The complicated science
Dalam bukunya “At A Glance Medicine” Patrick Davey menuliskan hal yang menarik tentang ilmu kedokteran. Ia menyebutkan bahwa Kedokteran merupakan sebuah bidang yang hebat dan mengasyikkan. Keasyikan ini disebabkan oleh keriangan intelektual yang murni dan tidak dibuat-buat dalam memahami sebuah ilmu dan aplikasinya pada manusia. Memang benar, karena iIlmu ini terus berkembang secara menakjubkan. Semakin banyak pengetahuan yang didapat maka semakin haus pula para peneliti tentang keilmuan ini. “Sebuah komunitas intelektual yang hiruk pikuk” begitu ia menyebutkan. Dan sebagai mahasiswa kedokteran, seseorang harus siap untuk terjun kedalamnya.
“Welcome to the jungle” kata seorang dokter pada adik kelas sekaligus teman sejawatnya yang baru di”sumpah dokter”. Aneh memang, tapi begitulah adanya. Seorang dokter bagaikan seorang petualang dalam pekerjaannya. Ilmu ini bukan hanya sekedar sains, tapi merupakan ilmu yang mendalam mengenai manusia. Seorang dokter bagaikan penyelam yang siap terjun ke dalam samudra luas “ilmu pengetahuan tentang manusia” yang memang ternyata masih banyak hal yang belum terjamah. Bagaikan seorang pilot yang siap mengambil resiko apapun dalam mengendarai pesawatnya sekaligus bagaikan tentara perang yang siap bertempur. Tentu saja resiko tersebut diambil dengan dasar ilmu dan pertimbangan yang matang. Dr.Atul Gawande dalam bukunya “KOMPLIKASI” yang fenomenal mengatakan:
“Pada akhirnya, kedokteran dalam praktik sehari-harinyalah yang paling menarik buatku — apa yang terjadi ketika kesederhanaan ilmu harus berhadapan dengan rumitnya kehidupan seseorang. Walaupun berkembang sejalan dengan kehidupan modern,tetap saja banyak yang tersembunyi dan sering disalahartikan dalam dunia kedokteran. Kita memandangnya lebih sempurna daripada kenyataannya dan sekaligus melihatnya tidak sehebat yang diharapkan.
Memang, semakin manusia menyelami lautan ilmu yang begitu luasnya maka ia akan menyadari bahwa ilmu yang ia ketahui hanyalah setitik saja. Begitu juga dengan ilmu kedokteran yang selama ini dipandang sebagai ilmu logis yang terus berkembang sesuai kemajuan zaman.
Hal yang kemudian tak kalah menarik adalah, dibalik semua keruwetan yang ada dalam “rimba ilmu” ini, terdapat banyak kemudahan untuk mempelajarinya, baik dalam hal sistematisnya ilmu kedokteran dan kesenangan dalam menjalaninya.
Seorang ulama besar, Ibnul Qayyim mengatakan:
“sebesar kengerian dan kesulitan dalam mencapai sesuatu, sebesar itulah kesenangan dan kelezatan yang dirasakan”.
Bagaikan seorang petualang, seorang dokter dituntutut untuk dapat menemukan, menganalisis dan mencari solusi dari setiap penyakit yang ia hadapi. Hal ini menjadikan ilmu ini begitu mengasyikkan dan menyenangkan karena banyak hal-hal menarik sekaligus menantang bagi sang petualang. Bahkan keilmuan ini bagaikan menembus batas psikologis manusia dengan mempelajari penderitaan yang dihadapi seorang manusia dan mencoba untuk mengurangi beban penderitaannya. Seharusnya hal ini dapat menimbulkan perasaan yang lebih peka dan mendalam mengenai manusia yang pada akhirnya, disadari atau tidak, akan memberi dampak bagi para pelakunya: para dokter. Segala macam penderitaan yang pernah disaksikan membentuk seorang dokter menjadi lebih baik, lebih bijaksana, lebih penyayang, dan toleran (harusnya begitu, walaupun dalam pelaksanaannya…who knows?)
Medical science is a art
Seorang dokter harus dapat menggunakan ilmu yang dimiliki untuk menganalisa suatu permasalahan berdasar fakta yang ditemukan menjadi sebuah rumusan diagnosis, kemudian mengubahnya menjadi rencana terapi dan mengkomunikasikannya secara efektif dan akurat kepada pasien dan keluarga pasien. Mengobati pasien yang satu dengan lainnya tidak selalu sama. Ada banyak faktor yang berpengaruh secara simultan disana. Setiap informasi yang didapat (knowledge) harus diolah dan dianalisa menghasilkan suatu keputusan dalam diagnosis maupun treatment. Ilmu “mengolah dan menganalisa” inilah yang disebut-sebut sebagai seni dalam ilmu kedokteran. Bagaikan seorang pemusik yang memadupadankan nada-nada untuk dijadikan senandung indah. Bagaikan seorang pujangga yang melahirkan sajak indah, seorang dokter juga harus dapat mendeskripsikan suatu penyakit. Baik mendeskripsikan menjadi suatu bentuk kesimpulan diagnosis dan tretment maupun mendeskripsikan secara sederhana segala masalah medis kepada pasien.
Tidak ada buku yang dapat mengajarkan hal ini seluruhnya! Percaya atau tidak, banyak sekali para dokter, atau paling dekat, teman-teman mahasiswa kedokteran yang ternyata memiliki daya seni yang tinggi. Bahkan mereka mengakui seiring dengan mempelajari ilmu kedokteran maka kemampuan art nya pun bertambah. Karena memang, dalam mengolah keilmuan ini ada sinergi yang cukup hebat antara otak kanan dan otak kiri. Dan sebagaimana seorang pemusik dan penyair, akan bertambah ketrampilannya seiring pengalaman yang dimiliki. Feelingnya akan terasah seiring waktu yang dilalui. Karena itu, pembelajaran lewat magang (baca: ko-ass) memegang peranan penting. Learning by doing adalah prinsip utama yang ditekankan. Dengan melihat bagaimana para dokter senior melakukan anamnesis, pemeriksaan fisik, menegakkan diagnosis serta akhirnya memutuskan terapi pada pasien akan mengasah kepekaan seorang (calon) dokter dalam pembelajarannya. Namun, kesemua pembelajaran itu tidaklah mudah, dibutuhkan waktu, kesabaran serta ketekunan untuk menguasainya. Ini bukanlah masalah bagaimana dapat dihapalkan dilluar kepala, tapi bagaimana seorang dokter dapat melakukan dan mempraktekkannya.
Sebagai “kesimpulan akhir” dokter dituntut untuk bisa menyampaikan suatu proses di dalam tubuh yang begitu rumit menjadi suatu bahasa yang bisa dimengerti pasien ataupun keluarga pasien. Diagnosis yang telah dianalisa menjadi suatu rencana terapi tersebut harus dapat disampaikan kepada pasien dan keluarganya. Sulit memang, dengan banyaknya kemungkinan yang dapat terjadi pada suatu penyakit (setiap individu memiliki proses yang berbeda dalam tubuhnya) seorang dokter juga dituntut untuk dapat menjelaskan secara simpel dan jelas mengenai kerumitan penyakit tersebut kepada pasien dan keluarganya.
“berbahasalah dengan bahasa kaummu”
Apa yang disebutkan oleh Rasulullah SAW ini juga dikatakan sebagai cara komunikasi efektif di bidang ilmu psikologi. Apalagi yang disebut sebagai edukasi pasien ataupun untuk anamnesis (mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada pasien untuk penegakan diagnosis) seorang dokter harus berbahasa dengan bahasa pasien. Sehingga para dokter dituntut untuk dapat menyesuaikan diri dengan pasien dan keluarganya. Pasti akan berbeda edukasi yang diberikan baik dalam hal bahasa maupun muatan bagi pasien yang derajat pendidikan rendah dan yang tinggi. Pasien yang SD saja tidak lulus akan sangat puas diberi penjelasan sederhana tanpa harus banyak dijelaskan tentang patogenesis (proses terjadinya penyakit). Tapi untuk pasien-pasien yang pendidikan tinggi pasti baru puas jika sudah dijelaskan lengkap dan detail.
Saat ini masyarakat Indonesia sudah semakin berpendidikan dan sebagian ada yang trauma dengan banyaknya kasus malpraktek. Sehingga tuntutan seorang dokter dalam hal seni berkomunikasi semakin meningkat. Segala hal yang berhubungan dengan diagnosis dan pengobatan harus dapat dijelaskan dengan lugas. Segala resiko dan komplikasi yang dapat terjadi juga harus dijelaskan terlebih dahulu. Hal inilah yang membutuhkan komunikasi timbal balik yang baik antara dokter dan pasien. Kepercayaan dan kejujuran adalah hal dominan yang dibutuhkan keduanya. Dengan kepercayaan, kejujuran akan tercipta. Sulit ketika sang pasien tidak jujur dengan riwayat penyakit yang dideritanya karena seorang dokter diharuskan membuat keputusan diagnosis dengan informasi yang terbatas. Begitu juga pasien akan sulit menerima kenyataan bila sang dokter hanya memberikan informasi minimal tentang penyakit yang dideritanya. Kata-kata yang tepat seorang dokter kepada pasiennya adalah:
Please help me to help you
Untuk menolong dirinya sendiri, pasien harus dapat menolong dokter untuk memudahkan sang dokter membuat diagnosis dan rencana pengobatan. Bagi para pasien atau keluarganya, jika ada hal-hal yang tidak jelas jangan malu-malu untuk bertanya kepada dokter! Jangan takut merasa pertanyaan-pertanyaan itu dianggap bodoh oleh dokter! Kadang-kadang justru pertanyaan-pertanyaan yang terlihat bodohlah yang sulit untuk dijawab. Prinsip mendasar ialah penjelasan dan edukasi adalah hak pasien sekaligus kewajiban dokter.
Ambillah resiko! Artinya seorang dokter akan memiliki investasi pribadi dalam diagnosis. Ia akan bangga bila diagnosisnya benar, dan perasaan ini akan menjadi motivasi besar dalam dirinya. Bila ia salah, maka artinya ia perlu belajar, dan hal ini lebih penting karena manusia lebih banyak belajar dari kesalahan daripada kemenangan. Nikmati pembelajaran ini dengan hati yang lapang dan sambut dengan keriangan. Maka engkau akan menjadi seorang dokter yang handal!!! (Patrick Davey).
Risk Taking is my life
Doug Sundheim menuliskan hal yang menarik tentang Gift of Risk. Dalam tulisannya ia mengemukakan bahwa manusia merasa sangat bergairah untuk hidup pada waktu mereka mendorong dirinya sendiri keluar dari zona kenyamanan mereka dan berani mengambil resiko. Yang terpenting adalah Gift of Risk ini bukan terletak pada apa yang seseorang raih dengan segala yang mengandung resiko, namun terletak pada bagaimana seseorang menjadi bagian dari proses tersebut.
Risk taking adalah bagian dari persoalan bisnis dan kehidupan manusia. Namun karena konotasi “resiko” itu sendiri sudah terlanjur menjadi hal yang negatif maka tidak banyak manusia yang menyadarinya. Resiko selalu dianggap sebagai keadaan yang berbahaya, penuh ketegangan dan mengakibatkan suatu kehilangan. Tak banyak yang menyadari bahwa resiko juga mengandung suatu peluang untuk mendapatkan keuntungan yang besar atau mendapatkan hasil yang lebih daripada investasi yang ditanam. Jika investasi seorang dokter adalah keberaniannya dalam memutuskan suatu diagnosis dan terapi (tentunya dengan kompetensi yang baik) maka itu berarti profesi dokter adalah profesi yang selalu berhadapan dengan resiko. Hitung saja, berapa diagnosis yang dibuat dalam sehari??
Disadari atau tidak, tindakan risk taking akan meningkatkan kinerja seseorang. Baik dalam hal bisnis maupun kehidupan. Khawatir akan persoalan resiko tidaklah salah, yang salah adalah tidak berbuat apa-apa dalam menghadapi resiko. Maka, untuk menyiasati masalah peresikoan ini kita perlu mengetahui manajemen resiko agar ia dapat menghasilkan outcome yang positif.
Secara umum ada dua jenis resiko, pertama resiko yang sudah terhitung dan terencana dan yang kedua adalah resiko yang benar-benar tidak terhitung atau tidak masuk dalam jangkauan kita. Pastinya pilihan jatuh pada pilihan yang pertama, dimana pilihan yang akan dibuat adalah hal yang telah dipikirkan dengan matang. Tapi jangan sampai keputusan yang diambil menjadi terhambat karena terlalu lama dipikirkan dan akhirnya menjadi gosong karena “terlalu” matang. Yang tersulit adalah dalam melakukan tindakan emergency seorang dokter dituntut untuk dapat mengambil tindakan cepat dan beresiko dengan tujuan “life saving”. Sulit memang karena dua hal yang bertentangan dihadapi sekaligus. Melakukan tindakan beresiko atau menyelamatkan nyawa? Dalam hal ini, telah ada kesepakatan di bidang hukum kedokteran maupun fikih kedokteran bahwa tindakan life saving menjadi prioritas utama. Bahkan, dalam prinsip hukum agama pun memperbolehkan hal-hal yang dilarang dalam keadaan darurat.
Dan untuk memperkecil resiko yang terjadi dalam tindakan ini seorang dokter dituntut untuk menguasai guide lines atau prosedur baku mengenai tindakan emergency.
Problem based learning
Seringkali hikmah terbesar yang didapat pada diri seseorang ketika ia mengambil pilihan beresiko adalah ia dapat mengukur dirinya. Sejauh apa ia dapat mengidentifikasi masalah, sekuat apa daya tahannya terhadap masalah tersebut dan bagaimana ia akhirnya dapat mengatasi masalah tersebut. Kesemua itu adalah proses pembelajaran terbesar pada diri manusia. Seorang dokter pun dilatih menjadi seorang risk taker dengan metode pembelajaran berdasarkan masalah. Dalam langkah ini, seseorang dilatih untuk dapat melihat suatu permasalahan secara integral dan membentuk suatu creative-decision making yang merupakan hasil dari ”thrustation”. Richard Rabkin, seorang psikiater, mengatakan bahwa “thrustation” merupakan gabungan dari dua hal thrusting dan frustation. Dua hal ini menggambarkan ketegangan psikologis pada diri manusia yang akan menimbulkan suatu gerakan aktif untuk mengintegrasikan antara ingatan masa lalu dengan masa sekarang, antara keyakinan dan ketidakyakinan, serta antara hal yang semu dan hal yang nyata. Sinergisitas dan integritas ini akan membuahkan sebuah pengambilan keputusan yang kreatif dan inovatif pada diri manusia. Maka tidak heran apabila ada beberapa dosen senior yang beranggapan para ko-ass perlu dididik dengan “berbagai masalah” agar dapat menjadi dokter yang “tahan banting”. Hmm, yah namanya juga ko-ass…..
Oke deh…welcome to the risk-land..



