien itu sendiri harus dapat menolong dokter untuk memudahkan sang dokter membuat diagnosis dan rencana pengobatan.
Bagi para pasien atau keluarga pasien, jika ada hal-hal yang tidak jelas JANGAN MALU-MALU untuk bertanya kepada dokter! JANGAN TAKUT merasa pertanyaan-pertanyaan itu dianggap BODOH oleh dokter! Kadang-kadang justru pertanyaan-pertanyaan yang terlihat bodohlah yang sulit untuk dijawab. hehe…
Seperti kata pepatah: Malu bertanya sesat di jalan….
Asalkan jangan bertanya pertanyaan yang sama berulang-ulang…kan bikin: cappe deh….
Yang pasti edukasi itu haknya pasien dan kewajibannya dokter!