Dalam menjalani hidup, manusia terkadang harus dapat menjadi biasa
Namun, bukan berarti manusia tersebut bukan manusia yang hebat,
Justru ia adalah manusia yang luar biasa
Selayaknya Rasulullah SAW,
Sungguh beliau adalah manusia biasa dengan akhlaq yang luar biasa
Keluarbiasaan yang terdapat dalam diri beliau tidak menjadikannya lantas menaikkan dagu untuk merasa hebat.
Namun terbungkus begitu indah dengan ketawadhu’an yang membuat beliau secara zhahir tak berbeda dengan manusia lain.
Seorang sahabat pernah sampai begitu sedihnya ketika melihat Rasulullah tidur beralaskan tikar.
Padahal beliau adalah pemimpin pada saat itu,
Tak seperti para raja di negeri jiran yang tidur beralas kasur empuk, berpakaian sutra dan minum dari gelas perak.
Namun, itu tak menjadi masalah,
Karena bagi Beliau, semua itu adalah hal yang biasa,
Tak ada yang perlu ditangisi karena hal yang biasa,
Sungguh baginya harta dan kemegahan dunia adalah hal yang biasa saja,
Tak ada yang istimewa.
Namun sebaliknya, di zaman jahiliyah banyak hal yang dianggap biasa oleh masyarakat
Tapi itu bukan hal yang biasa bagi Rasul Karena di dalamnya terdapat banyak kemaksiatan.
Mengubur bayi perempuan hidup adalah hal biasa,
Tapi tidak bagi Rasul
Perjudian, perzinahan, dan begitu banyak kedzaliman yang terjadi di waktu itu sungguh telah dianggap hal yang biasa bagi mereka,
Namun tidak bagi Rasul
Karena hal biasa itu mengandung kemaksiatan. Bukan hal yang patut untuk ditanggapi biasa-biasa saja dan kemudian tidak menghiraukannya.
Lalu, hendaknya kita berkaca,
Apakah kita sudah dapat menjadi orang yang biasa saja dalam menjalani semua urusan dunia?
Dan menjadi orang yang luar biasa ketika menghadapi masalah ukhrawi?
Menganggap biasa pada tradisi korupsi-kolusi-nepotisme,
”yah, karena hal ini sudah mengakar dan tak bisa diubah…jadi biasa aja kali…sabar aja” justru kalimat ini yang terucap.
Dan mengapa ketika dihadapi masalah ekonomi rumah tangga, kesabaran itu tak bisa muncul?
Sungguh itu bukan kesabaran yang sesuai pada tempatnya.
Menjadi biasa dalam kepungan masyarakat materialistik memang membutuhkan komitmen dan kesabaran yang luar biasa.
Dan menjadi luar biasa dalam prinsip yang telah digariskan Allah adalah tantangan yang luar biasa hebatnya pula.
inilah saatnya untuk berpikir di luar batas,
tidak sebatas ”apa kata orang” atau ”apa yang dilihat orang”
tapi lakukan sesuai kata hatimu, untuk berjalan di muka bumi dengan tawadhu’
tak ada yang patut disombongkan dari diri ini,
kecuali izzah sebagai seorang muslim!
Sungguh itu satu-satunya kemuliaan yang patut dibanggakan,
tidak yang lainnya.
Tawadhu’ dan izzah adalah dua sikap jiwa yang ambivalen,
masing-masing berada pada sudut yang berbeda
seperti rasa benci, cinta, takut, berani.
dan itu adalah bagian integral dalam struktur psikologis manusia
rasakan bagaimana dengan manisnya Islam mengajarkan seorang muslim mencintai sesama muslim,
Namun sekaligus membenci hal yang dibenci Allah
Memiliki rasa takut kepada Allah,
Dan dalam waktu yang sama menjadi berani dalam menghadapi kezaliman manusia.
Mohammad quthb berkata ” disinilah letak kehebatan Islam, ia dengan amat indah memadukan semua sikap jiwa dalam kepribadian muslim, secara proporsional dan integral”
IMAN lah yang mengendalikan kedua sikap ambivalen itu dan memadukannya menjadi musik kepribadian yang indah.
Bila kendali iman tak ada, maka tawadhu’ hanya akan menjadi dha’if (kelemahan)
Dan izzah menjelma menjadi takabbur.
Izzah adalah kelebihan luar biasa yang Allah berikan kepada seorang muslim,
Namun iman lah yang membungkusnya dengan ketawadhu’an yang menjadikannya memandang dunia ini secara biasa,
Teramat biasa
Namun, menjadi biasa bukanlah hal yang mudah,
Sesuatu yang terlihat begitu biasa dan sederhana justru mengandung kekayaan makna yang luar biasa, seperti sebuah puisi :
aku ingin
aku ingin mencintaimu dengan sederhana :
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya debu
aku ingin mencintaimu dengan sederhana :
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.
Aku pikir, Kekayaan rasa pada sebuah cinta yang sederhana bahkan dapat mengalahkan “cinta luar biasa” yang digambarkan dalam bait sajak penyair tersohor sekalipun.
Cinta yang kaya hanya akan dapat dirasakan oleh hati,
dan ketawadhu’an cintalah yang membungkusnya dengan sempurna,
menjadikannya terlihat begitu sederhana.
Karena rasa adalah fitrah sederhana dalam diri manusia,
dapat diraba dan dirasa oleh siapa saja, Oleh siapa saja yang hatinya dipenuhi cinta.
Memang tak perlu kerumitan untuk dapat memahami dan merasakannya
Karena cinta tak akan pernah cukup untuk dirangkum dalam kata….
-Qee-
*terinspirasi dari banyak orang, diilhami oleh banyak hikmah dan dipermanis oleh hidup yang berliku*