
skill komunikasi yang baik agaknya harus lebih ditingkatkan bagi para dokter. bukan dalam rangka menarik pasien sebanyak mungkin…tapi hal ini berhubungan dengan kepuasan pasien dan yang lebih utama adalah pemenuhan kewajiban dokter terhadap pasien.
yap! kontrak antara dokter dan pasien adalah hubungan antra hak dan kewajiban. masing2 memenuhi hak dan kewajibannya.
banyak kasus malpraktek yang dilaporkan akhir-akhir ini sebenarnya jika ditilik pokok permasalahannya adalah pada pola komunikasi yang jelek. edukasi dokter yang kurang dan tidak menyeluruh, waktu yang sempit, dan banyak alasan lainnya menimbulkan kesalahpahaman antara dokter dan pasien yang akhirnya menimbulkan kekecewaan pasien.
saat sedang browsing di site favorit saya: http://www.dakwatuna.com
saya menemukan sebuah tulisan yang sangat cocok untuk kondisi ini:
dan artikel ini telah saya edit sedikit Insya Allah tanpa mengubah maknanya
(Agar Pesan Sampai Ke Hati Oleh: Asfuri Bahri, Lc)
Seorang pasien penderita penyakit kanker terbaring di atas tempat tidur di sebuah rumah sakit yang entah rumah sakit ke berapa yang pernah disinggahinya. Dan kali ini pun hasil yang didapat tidak jauh berbeda dengan perawatan sebelumnya. Bahkan dokter yang menanganinya sempat menghampirinya. Sambil mengangkat kedua tangannya ia berkata kepada si pasien, bahwa seluruh upaya medis telah ditempuh. Karena kondisi penyakit yang sangat kritis, agaknya harapan untuk sembuh sangat tipis.Bisa dibayangkan bagaimana reaksi pasien tersebut. Sedih, gelisah, depresi, tidak ada lagi gairah dan upaya. Berbeda halnya jika si dokter yang merawatnya itu mengatakan hal lain, kondisinya memang sangat parah, namun, menurutnya, masih ada harapan untuk sembuh. Tentu si pasien sangat bergembira mendengarnya. Kata-kata dokter itu akan mempengaruhi semangatnya untuk sembuh.
Kata-kata mempunyai kekuatan yang luar biasa. Bahkan terkadang ia lebih ampuh daripada senjata. Dalam hal ini pepatah lama masih relevan, bahwa lidah lebih tajam daripada pedang. Betapa sering sebuah perang berkobar disebabkan oleh kata. Demikian pula sebaliknya, perang dapat dihentikan oleh sebuah diplomasi atau secarik kertas perjanjian damai. Seorang penulis wanita Jerman, Annemarie Schimmel, berbicara tentang kekuatan kata. “Kata yang baik laksana pohon yang baik. Kata diyakini sebagai suatu kekuatan kreatif oleh sebagian besar agama di dunia; katalah yang mengantarkan wahyu; kata diamanahkan kepada umat manusia sebagai titipan yang harus dijaga, jangan sampai ada yang teraniaya, terfitnah, atau terbunuh oleh kata-kata.”
Karena kata-kata seseorang bisa bergairah, bersemangat, terhibur dari duka, seorang pasien akan mempunyai harapan sembuh oleh kata-kata dokter. Yang terkadang kondisi sesungguhnya berlawanan dengan kata-kata itu, sekadar untuk menerbitkan semangat. Juga karena kata-kata, hati yang tadinya cerah berbunga-bunga menjadi redup sedih. Tadinya optimis menjadi pesimis. Bersemangat menjadi patah arang.
Kata-kata sebagai alat yang ampuh untuk berbagai kepentingan orang. Melobi, mempengaruhi, merayu, menghina, melecehkan, membalaskan sakit hati. Dan kata orang, ia adalah senjata bermata dua. bisa menjadi duat hal yang baik jika digunakan untuk hal yang baik dengan cara yang baik, namun bisa pula sebaliknya.
Seorang dokter, mempunyai tujuan membantu pasien melawan penyakitnya. dokter bukanlah Tuhan yang dapat menentukan hidup matinya seseorang. ia hanya sebagai perantara, menjadikan profesinya untuk menolong sesama. informasi yang diberikan dokter kepada pasien harusnya disesuaikan dengan kondisi pasien itu sendiri. mislanya daja tidak semua pasien nyaman diberitahu detail tentang penyakitnya. ada yang cukup puas dengan penjelasan simpel, ada juga yang meminta penjelasan lebih detail. biasanya ini tergantung dari tingkat pendidikan seseorang, biasanya pendidikan dengan tingkat lebih tinggi membuat pasien lebih banyak bertanya tentang banyak hal.
dalam kasus ini, kondisi sebenarnya sang pasien tidak harus diberitahukan kepada yang bersangkutan karena akan mempengaruhi semangat hidupnya. informasi ini dapat diberitahukan kepada keluarga pasien sebagai perwakilan pasien. mengenai informed consent yang diberikan pasien kepada dokter juga berkaitan erat dengan bseberapa jauh informasi yang dokter berikan. dalam hal ini menyangkut 3 unsur informasi:
1. diagnosis
2. terapi
3.prognosis (perkiraan perjalanan penyakit)
ketiga hal ini adalah informasi yang harus diberikan dokter kepada pasien agar pasien dapat menentukan menerima atau tidak tindakan medis dari seorang dokter.
jika dokter tidak memberikan edukasi yag jelas, pasien bisa salah menangkap informasi, pasien mungkin akan over estimate terhadap terapi yagn diberikan dokter, sehingga apabila hasil yang muncuk tidak seperti yang diharapkan pasien akan kecewa dan jatuh pada penuntutan dokter di meja hijau.
jika kerugian pasien tersebut merupakan resiko medis, dokter dapat bebas dari tuduhan malpraktek. namun bila dalam edukasi pemberian informed consent dokter tidak menyampaikan kepada pasien, maka hal ini menjadi kesalahan dokter.
dalam situasi tertentu dia\mana keadaan pasien tidak memungkinkan memberikan informed consent, keluarga dapat menjadi wakil bagi pasien.
penyampaian informasi oleh dokter kepada pasien juga berpengaruh sangat besar. seperti kasus diatas. mungkin bila dokter menyampaikan dengan bahasa dan cara yang lebih halus (dengan juga melihat kondisi psikis pasien) mungkin segal ainformasi yang diterima tidak akan menimbulkan penyakit psikis lain yang justru meperberat perjalanan penyakit utamanya.
disini adalah seni komunikasi yang dituntut dari seorang dokter. ia bkan hanya orang yang bertugas memeriksa dan memberikan obat. namun ia juga sebagai terapis psikologis, dimana terapi yang dilakukan haruslah secara holistik. jiwa dan raga. dan ini bukan hanya tugas serorang psikiater atau ahli kejiwaan untuk dapat memberikan psikoterapi (selain obat psikotropika). ini adalah kewajiban semua dokter. karen aperan dokter disini juga sebagi PENYAMPAI BERITA.
bagaikan seorang dai dengan tugas dakwahnya mengajak orang kepada Allah dalam taat dan ibadah kepada-Nya. Aktivitas dai dan dokter sangat didominasi oleh penyampaian kata-kata. Sebab sasaran yang hendak dituju adalah akal manusia itu sendiri. Jika tujuan dakwah adalah melakukan perubahan (taghyir), maka faktor utama yang dapat mempengaruhi proses perubahan adalah akal pikiran. begitu juga profesi dokter, ia memberikan edukasi dengan tujuan agar pasien dapat merubah pikiran maupun perilaku yang menyangkut masalah kesehatannya
Penyampaian kata-kata bahkan menjadi titik tekan tugas para nabi dan rasul. Seperti yang Allah tegaskan kepada Rasulullah saw. Allah berfirman,
“Jika mereka berpaling maka Kami tidak mengutus kamu sebagai pengawas bagi mereka. Kewajibanmu tidak lain hanyalah menyampaikan (risalah).” (As-Syura: 48).
Berbagai kajian dan petunjuk tentang kata-kata dan ceramah yang berkesan telah banyak ditulis para ulama. Namun muaranya tidak jauh berputar pada beberapa poin berikut ini:
1. Kuatnya Hubungan dengan Allah
Hubungan yang menguatkannya, yang menjadi rujukan, tempat menyandarkan diri, kepada-Nya ia mengadu, berdoa, dan berbagi.
Sejarah telah menjadi saksi bahwa tidak ada seorang nabi pun atau pelaku perbaikan kecuali ia mempunyai hubungan yang kuat dengan Allah. Jalinan mereka dengan Allah sangat kuat, hidup, dan selalu segar. Tidak pernah putus barang sekejap pun dan tidak pernah layu.
sebagai seorang dokter, yang banyak berhubungan dengan masalah kehidupan dan kematian, seharusnya lah ia lebih mendekatkan diri kepada Allah, meminta untuk selalu diberikan kemudahan dalam setiap kesulitan dan dijauhkan dari fitnah dan marabahaya.
2. Selalu Memperbaiki DiriSetiap muslim wajib memperbaiki diri dari segala kekurangan. Apalagi seorang dokter yag banyak memberikan nasihat kepada pasien. Boleh jadi ini merupakan hasil dari hubungan yang baik dengan Allah. Sebab siapa yang mengingat Allah ia akan teringat akan semua dosa dan kekurangan dirinya serta menyadari semua aib pribadinya. Berbeda halnya dengan orang yang lalai dari zikir. Ia pun akan lalai kepada Allah bahkan lalai kepada dirinya sendiri. Ia berjalan tanpa arah dan petunjuk. Allah berfirman,
“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. mereka Itulah orang-orang yang fasik.” (Al-Hasyr:19)
Sangat berbahaya jika seorang dai mengajak orang melakukan sesuatu sementara dirinya sendiri jauh darinya. Atau mencegah orang dari melakukan sesuatu ia sendiri belum bisa terlepas darinya. Jika demikian, maka seruan yang dikumandangkannya tak nyaring lagi. apalagi jika dokter yagn melarang pasiennya merokok ternyata juga seorang perokok..
nah, siapa yang mau percaya?????
Bahkan, tidak hanya ajakannya yang diabaikan orang, ia bisa mendapatkan murka dari Allah.
“Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (As-Shaf:3)
Tentu saja hal ini tidak dipahami secara tidak konstruktif, dengan menyibukkan diri sendiri serta tidak peduli kepada perbaikan sekitarnya. Aslih nafsaka wad’u ghairaka (perbaiki dirimu dan ajaklah orang lain), begitu kata orang.
3. Kecerdasan Akal, Kebersihan Hati, dan Pemahaman yang Dalam tentang Islam dan keilmuannya
“Allah menganugerahkan Al hikmah (kepahaman yang dalam tentang Al-Qur’an dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar Telah dianugerahi karunia yang banyak. dan Hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).” (Al-Baqarah:269)
Menurut Muhammad Al-Ghazali, kecerdasan yang dimaksud, seseorang tidak perlu menjadi jenius. Namun hanya dengan memiliki kemampuan melihat suatu permasalahan apa adanya. Tidak menambah maupun mengurangi. Dengan cara pandang seperti ini seorang dari dapat mendiagnosa sebuah persoalan dengan baik dan pada gilirannya bisa memberikan terapi yang tepat sesuai dengan permasalahan yang dihadapinya. Kata-kata yang disampaikannya menjadi tepat sasaran.
Dengan kemampuan seperti inilah Rasulullah terlihat menyampaikan nasihat yang berbeda-beda, melihat kondisi dan latar belakang psikologis seseorang yang konsultasi kepada beliau. Suatu saat beliau hanya mengatakan, “Janganlah kamu marah.” Dan Jariyah bin Qudamah, orang yang bertanya itu pun puas dengan jawaban beliau. Bahkan menurut riwayat Thabrani, pahalanya surga, seperti yang beliau sabdakan, “Janganlah kamu marah, maka akan mendapat surga.” Suatu saat beliau hanya mengatakan, “Katakan, aku beriman kepada Allah. Lalu istiqamahlah.”
Kebersihan hati yang dimaksud tentu bukannya kebersihan hati yang setaraf dengan para malaikat. Cukuplah bagi seorang dokter memiliki hati yang penuh cinta kepada manusia.
4. Keikhlasan
Keikhlasan merupakan tuntutan yang harus dipenuhi setiap muslim dalam ibadahnya kepada Allah. Sebab ia sebagai syarat diterimanya ibadah. Ibnu Atha’illah berkata,
“Amal perbuatan merupkan tubuh yang tegak. Sedangkan ruhnya adalah adanya rahasia di balik amal yang berupa keikhlasan.”
erlebih lagi bagi seorang dokter. Aktivitasnya adalah sebaik-baik amal dan sarana taqarrub kepada Allah, tentu keikhlasan menjadi lebih urgen lagi. sayang sekali segala peluh yang mengalir hanya dibayarkan di dunia saja, tidak diberi ganjaran yang berbulir 700 kali lipat sebagai penambah timbangan kebaikan…
Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah itu baik dan tidak menerima selain kebaikan.” Bagi seorang dari, kebaikan yang hendak dipersembahkan kepada Allah adalah keyakinannya terhadap keutamaan aktifitasnya dan harapannya yang ditambatkan kepada ridha Allah semata.
5. Keluasan Wawasan
jelas, keilmuan seputar profesi sebagai seorang dokter sangat dibutuhkan karena ini adalah modal utama. selain itu, dibutuhkan wawasan lain selain ilmu kedokteran. keluasan wawasan yang dimiliki seorang dokter membuatnya mampu menemukan ‘pembuka hati’ bagi orang-orang yang menjadi objek dakwahnya. Ketika berkomentar tentang wawasan Abu Bakar yang paling tahu tentang nasab suku Quraisy dan paling tahu tentang apa yang baik dab buruk mereka, Munir Muhammad Al-Ghadhban berkata, “Pengetahuan tidak kalah penting daripada akhlaq. Yang dituntut dalam masalah ini bukan segala macam pengetahuan. Tetapi pengetahuan mengenai masyarakat dan kecenderungan-kecenderungannya. Pengetahuan yang menjelaskan karakteristik jiwa manusia. Pengetahuan inilah yang akan memberikan kunci comunication skill yang saya sebutkan diatas. Setiap hati memiliki ‘kunci’, dan tugas seorang dai adalah untuk mendapatkan kunci itu agar ia bisa memasuki hatinya lalu hati itu menyambutnya.”
6. Menguasai Metodologi Komunikasi
Sebab ada pepatah Arab mengatakan, likulli maqam maqal (bagi masing-masing momen ada ungkapannya). Dan masing-masing orang memiliki kecenderungan terhadap satu bentuk komunikasi tertentu. Ada yang suka dengan gaya bicara yang berapi-api. Ada yang tertarik dengan ceramah yang banyak ‘lawak’nya. Ada pula yang tidak suka terhadap hal-hal yang monoton dan serius dan ia lebih suka kalau ceramah banyak diselingi ilustrasi. Kemampuan memilih model komunkasi yang tepat akan menjadi daya tarik yang dapat menggait hati. Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya kejelasan (komunikasi) adalah sihir.”
6. Berdoa
seorang dokter tidak boleh menyandarkan hasil kepada kemampuan dan upayanya. Upaya itu harus dikembalikan kepada Allah yang menguasai segalanya. Ini akan menjaganya dari sikap ghurur apabila apa yang diperbuatnya menghasilkan suatu yang baik, misalkan kesembuhan pasien dan menjauhkannya dari berputus asa jika menemui kegagalan. Sebab ia yakin, seberapa hebat sarana yang dikuasainya, ia hanyalah senjata bisa mengenai sasaran dan bisa tidak. Doa juga dapat menutupi segala kekurangan dan kelemahannya. Sebab tidak ada orang yang memiliki semua dan menguasai segalanya secara ideal. Adakalanya seseorang memiliki kelebihan pada satu sisi, namun ia juga memiliki kekurangan pada sisi lain. Dan berdoa adalah ibadah. Adalah senjata seorang mukmin di saat senjata lain tidak mempan. Ketajaman doa dapat menembus sesuatu yang tidak bisa ditembus senjata biasa.
7. Selanjutnya, takdir dari Allah
sekali lagi, dokter hanya membantu. maslah sembuh atau tidak hanyalah allah yang berhak. bukan dokter yang juga manusia, ciptaan Allah dengan kekurangan yang sama banyaknya dengan makhluk lainnya.
Semoga Allah mengokohkan kaki kita dengan kata-kata-Nya yang tetap. Wallahu A’lam.

salam………………….dokter ta tuka2 link dua teuh jeut,…..
kbn ka perkembangan sinan……syedara..? thank
Comment by ubaidilah — June 11, 2008 @ 3:53 pm |