muslim doctor’s site

February 9, 2008

IPK ku , OH NO!!!

Filed under: Uncategorized — dokterqyu @ 2:42 pm

Cerita seorang mahasiswa di akhir semester awal….

Rasanya bumi mau terbelah, gunung bergoncang dan lumpur meluap-luap..bahkan segala bencana alam yang akhir-akhir ini terjadi di Indonesia tak bisa cukup menggambarkan rasa hati yang “nyesek abis” sewaktu melihat nilai IPK yang nongkrong manis di layar komputer berjudul KHS (kartu hasil studi). Apalagi kalau bayangan wajah itu muncul satu persatu…. ibu, papak, kakak, adik, nenek, kakek beserta tetangga-tetangga yang dulu ikut memanjatkan doa di sela-sela kepergian menuju kampus tercinta ….

Hue…rasanya ingin kembali ke masa sebelum ujian, ke masa kuliah di kelas…

ketika dosen mengajar di kelas…eh, malah tidur nyenyak di kursi belakang.

Sewaktu (harusnya) belajar serius mendengarkan dosen, malahan ngurusin organisasi….

di sela-sela kegiatan organisasi malah pake alasan mau belajar dan izin tidak rapat,

di waktu pulang ke kamar tercinta malah langsung tidur “terinhalasi” bau bantal yang seakan-akan mengumbarkan aroma halothan….

Tidak sedikit lho yang mengalami kebimbangan seperti diatas. Perlu diintropeksi jangan-jangan selama ini kita telah berlaku tidak adil terhadap diri sendiri. Menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya. Waktu belajar digunakan untuk tidur, waktu organisasi digunakan untuk (alasan) belajar, waktu tidur….teteeep digunakan untuk tidur..hehe..

Tentang IPK, memang bukan segala-galanya kok. Malah tidak terbukti kalau dokter yang pasiennya laris manis adalah mahasiswa yang dulunya meraih IPK tinggi.

IPK bukan segalanya, tapi segalanya bisa berawal dari IPK.

Gara-gara IPK jeblok tidak bisa lulus tepat waktu, terus mengulang banyak mata kuliah, SPP harus menambah beberapa semester, belum lagi dipotong uang bulanannya sama bokap.. hancur deh segalanya..hiks…

Anggap saja IPK sebagai buah dari ilmu yg sudah didapatkan. Ilmu kedokteran adalah SENI, karena dokter dituntut untuk bisa menghadapi segala kondisi dengan dasar knowledge yang dimiliki. Sehingga keputusan yang diambil merupakan hasil olah informasi yg sudah kita miliki sebelumnya, istilah kerennya prior knowledge dan itu bukan hal yg statis.

Menjadi dokter yang disenangi pasien ataupun tidak, tergantung keahlian dan “seni menghadapi manusia” yang tidak ada di kuliah kedokteran.

Tapi Bukan berarti IPK tidak penting.. Karena itu adalah penilaian terhadap knowledge.

Banyaknya ilmu yang dimiliki tidak dapat hanya ditentukan dari sebuah nilai mata kuliah. Nilai hanyalah bonus yang Allah berikan, sedangkan ‘hadiah utama” dari usaha yang telah kita lakukan adalah ILMU dan PAHALA dari Allah.

Seperti filosofi :

Seseorang yang dalam melakukan segala sesuatu hanya mengharapkan ridha dan surga Allah (istilah kata menanam padi), pasti akan dapat “bonus” nikmat dunia yang bahkan tidak disangka-sangka (rumputnya).

Tapi jika yang diharapkan hanya “rumput”, yaitu nikmat dunia : nilai mata kuliah, uang, kekuasaan, dll… maka yang didapatkan hanya rumputnya. Tanpa mendapatkan “padi” yang jelas lebih tinggi harganya. Seseorang yang ikhlas menjalankan hidup ini hanya untuk Allah, maka mereka yakin dgn janji Allah “barangsiapa yg menolong agama Allah pasti Allah akan menolong dirinya”

Inilah yang menjawab kenapa banyak manusia di dunia ini yang tetap mendapatkan begitu banyak nikmat duniawi dengan segala kerja keras yang ia lakukan. Tenang saja, mereka Cuma mendapat rumput doang kok.

Bagi kamu-kamu yang berjuang keras dalam upaya untuk memperoleh ridhaNya Insya Allah yang akan kamu dapatkan adalah PADI yang begitu bernilai.

So, mari sejak sekarang kita dendangkan lagu “menanam padi” (bukan lagu menanam jagung ya..) yang jelas-jelas sudah dijanjikan oleh Allah akan dibalas,walaupun sebesar dzarah pun!

Dan ilmu padi ini harus terus dilanjutkan. Ketika ilmu yang ada sudah semakin banyak, tetaplah rendah hati. Karena hanya Allah yang mempunyai ilmu Maha Luas. Bukan manusia!!

alu, ketika kamu merasa telah mendapat banyak ilmu dari hasil belajar kamu…. Jangan lupa banyak bersyukur.

Dan sesungguhnya Kami telah memberi ilmu kepada Daud dan Sulaiman; dan keduanya mengucapkan: “Segala puji bagi Allah yang melebihkan kami dari kebanyakan hamba-hambanya yang beriman.” (QS.An-Naml:15).

medical science is…..

Filed under: Uncategorized — dokterqyu @ 2:39 pm
“sekiranya pohon-pohon yang ada di bumi adalah pena dan lautan (menjadi tinta) ditambah lagi dengan tujuh lautan sesudah (kering)nya. Niscaya tidak akan habis (dituliskan) kalimat-kalimat Allah.

(QS.Luqman:27)

Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa ahli kitab bertanya kepada Rasulullah SAW tentang ruh. Pertanyaan ini dijawab oleh Nabi SAW sesuai dengan firman Allah, QS.Al-Isra:85

“..dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan hanya sedikit”

Ayat ini menegaskan bahwa ruh adalah urusan Allah, dan manusia hanya diberi ilmu hanya sedikit. Ahli kitab berkata

“Engkau menganggap bahwa kami tidak diberi ilmu kecuali sedikit, padahal kami diberi taurat. Taurat adalah hikmah. Dan barangsiapa diberi hikmah, sesungguhnya ia telah diberi kebaikan yang banyak”.

Maka turunlah ayat ini (QS.Luqman:27) sebagai penjelasan bahwa ilmu yang diberikan kepada manusia hanyalah sedikit, sedangkan ilmu Allah tidak mungkin dapat dicatat karena sangat banyak.

Hal ini dapat dirasakan oleh para dokter yang berkecimpung dalam sebuah ilmu yang bernama ilmu kedokteran. Dr.Atul Gawande dalam bukunya “KOMPLIKASI” yang fenomenal mengatakan:

“Pada akhirnya, kedokteran dalam praktik sehari-harinyalah yang paling mearik buatku — apa yang terjadi ketika kesederhanaan ilmu harus berhadapan dengan rumitnya kehidupan seseorang. Walaupun berkembang sejalan dengan kehidupan modern,tetap saja banyak yang tersembunyi dan sering disalahartikan dalam dunia kedokteran. Kita memandangnya lebih sempurna daripada kenyataannya dan sekaligus melihatnya tidak sehebat yang diharapkan.

Memang, semakin manusia menyelami lautan ilmu yang begitu luasnya maka ia akan menyadari bahwa ilmu yang ia ketahui hanyalah setitik saja. Begitu juga dengan ilmu kedokteran yang selama  ini dipandang sebagai ilmu logis yang terus berkembang sesuai kemajuan zaman. Yang harus terpatri dalam pikiran kita adalah bahwa Allah telah menganugerahkan ilmu ini sebagai ayat-ayat kauniyah Nya yang seharusnya selalu kita renungkan. Kalau selama berkecimpung dalam ayat-ayat kauniyahNya tapi sampai sekarang tidak menyadari akan kebesaran-Nya???

Yah itu saya sih no comment aja… mungkin asahan pisau mata hatinya lagi hilang….

 
Ayat-ayat-Nya
Dilihat dari jalan untuk mendapatkannya, ilmu Allah dapat diketahui dengan dua cara:

  • khusus, diperoleh melalui jalur formal melalui wahyu yang disampaikan lewat para nabi dan rasulNya. Ilmu ini disebut ayat Qauliyah.
  • umum, diperoleh melalui jalur non formal yang Allah berikan melalui ilham. Ilmu yang didapat tidak hanya melalui wahyu tapi melalui ilham, disebut ayat kauniyah. Allah memberikan ilmu ini kepada orang-orang yang diberi INSPIRASI. Inspirsi ini dalam bahasa arab disebut ilham.

 Ada sinergi yang sangat baik antara ayat qauliyah dan ayat kauniyah, karena keduanya berasal dari sumber yang satu dan merupakan tanda-tanda kekuasaanNya. Ayat-ayat kauniyah memberikan isyarat kepada para ulama dan ilmuwan untuk melakukan kajian dan penelitian terhadap fenomena alam, hasilnya merupakan bukti kebenaran ayat qauliyah.

Wahyu datang dari Allah Yang Maha Mengetahui maka seharusnya manusia menjadikan wahyu sebagai pedoman hidup sebab kebenarannya adalah mutlak. Akan tetapi ilham (penemuan2 ilmiah) tidak dapat dijadikan pedoman hidup karena kebenarannya tidak mutlak. Kebenaran ilmiah adalah eksperimental yang kadang terbukti sesuai wahyu namun kadang terbukti sebaliknya.

Ketika ada bukti ilmiah yan berbeturan dengan ayat Qauliyah dalam AlQuran, maka ada 2 kemungkinan:

1.       bukti ilmiah yang masih ada kesalahan

2.       manusia belum dapat memahamai makna ayat AlQuran yang tersirat.

Kebenaran sains dan kemajuan teknologi dapat digunakan untuk sarana kehidupan, dalam rangka melaksanakan tugas memakmurkan bumi. Namun tetap harus diperhatikan batas-batas syar’i yang terdapat  dalam ayat-ayat Qauliyah. Penggunaan sains yang tidak mengindahkan batas-batas wahyu dapat menimbulkan dampak negatif terhadap manusia dan alam itu sendiri. Bila ini terjadi tentu bukan kemaslahatan yang didapat, sebaliknya kehancuran. Karena kehancuran itu datang dari tangan manusia sendiri.

Adalah suatu kewajiban bagi setiap muslim untuk menggali ilmu dalam ayat-ayat qauliyah dan ayat-ayat kauniyah. Karena ayat kauniyah ini adalah sarana kita untuk menjalankan fungsi sebagai khalifah yang memakmurkan bumi ini. sepakat?

 

 MEMPELAJARI KEDOKTERAN SEBAGAI “FARDH KIFAYA”

 “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh ke­pada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik”. ( 3:110)

 Dalam Islam telah dijelaskan tegas bahwa kewajiban dalam melakukan tugas/pe­kerjaan dapat dibedakan dalam dua hal, yaitu: “ Fardh Ain” dan “ Fardh Kifaya”.

 1. “Fardh Ain” merupakan kewajiban dalam melaksanakan tugas/perintah setelah di Baligh. Tugas ini menjadi batas yang minimum sebatas bagi individu un­tuk menghindari dosa.

 2. “Fardh Kifaya” dimaksudkan untuk me­mastikan bahwa suatu kewajiban/tugas tertentu telah ditetapkan demi kepentin­gan bersama. Perlu beberapa orang un­tuk melaksanakan tugas itu. Tetapi apabi­la tidak ada orang yang mengerjakan itu, maka keseluruhan masyarakat tersebut dianggap berdosa.

 Dalam konsep “Fardh Kifaya”, telah jelas ditunjukkan bahwa setiap orang wajib untuk memberikan sumbangsih terha­dap kepentingan umum sesuai dengan bidang-nya masing-masing. Hal tersbut telah dijelaskan dalam Al-qur’an bahwa sesunggunhnya Allah memberikan ses­uatu sesuai dengan kesanggupan kita.

 
“Dan orang-orang yang beriman dan menger­jakan amal-amal yang saleh, Kami tidak memikulkan kewajiban kepada diri seseorang melainkan sekedar kesanggupannya, mereka itulah penghuni-penghuni surga; mereka kekal di dalamnya.” ( 7:42)

 Kesemua itu merupakan ujian yang Allah berikan untuk manusia

 “Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun” ( 67:2).

 Manfaat yang dapat diperoleh dari “Fardh Kifaya” adalah lebih luas dibandingkan :Fardh ‘Ain”. “Fardh Kifaya” akan menghindari dosa dan bersifat publik untuk kepent­ingan bersama. Yang termasuk dalam “Fardh Kifaya adalah tiap-tiap pengetahuan yang dibutuhkan dalam setiap kehidupan,jadi tidak terbatas pada ilmu-ilmu tertentu saja.

 Dalam sebuah hadist Rasulullah SAW juga menyatakan bahwa:

Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang banyak (HR.Bukhari-Muslim)

 So…dari keterangan diatas dapat digambarkan betapa mulianya profesi yang mengandung kemaslahatan bagi orang banyak. Jalan menuju pintu kebaikan terbuka lebar. Namun tak dapat dipungkiri, penyelewengan pun dapat terjadi di jalan ini. semua kembali kepada manusia yang menjalankan… mau pilih jalan yang mana???

 Seperti nasihat seorang ustadz:

Menjadi seorang dokter bagai berada di dua jalan. Melangkah sedikit ke kanan akan masuk surga, melangkah sedikit ke kiri akan masuk neraka.

 Ya memang, karena terkadang batas diantara kedua jalan itu begitu tipis. Antara menolong dan pikiran lain yang terbersit bisa menjadi suatu perdebatan batin yang hebat.

Sekali lagi..manusia lah yang memilih jalan mana yang akan ia ditempuh…..

 

Medical science is a art

Mengobati pasien yang satu dengan lainnya tidak selalu sama. Ada banyak faktor yang berpengaruh secara simultan disana.Setiap informasi yang didapat (knowledge) harus diolah dan dianalisa menghasilkan suatu keputusan dalam diagnosis maupun treatment. Ilmu “mengolah” inilah yang disebut-sebut sebagai seni dalam ilmu kedokteran.

Bagaikan seorang pemusik yang memadupadankan nada-nada untuk dijadikan senandung indah. Bagaikan seorang pujangga yang melahirkan sajak indah, seorang dokter juga harus dapat mendeskripsikn suatu penyakit. Baik mendeskripsikan menjadi suatu bentuk kesimpulan diagnosis dan tretment maupun mendeskripsikan segala masalah medis kepada pasien. Ia dituntut bagaimana bisa menyampaikan suatu proses di dalam tubuh yang begitu rumit menjadi suatu bahasa yang bisa dimengerti pasien ataupun keluarga pasien. Sulit memang (banget..) dengan banyaknya kemungkinan yang dapat terjadi pada suatu penyakit (harus diingat setiap individu memiliki proses yang berbeda dalam tubuhnya) seorang dokter juga dituntut untuk dapat menjelaskan secara simpel dan jelas.

berbahasalah dengan bahasa kaummu”

Apa yang disebutkan oleh Rasulullah SAW ini juga dikatakan sebagai cara komunikasi efektif di bidang ilmu psikologi.

Apalagi yang disebut sebagai edukasi pasien ataupun untuk anamnesis (mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada pasien untuk penegakan diagnosis) seorang dokter harus berbahasa dengan bahasa pasien. Bahkan di CM (catatan medik) atau laporan kasus pun jika menulis hasil anamnesis tidak  boleh memakai bahasa kedokteran!

So, para dokter itu dituntut untuk dapat menyesuakan diri dengan pasien dan keluarganya. Pasti akan berbeda edukasi yang diberikan baik dalam hal bahasa maupun muatan bagi pasien yang derajat pendidikan rendah dan yang tinggi. Pasien yang SD aja ga lulus akan sangat puas diberi penjelasan sederhana tanpa harus banyak dijelaskan tentang patogenesis (proses terjadinya penyakit). Tapi untuk pasien-pasien yang pendidikan tinggi pasti baru puas jika sudah dijelaskan lengkap dan detail.

Sekarang masyarakat Indonesia sudah semakin berpendidikan dan sebagian ada yang trauma dengan banyaknya kasus malpraktek. Sehingga tuntutan seorang dokter dalam hal seni berkomunikasi semakin meningkat. Segala hal yang berhubungan dengan diagnosis dan pengobatan yang dilakukan harus dapat dijelaskan dengan lugas. Segala resiko dan komplikasi yang dapat terjadi juga harus dijelaskan terlebih dahulu. Hal inilah yang membutuhkan komunikasi timbal balik yang baik antara dokter dan pasien. Kepercayaan dan kejujuran adalah hal dominan yang dibutuhkan keduanya. Dengan kepercayaan, kejujuran akan tercipta. Sulit juga ketika sang pasien tidak jujur dengan riwayat penyakit yang dideritanya, seorang dokter diharuskan membuat keputusan diagnosis dengan informasi yang terbatas.

Begitu juga pasien akan sulit menerima kenyataan bila sang dokter hanya memberikan informasi minimal tentang penyakit yang dideritanya. Pasti rasanya tidak enak bukan?

Kata-kata yang tepat seorang dokter kepada pasiennya adalah:

Please help me to help you

Untuk menolong pasiennya, pasien itu sendiri harus dapat menolong dokter untuk memudahkan sang dokter membuat diagnosis dan rencana pengobatan.

 

Bagi  para pasien atau keluarga pasien, jika ada hal-hal yang tidak jelas JANGAN MALU-MALU untuk bertanya kepada dokter! JANGAN TAKUT merasa pertanyaan-pertanyaan  itu dianggap BODOH oleh dokter! Kadang-kadang justru pertanyaan-pertanyaan yang terlihat bodohlah yang sulit untuk dijawab. hehe…

Seperti kata pepatah: Malu bertanya sesat di jalan….

 

Asalkan jangan bertanya pertanyaan yang sama berulang-ulang…kan bikin: cappe deh….

Yang pasti edukasi itu haknya pasien dan kewajibannya dokter!


 

Hidup Ga Seru Tanpa Tantangan

Filed under: Uncategorized — dokterqyu @ 2:35 pm

Hidup adalah ujian. Mungkin kalimat ini sering kita dengar, namun sangat jarang untuk kita resapi maknanya. Ujian dan tantangan dalam kehidupan adalah cara Alllah untuk “menyeleksi” hamba-hambaNya.

 Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan, sedang Allah belum mengetahui (dalam kenyataan) orang-orang yang berjihad di antara kamu dan tidak mengambil menjadi teman yang setia selain Allah, RasulNya dan orang-orang yang beriman. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS.At-Taubah:16)

 Seseorang yang diberi tantangan dan ujian dalam kehidupannya adalah untuk membersihkan jiwa manusia itu sendiri. Agar manusia kembali ke jalan Allah dan bertaubat.

 Dan sesungguhnya Kami telah menguji Sulaiman dan Kami jadikan (dia) tergeletak di atas kursinya sebagai tubuh (yang lemah karena sakit), kemudian ia bertaubat. (QS.Shaad:34.)

 Janganlah kita menjadi orang-orang yang tidak peka terhadap ujian Allah seperti yang dicontohkan dalam ayat dibawah ini:

 Dan tidaklah mereka (orang-orang munafik) memperhatikan bahwa mereka diuji[667] sekali atau dua kali setiap tahun, dan mereka tidak (juga) bertaubat dan tidak (pula) mengambil pelajaran? (QS.At-Taubah: 126)

 
Ujian datang dalam berbagai bentuk. Kesenangan dan kesedihan adalah ujian. Jadi bukan berarti ujian adalah hal yang tidak enak saja. Kemiskinan dan kekayaan adalah ujian, kegagalan dan keberhasilan adalah ujian. Ujian yang menunjukkan bagaimana sikap kita ketika menerima takdirNya. Apakah menggerutu? Menjadi ujub? Apakah dengan ujian tersebut keimanan bertambah? Atau malah sebaliknya?

 Maka apabila manusia ditimpa bahaya ia menyeru Kami, kemudian apabila Kami berikan kepadanya nikmat dari Kami ia berkata: “Sesungguhnya aku diberi nikmat itu hanyalah karena kepintaranku.” Sebenarnya itu adalah ujian, tetapi kebanyakan mereka itu tidak mengetahui. (Qs.Az-Zumar: 49.)

 
Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: “Tuhanku telah memuliakanku.” 16. Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rizkinya maka dia berkata: “Tuhanku menghinakanku”

(QS.Al-Fajr:15-16)

Aktifitas di RS terkadang memang memeras tenaga yang lebih. Dan ketika profesi ini -mau tidak mau- harus berhadapan dengan orang banyak, dengan berbagai kondisi, maka stressor yang datang juga akan lebih beragam. Ketika menghadapi pasien dan keluarga pasien yang membutuhkan perhatian lebih (well, namanya orang sakit kan butuh perhatian lebih, dan keluaga mereka membutuhkan penjelasan yang memuaskan), ketika menghadapi teman sejawat (yang sama-sama lagi capek), dan ketika menghadapi dokter supervisor (ini yang paling bikin deg-deg-serr).

Raga yang lelah mungkin bisa diobati dengan beristirahat sejenak. Meluruskan punggung, menggeliat sebentar dan akan tambah nikmat bila bisa tidur melepas lelah. Namun terkadang tidak hanya raga yang letih, jiwa ini pun ikut letih. Letih akan segala ujian dan tantangan yang dihadapi. Apalagi ketika raga terasa lelah, jiwa akan lebih sensitif. Orang yang sedang capek tentunya lazim dikatakan lebih mudah marah bukan?

 Segala yang kita hadapi dalam kehidupan adalah ujian yang Allah berikan. Apakah kemudian kita dapat memetik hikmah di setiap likunya, atau semua itu lewat begitu saja tanpa meninggalkan bekas dan jejak sedikitpun di hati kita?

Terkadang raga ini letih melalui semuanya…

Terkadang perasaan lelah membuncah akan segala hal yang terjadi di hadapan kita…

Dan hanyalah jiwa yang dapat menyirami bunga raga untuk tidak layu dan tetap merekah…

Indah…

Pasien bertato itu…

Filed under: Uncategorized — dokterqyu @ 2:33 pm

“melaporkan pasien dengan gross hematuri et causa suspek carcinoma buli” seorang residen melaporkan status pasien saat visite (kunjungan dokter). Dokter spesialis urologi menanyakan kepada residen beberapa hal penting terkait kondisi umum, hasil laboratorium dan pemeriksaan penunjang lainnya. Tepat disamping tempat tidur pasien, kami, para ko-ass; residen; dan dokter spesialis menbahas hal-hal terkait diagnosis, terapi dan prognosis sang pasien. Hal-hal yang oleh pasien sendiri tak mengerti “bahasa planet” apa yang kami ucapkan.

bagaimana keadaannya hari ini, pak?”

“baik…tapi kok ya belum sembuh-sembuh ya pak…?” pasien dengan badan penuh tato itu mengeluh pendek..

:”yang sabar ya pak, pengobatannya memang tidak bisa langsung sembuh…”

“dek, ini pasienmu tho…? Nanti diedukasi ya” bisik seorang residen, menandakan aku harus mengedukasi pasien ini nanti terkait penyakitnya. Karena memang visite dokter spesialis tidak dapat meluangkan waktu yang cukup banyak untuk mengedukasi pasien secara menyeluruh. Ada banyak pasien, dan banyak program operasi yang harus dilakukan hari ini.

 “pak, bapak sudah tau penyakitnya apa?” tanyaku pada si bapak bertato setelah kegiatan visite selesai.

katanya tumor ya mbak?” tanyanya pilu. Gurat kesedihan tampak bertumpuk dengan keningnya yang berkerut berlipat.

Aku berusaha menjelaskan sebisaku, menunjukkan hasil USG, menjelaskan dengan bahasa semudah mungkin mengenai gambaran hiperekoik berwarna putih di kandung kemihnya. Hasil pemeriksaan sitologi urin untuk melihat sel tumor belum keluar hasilnya. Artinya kami -para dokter- harus menunggu hasil laboratorium tersebut untuk kemudian memutuskan terapi apa yang akan dilakukan.

mbak, nanti kalo saya di operasi. Mbak ikut?”

“ya mungkin, kalau memang saya masih di bagian urologi” kataku dengan penuh ketidakpastian, karena toh aku cuma seminggu di sub bagian ini.

mbak tolongin saya, saya pengen sembuh”

“pak..yang menyembuhkan itu Allah. Kami hanya berusaha membantu sebisa kami. Bapak juga harus banyak berdoa sama Allah” kataku yakin bahwa si bapak adalah muslim setelah sebelumnya mengecek status di rekam mediknya.

ya mbak, saya selalu minta sama Allah. Diberi kesembuhan, anak saya masih kecil.. saya ingin melihat dia menjadi anak yang sholeh” kata si bapak sambil menggaruk lengannya yang penuh tato…

Hmm, sangat kontras pikirku…

Tapi, tak berhak jika kita menilai seseorang hanya dari luar saja. Hanya dari tato nya saja. Allah lah yang Maha Mengetahui tentang hati dan keimanan seseorang..

Untuk bapak bertato itu…

Perlahan doa tadi ku amin-i…. dan aku percaya, para malaikat yang ada di sekitar kami pun memajatkan doa yang sama….

Doa seorang pria bertato yang (telah) lembut hatinya, mungkin dilembutkan oleh penyakit yang dideritanya…

Mau Jadi Dokter Seperti Apa?

Filed under: Uncategorized — dokterqyu @ 2:17 pm

Jadi Spesialis apa?

“kalau mau rumah tangganya bahagia, buat cewek-cewek..JANGAN pernah mengambil spesialis besar!”

Itu kata seorang residen waktu lagi ngobrol dengan para ko-ass.

Duh, segitunya ya pak????

Hmm, kalau melihat para residen(dokter yang sedang menjalani program spesialis) bagian besar seperti obsgyn, interna, bedah dan anak memang sih sepertinya mereka itu sibuuuk banget! Pagi-pagi ada laporan pagi dan follow up pasien, siang di bangsal  sampai sore. Belum lagi kalau malamnya jaga. Ditambah lagi berbagai ‘tekanan mental’. Kelihatan matanya pada cekung, badan ceking, rambut kusut… (hiperbolis nih). Yang pasti waktu buat yang lain (jalan-jalan, santai di rumah, masak, nyuci, nonton tv, tidur, atau “yang paling penting- ibadah!) berkurang banget!… mungkin itu yang jadi alasan residen tadi mengatakan seperti itu.

Tapi, saya menjadi berpikir ulang ketika terjadi obrolan ringan antara saya dan dua orang bapak pengunjung pasien.

Mereka berdua terlihat biasa-biasa saja, tidak ada yang istimewa, sampai akhirnya aku (diajak) mengobrol oleh kedua bapak itu. Dari awal pembicaraan terlihat salah satu bapak (yang ternyata lulusan IAIN) adalah orang yang mempunyai wawasan luas. Pembicaraan diawali dengan pertanyaan-pertanyaan biasa seputar penyakit pasien yang mereka kunjungi, dan pertanyaan berlanjut ke seputar dunia kedokteran.

Aku pun dengan semangat 4-5, 6 dan 7 mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan si bapak. Tentang jenjang pendidikan seorang dokter, status ku sebagai ko-ass, tentang sekolah spesialisnya para residen, dan suka-duka dalam pendidikan dokter…

Obrolan menjadi semakin seru sewaktu si bapak menjabarkan fenomena kurangnya dokter spesialis kebidanan dan kandungan wanita. Tentang hukum fardhu kifayah dalam Islam, pekerjaan dunia sekaligus sebagai pekerjaan akhirat, dan tentang orientasi kehidupan seorang dokter.
Si bapak mengatakan seorang dokter itu pekerjaan yang sangat dekat dengan pahala dunia dan akhirat, akan sangat merugi jika tidak dilaksanakan dengan maksimal.

“kalau adek melihat situasi seperti  ini, apa adek ga tergugah untuk menjadi dokter kandungan?”  

Katanya setelah aku sedikit bercerita bahwa mengambil spesialisasi kebidanan dan kandungan cukup berat dari segi fisik dan mental.

“apalagi di Aceh kan? disana kan udah penerapan syariat Islam”

Tambahnya lagi setelah mengetahui aku berasal dari Aceh.

Waktu itu aku pasti terlihat tidak  berminat menjadi seorang Sp.OG (karena untuk saat ini belum berniat kesana, kupikir tidak harus menjadi Sp.OG untuk bisa bermanfaat bagi orang banyak)

Tapi si bapak terus memotivasi saya, waktu saya bilang semua itu butuh komitmen tinggi dalam keluarga malah si bapak bilang :

“nah, sebelum berkeluarga dikomunikasikan dulu, kalo dia tidak mau istrinya ga bisa dirumah aja, ya udah cari yg lain….dokter itu kayak artis, jangan takut masalah jodoh”

haha…aku tertawa geli aja dalam hati mendengar  komentar si bapak, ga segitunya kaleee….

Tapi, kata-kata terakhir sang bapak membuat aku berpikir….

“maaf ya dek, saya ngomong begini karena adek berjilbab. Siapa lagi yang akan peduli terhadap umat ini kalau bukan orang-orang  seperti adek. Lakukan yg terbaik yang bisa adek lakukan, jangan pernah menyerah. Manusia itu ada di dunia memang cuma untuk beribadah kok, bukan yang lain. Kalau adek yakin, pasti Allah memudahkan jalan adek”

hmmmm, thinking….thinking…….

dialog jiwa dan raga

Filed under: Uncategorized — dokterqyu @ 1:53 pm

Tahukah kau jiwa?
Terkadang diriku letih mengikutimu….

Kaukah itu raga?
Yang memberikan diriku tempat untuk merasakan indahnya dunia?

Ya, akulah raga..
Dapatkah kau berhenti sejenak jiwa?
Aku lelah…

Kenapa ku harus berhenti?
Berhenti berarti mati!

Mengapa engkau selalu bersemangat wahai jiwa?
Tidakkah kau merasa letih?

Mengapa ku harus letih?
Dunia ini indah… kau lihat langit itu?
Dan… pelangi itu?

Ya…aku melihatnya…

Langit itu adalah kehidupan
Dan pelangilah yang mewarnai kehidupan…

Maksudmu?

Engkau adalah langit, raga…
Engkau adalah tempat dimana aku bisa memberikan warnaku pada langit..
pada kehidupan…

Engkau pelangi itu, wahai jiwa?

Ya, aku adalah pelangimu…
Yang memberikan warna pada hidupmu..
Apakah kau merasakan indahnya warna itu?

Ya…aku merasakannya…
Engkau yang selama ini membuat langitku ceria
Engkau yang membuat aku menjalani hidup dengan lebih bersemangat
Engkau yang membuat  aku merasakan indahnya warna-warni dunia…
Ternyata engkau wahai jiwa….
Lalu darimana kau berasal????

Kau lihat matahari itu, raga?
Dan titik embun di awan?
Aku adalah titik embun yang disinari matahari….

Lalu apakah itu matahari dan titik embun?
Siapakah mereka, jiwa?

Mereka bukan siapa-siapa wahai raga
Matahari adalah cahaya…
Cahaya yang diberikan kepada seluruh langit…
Kepada seluruh raga….

Lalu embun itu siapa?

Ia juga bukan siapa-siapa…
Ia tetesan bening yang dapat memantulkan cahaya…
Dan aku adalah pantulan cahaya itu…!
Aku adalah pelangi…
Pelangi untuk langit…
Jiwa untuk raga….

Lalu mengapa tidak semua langit berpelangi, wahai jiwa?

Karena tidak semua cahaya-Nya masuk ke dalam titik embun itu…

Masudmu?

Titik embun di awan adalah rasa syukur terhadap Allah
Dan cahaya adalah nikmat yang Allah berikan
Ia berikan cahaya-Nya, nikmat-Nya kepada seluruh langit…
Tapi…tak semua langit….
Tak semua raga
Memiliki setetes embun dalam jiwanya…

Ah..aku mengerti wahai jiwa….!
Engkau adalah pelangi….
Pelangi langitku….
Karena engkau terlahir dari pantulan cahaya dari tetes embun!
Engkau terlahir dari rasa syukur akan nikmat-Nya!!!!!

Ya….engkau mengerti raga?
Karena itu jangan pernah lelah
Jangan pernah letih…
Karena cahaya-Nya akan selalu ada…
Namun tetes embun tak selalu ada….
Jagalah tetes embun itu, raga..
Agar aku dapat selalu menemanimu….

Jiwa…jangan kau pergi
Temani aku
Temani langitmu ini….

Lalu …
Jiwa dan raga menari bersama
Di langit itu…
Bertasbih…
Menyebut asma-Nya tanpa henti….

February 8, 2008

bertemu sahabat

Filed under: Uncategorized — dokterqyu @ 12:53 pm

Di suatu sore..
Saat awan berwarna abu-abu menggantung indah…
Tersenyum pilu di atas sana…
Teteskan tangisnya ke muka bumi

Kau ketuk pintuku….
Tanpa banyak kata,
Sinar matamu telah berucap sendu
Tertatih, perlahan….
Memelukku dengan isak tangis tertahan….

Cinta itukah yang telah menyakiti?
Cinta itukah yang membuat jiwa ini rapuh?
Matamu bertanya dalam sepi

Tidak, sahabat..
Cintalah yang membuat dirimu kuat..
Sekuat karang…
Namun sekaligus membuat hatimu lembut…
Selembut awan….
Ia begitu indah…
Begitu indah tuk menyatukannya dalam kekuatan yang lembut…
Dalam kelembutan yang melahirkan kekuatan…

Lalu, mengapa ia menyakiti?
Ia tidak menyakiti, namun terkadang kitalah yang menyakiti cinta…
Maksudmu?
Cinta pada Sang Pemilik cinta…
Terkadang kitalah yang telah mengingkarinya…

Sahabat….
Tak perlu terseok tuk temukan sekerat cinta
Tanyalah pada Sang Pemilik hati
Penggenggam cinta di setiap jiwa
Semailah cintamu
Untuk-Nya semata
Maka kau akan temukan
Percikan cinta-Nya
Dalam insan yang mencintamu…

Dan awan pun kembali tersenyum…
Dalam langit yang cerah…
Pelangi tersenyum malu-malu
Dibalik titik hujan yang tersisa di sore itu…..

Ingatkah sahabat?
Pernah di suatu malam
Kau mengajakku duduk di teras lotengku
Kau tunjuk bintang-bintang itu….
mengurai mimpi-mimpi kita
dalam lukisan langit yang berkelap-kelip….
Tertawa…
Menangis…
Marah…
Sedih….
Bahagia…
Impian…
Cita….
Dan juga cinta…

Semua yang telah kita bagi bersama
Adalah episode kehidupan
Yang tak kan pernah terlupakan…

Kaulah sahabat,
Pelangi dalam langitku…
Bintang di malamku…

Sahabat…
Bersiapkah kita?
Perpisahan yang hadir semakin dekat
Namun ia tak mengakhiri segala kisah,
Yang pernah hadir dalam mimpi-mimpi kita…

Bersiapkah kita?
Tuk mengarungi langit dengan berjuta bintang baru?
Tuk menjemput takdirnya yang terindah…

Sahabat,
engkaulah episode terindah
Dalam hidupku
Dahulu, saat ini, dan selamanya…..

Blog at WordPress.com.