muslim doctor’s site

May 19, 2008

Doctor: Be a Risk Taker!

Filed under: Uncategorized — dokterqyu @ 10:20 am

The complicated science

Dalam bukunya “At A Glance Medicine” Patrick Davey menuliskan hal yang menarik tentang ilmu kedokteran. Ia menyebutkan bahwa Kedokteran merupakan sebuah bidang yang hebat dan mengasyikkan. Keasyikan ini disebabkan oleh keriangan intelektual yang murni dan tidak dibuat-buat dalam memahami sebuah ilmu dan aplikasinya pada manusia. Memang benar, karena iIlmu ini terus berkembang secara menakjubkan. Semakin banyak pengetahuan yang didapat maka semakin haus pula para peneliti tentang keilmuan ini. “Sebuah komunitas intelektual yang hiruk pikuk” begitu ia menyebutkan. Dan sebagai mahasiswa kedokteran, seseorang harus siap untuk terjun kedalamnya.

Welcome to the jungle” kata seorang dokter pada adik kelas sekaligus teman sejawatnya yang baru di”sumpah dokter”. Aneh memang, tapi begitulah adanya. Seorang dokter bagaikan seorang petualang dalam pekerjaannya. Ilmu ini bukan hanya sekedar sains, tapi merupakan ilmu yang mendalam mengenai manusia. Seorang dokter bagaikan penyelam yang siap terjun ke dalam samudra luas “ilmu pengetahuan tentang manusia” yang memang ternyata masih banyak hal yang belum terjamah. Bagaikan seorang pilot yang siap mengambil resiko apapun dalam mengendarai pesawatnya sekaligus bagaikan tentara perang yang siap bertempur. Tentu saja resiko tersebut diambil dengan dasar ilmu dan pertimbangan yang matang. Dr.Atul Gawande dalam bukunya “KOMPLIKASI” yang fenomenal mengatakan:

“Pada akhirnya, kedokteran dalam praktik sehari-harinyalah yang paling menarik buatku — apa yang terjadi ketika kesederhanaan ilmu harus berhadapan dengan rumitnya kehidupan seseorang. Walaupun berkembang sejalan dengan kehidupan modern,tetap saja banyak yang tersembunyi dan sering disalahartikan dalam dunia kedokteran. Kita memandangnya lebih sempurna daripada kenyataannya dan sekaligus melihatnya tidak sehebat yang diharapkan.

Memang, semakin manusia menyelami lautan ilmu yang begitu luasnya maka ia akan menyadari bahwa ilmu yang ia ketahui hanyalah setitik saja. Begitu juga dengan ilmu kedokteran yang selama ini dipandang sebagai ilmu logis yang terus berkembang sesuai kemajuan zaman.

Hal yang kemudian tak kalah menarik adalah, dibalik semua keruwetan yang ada dalam “rimba ilmu” ini, terdapat banyak kemudahan untuk mempelajarinya, baik dalam hal sistematisnya ilmu kedokteran dan kesenangan dalam menjalaninya.

Seorang ulama besar, Ibnul Qayyim mengatakan:

“sebesar kengerian dan kesulitan dalam mencapai sesuatu, sebesar itulah kesenangan dan kelezatan yang dirasakan”.

Bagaikan seorang petualang, seorang dokter dituntutut untuk dapat menemukan, menganalisis dan mencari solusi dari setiap penyakit yang ia hadapi. Hal ini menjadikan ilmu ini begitu mengasyikkan dan menyenangkan karena banyak hal-hal menarik sekaligus menantang bagi sang petualang. Bahkan keilmuan ini bagaikan menembus batas psikologis manusia dengan mempelajari penderitaan yang dihadapi seorang manusia dan mencoba untuk mengurangi beban penderitaannya. Seharusnya hal ini dapat menimbulkan perasaan yang lebih peka dan mendalam mengenai manusia yang pada akhirnya, disadari atau tidak, akan memberi dampak bagi para pelakunya: para dokter. Segala macam penderitaan yang pernah disaksikan membentuk seorang dokter menjadi lebih baik, lebih bijaksana, lebih penyayang, dan toleran (harusnya begitu, walaupun dalam pelaksanaannya…who knows?)

Medical science is a art

Seorang dokter harus dapat menggunakan ilmu yang dimiliki untuk menganalisa suatu permasalahan berdasar fakta yang ditemukan menjadi sebuah rumusan diagnosis, kemudian mengubahnya menjadi rencana terapi dan mengkomunikasikannya secara efektif dan akurat kepada pasien dan keluarga pasien. Mengobati pasien yang satu dengan lainnya tidak selalu sama. Ada banyak faktor yang berpengaruh secara simultan disana. Setiap informasi yang didapat (knowledge) harus diolah dan dianalisa menghasilkan suatu keputusan dalam diagnosis maupun treatment. Ilmu “mengolah dan menganalisa” inilah yang disebut-sebut sebagai seni dalam ilmu kedokteran. Bagaikan seorang pemusik yang memadupadankan nada-nada untuk dijadikan senandung indah. Bagaikan seorang pujangga yang melahirkan sajak indah, seorang dokter juga harus dapat mendeskripsikan suatu penyakit. Baik mendeskripsikan menjadi suatu bentuk kesimpulan diagnosis dan tretment maupun mendeskripsikan secara sederhana segala masalah medis kepada pasien.

Tidak ada buku yang dapat mengajarkan hal ini seluruhnya! Percaya atau tidak, banyak sekali para dokter, atau paling dekat, teman-teman mahasiswa kedokteran yang ternyata memiliki daya seni yang tinggi. Bahkan mereka mengakui seiring dengan mempelajari ilmu kedokteran maka kemampuan art nya pun bertambah. Karena memang, dalam mengolah keilmuan ini ada sinergi yang cukup hebat antara otak kanan dan otak kiri. Dan sebagaimana seorang pemusik dan penyair, akan bertambah ketrampilannya seiring pengalaman yang dimiliki. Feelingnya akan terasah seiring waktu yang dilalui. Karena itu, pembelajaran lewat magang (baca: ko-ass) memegang peranan penting. Learning by doing adalah prinsip utama yang ditekankan. Dengan melihat bagaimana para dokter senior melakukan anamnesis, pemeriksaan fisik, menegakkan diagnosis serta akhirnya memutuskan terapi pada pasien akan mengasah kepekaan seorang (calon) dokter dalam pembelajarannya. Namun, kesemua pembelajaran itu tidaklah mudah, dibutuhkan waktu, kesabaran serta ketekunan untuk menguasainya. Ini bukanlah masalah bagaimana dapat dihapalkan dilluar kepala, tapi bagaimana seorang dokter dapat melakukan dan mempraktekkannya.

Sebagai “kesimpulan akhir” dokter dituntut untuk bisa menyampaikan suatu proses di dalam tubuh yang begitu rumit menjadi suatu bahasa yang bisa dimengerti pasien ataupun keluarga pasien. Diagnosis yang telah dianalisa menjadi suatu rencana terapi tersebut harus dapat disampaikan kepada pasien dan keluarganya. Sulit memang, dengan banyaknya kemungkinan yang dapat terjadi pada suatu penyakit (setiap individu memiliki proses yang berbeda dalam tubuhnya) seorang dokter juga dituntut untuk dapat menjelaskan secara simpel dan jelas mengenai kerumitan penyakit tersebut kepada pasien dan keluarganya.

berbahasalah dengan bahasa kaummu”

Apa yang disebutkan oleh Rasulullah SAW ini juga dikatakan sebagai cara komunikasi efektif di bidang ilmu psikologi. Apalagi yang disebut sebagai edukasi pasien ataupun untuk anamnesis (mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada pasien untuk penegakan diagnosis) seorang dokter harus berbahasa dengan bahasa pasien. Sehingga para dokter dituntut untuk dapat menyesuaikan diri dengan pasien dan keluarganya. Pasti akan berbeda edukasi yang diberikan baik dalam hal bahasa maupun muatan bagi pasien yang derajat pendidikan rendah dan yang tinggi. Pasien yang SD saja tidak lulus akan sangat puas diberi penjelasan sederhana tanpa harus banyak dijelaskan tentang patogenesis (proses terjadinya penyakit). Tapi untuk pasien-pasien yang pendidikan tinggi pasti baru puas jika sudah dijelaskan lengkap dan detail.

Saat ini masyarakat Indonesia sudah semakin berpendidikan dan sebagian ada yang trauma dengan banyaknya kasus malpraktek. Sehingga tuntutan seorang dokter dalam hal seni berkomunikasi semakin meningkat. Segala hal yang berhubungan dengan diagnosis dan pengobatan harus dapat dijelaskan dengan lugas. Segala resiko dan komplikasi yang dapat terjadi juga harus dijelaskan terlebih dahulu. Hal inilah yang membutuhkan komunikasi timbal balik yang baik antara dokter dan pasien. Kepercayaan dan kejujuran adalah hal dominan yang dibutuhkan keduanya. Dengan kepercayaan, kejujuran akan tercipta. Sulit ketika sang pasien tidak jujur dengan riwayat penyakit yang dideritanya karena seorang dokter diharuskan membuat keputusan diagnosis dengan informasi yang terbatas. Begitu juga pasien akan sulit menerima kenyataan bila sang dokter hanya memberikan informasi minimal tentang penyakit yang dideritanya. Kata-kata yang tepat seorang dokter kepada pasiennya adalah:

Please help me to help you

Untuk menolong dirinya sendiri, pasien harus dapat menolong dokter untuk memudahkan sang dokter membuat diagnosis dan rencana pengobatan. Bagi para pasien atau keluarganya, jika ada hal-hal yang tidak jelas jangan malu-malu untuk bertanya kepada dokter! Jangan takut merasa pertanyaan-pertanyaan itu dianggap bodoh oleh dokter! Kadang-kadang justru pertanyaan-pertanyaan yang terlihat bodohlah yang sulit untuk dijawab. Prinsip mendasar ialah penjelasan dan edukasi adalah hak pasien sekaligus kewajiban dokter.

Ambillah resiko! Artinya seorang dokter akan memiliki investasi pribadi dalam diagnosis. Ia akan bangga bila diagnosisnya benar, dan perasaan ini akan menjadi motivasi besar dalam dirinya. Bila ia salah, maka artinya ia perlu belajar, dan hal ini lebih penting karena manusia lebih banyak belajar dari kesalahan daripada kemenangan. Nikmati pembelajaran ini dengan hati yang lapang dan sambut dengan keriangan. Maka engkau akan menjadi seorang dokter yang handal!!! (Patrick Davey).

Risk Taking is my life

Doug Sundheim menuliskan hal yang menarik tentang Gift of Risk. Dalam tulisannya ia mengemukakan bahwa manusia merasa sangat bergairah untuk hidup pada waktu mereka mendorong dirinya sendiri keluar dari zona kenyamanan mereka dan berani mengambil resiko. Yang terpenting adalah Gift of Risk ini bukan terletak pada apa yang seseorang raih dengan segala yang mengandung resiko, namun terletak pada bagaimana seseorang menjadi bagian dari proses tersebut.

Risk taking adalah bagian dari persoalan bisnis dan kehidupan manusia. Namun karena konotasi “resiko” itu sendiri sudah terlanjur menjadi hal yang negatif maka tidak banyak manusia yang menyadarinya. Resiko selalu dianggap sebagai keadaan yang berbahaya, penuh ketegangan dan mengakibatkan suatu kehilangan. Tak banyak yang menyadari bahwa resiko juga mengandung suatu peluang untuk mendapatkan keuntungan yang besar atau mendapatkan hasil yang lebih daripada investasi yang ditanam. Jika investasi seorang dokter adalah keberaniannya dalam memutuskan suatu diagnosis dan terapi (tentunya dengan kompetensi yang baik) maka itu berarti profesi dokter adalah profesi yang selalu berhadapan dengan resiko. Hitung saja, berapa diagnosis yang dibuat dalam sehari??

Disadari atau tidak, tindakan risk taking akan meningkatkan kinerja seseorang. Baik dalam hal bisnis maupun kehidupan. Khawatir akan persoalan resiko tidaklah salah, yang salah adalah tidak berbuat apa-apa dalam menghadapi resiko. Maka, untuk menyiasati masalah peresikoan ini kita perlu mengetahui manajemen resiko agar ia dapat menghasilkan outcome yang positif.

Secara umum ada dua jenis resiko, pertama resiko yang sudah terhitung dan terencana dan yang kedua adalah resiko yang benar-benar tidak terhitung atau tidak masuk dalam jangkauan kita. Pastinya pilihan jatuh pada pilihan yang pertama, dimana pilihan yang akan dibuat adalah hal yang telah dipikirkan dengan matang. Tapi jangan sampai keputusan yang diambil menjadi terhambat karena terlalu lama dipikirkan dan akhirnya menjadi gosong karena “terlalu” matang. Yang tersulit adalah dalam melakukan tindakan emergency seorang dokter dituntut untuk dapat mengambil tindakan cepat dan beresiko dengan tujuan “life saving”. Sulit memang karena dua hal yang bertentangan dihadapi sekaligus. Melakukan tindakan beresiko atau menyelamatkan nyawa? Dalam hal ini, telah ada kesepakatan di bidang hukum kedokteran maupun fikih kedokteran bahwa tindakan life saving menjadi prioritas utama. Bahkan, dalam prinsip hukum agama pun memperbolehkan hal-hal yang dilarang dalam keadaan darurat.

Dan untuk memperkecil resiko yang terjadi dalam tindakan ini seorang dokter dituntut untuk menguasai guide lines atau prosedur baku mengenai tindakan emergency.

Problem based learning

Seringkali hikmah terbesar yang didapat pada diri seseorang ketika ia mengambil pilihan beresiko adalah ia dapat mengukur dirinya. Sejauh apa ia dapat mengidentifikasi masalah, sekuat apa daya tahannya terhadap masalah tersebut dan bagaimana ia akhirnya dapat mengatasi masalah tersebut. Kesemua itu adalah proses pembelajaran terbesar pada diri manusia. Seorang dokter pun dilatih menjadi seorang risk taker dengan metode pembelajaran berdasarkan masalah. Dalam langkah ini, seseorang dilatih untuk dapat melihat suatu permasalahan secara integral dan membentuk suatu creative-decision making yang merupakan hasil dari ”thrustation”. Richard Rabkin, seorang psikiater, mengatakan bahwa “thrustation” merupakan gabungan dari dua hal thrusting dan frustation. Dua hal ini menggambarkan ketegangan psikologis pada diri manusia yang akan menimbulkan suatu gerakan aktif untuk mengintegrasikan antara ingatan masa lalu dengan masa sekarang, antara keyakinan dan ketidakyakinan, serta antara hal yang semu dan hal yang nyata. Sinergisitas dan integritas ini akan membuahkan sebuah pengambilan keputusan yang kreatif dan inovatif pada diri manusia. Maka tidak heran apabila ada beberapa dosen senior yang beranggapan para ko-ass perlu dididik dengan “berbagai masalah” agar dapat menjadi dokter yang “tahan banting”. Hmm, yah namanya juga ko-ass…..

Oke deh…welcome to the risk-land..

Cinta yang mengerikan

Filed under: Uncategorized — dokterqyu @ 10:15 am

Dong..dong..dong…

Seperti ada gong besar di hadapanku

Besar…

Dan berisik..

Dong..dong..dong…

Seakan mengejek diriku…

hidupku..

Perasaanku…

Dong..dong…dong…

Pusing!

Jenuh!

Lelah!…

Terlalu lelah

Untuk dapat memahami CINTA…

Aku menjadi takut,

Terlalu takut ketika menyadari kekuatan yang dapat dilahirkan dari sebuah rasa yang bernama CINTA.

“semua ini karena aku mencintainya…kumohon mengertilah.” kau berkata begitu

Tapi aku tak bisa, aku tak bisa mengerti mengapa cinta bisa membuatmu terlalu pasrah, sahabat. Terlalu pasrah untuk disakiti. Terlalu pasrah untuk dapat melawan ketidak adilan. Dan terlalu pasrah untuk dikhianati. Dikhianati oleh cinta yang kau agung-agungkan itu.

Lalu apakah itu yang kau sebut cinta?

Aku tak mengerti……….

Sungguh tak dapat mengerti…

“aku hanya ingin membuatnya bahagia” sahabat yang lain berucap sendu

Kebahagiaan macam apa itu? Aku menggugat resah. Kebahagiaan yang deminya kau rela mengorbankan kebahagiaanmu sendiri? Bahkan bukan hanya kebahagiaan milikmu, tapi milik orang lain, milik keluargamu dan milik sahabat-sahabatmu….?

Apa lagi yang ingin kau korbankan? Jangan katakan kau rela mengorbankan cinta kepada-Nya hanya karena ingin membuatnya bahagia! Kumohon jangan katakan itu…

hatiku teriris….

Perih…

“aku ingin berhenti, tapi aku tak bisa…”

Entah kenapa, seakan ada kekuatan yang begitu besar menarikmu ke dalam pusaran cinta itu, sahabat…..

Oh, Allah…. kekuatan itu begitu mengerikan!!!

yang bisa menarik sahabat-sahabatku dari pusaran cinta-Mu

“karena aku tak ingin kehilangan cinta” seorang ibu berbisik pasrah dengan mata yang basah. Ia telah begitu pasrahnya menerima siksaan dari sang suami hanya karena ingin keluarganya tetap utuh. Hanya karena ingin anak-anaknya tetap bisa bersekolah, tanpa ada tanggungan malu jika orangtuanya bercerai.

Oh, Allah… kekuatan apa itu?

Kekuatan yang telah menjadikan ia begitu kuat menanggung beban di bahunya yang ringkih..

Kekuatan yang menjadikan tangan itu tetap kokoh menggandeng anaknya dengan lembut..

Walau bahu itu telah remuk dipukuli sang suami

Walau tangan itu telah tersulut api rokok ayah dari anak-anaknya sendiri…..

semua itu membuatku semakin takut….

ketakutan yang membuatku ingin berlari…

berlari hanya ke dalam pusaran cinta-Mu

tidak yang lain

aku ingin menggugat cinta!

Cinta yang seharusnya membuat dunia ini indah

Cinta yang seharusnya membuat hidup ini manis

Namun mengapa ia menyakiti?

Menyakiti cintaMu?

Mengkhianati kasihMu?

memang, aku tahu

orang-orang bijak bilang

cinta adalah anugerah yang indah,

terlalu indah untuk dirasakan

sekaligus terlalu rumit untuk dimengerti

terlalu lembut di kalbu

sekaligus terlalu kuat menancap di hati

tapi, aku lagi-lagi tak dapat mengerti….

lalu cinta pun semakin membuatku resah…

apa ini yang bergejolak semakin dahsyat?

Sesuatu dihatiku

yang tak kutahu apa itu…

Sesuatu yang begitu kuat,

Tapi aku tak mengerti…

Mengapa…
untuk apa…

kepada siapa??

Aku terlalu takut…

Dan resah….

Dan…

Dalam mimpiku,

cinta berusaha menjawab resahku….

Tahukah?

Sayap tak akan pernah utuh bila tak berpasangan..

Sayap tak akan dapat terbang bila ia bersendirian..

Hati tak akan pernah kokoh bila ia patah

Hati tak akan murni bila tak ada embun yang membasahi

Dan..

Hatimu bersayap

Ia ingin kokoh,

Ia tak ingin patah

Ia ingin selalu murni ruhnya

Untuk menjaga hati yang murni,

Hati yang kokoh dan tak pernah patah..

Ia mencari sepasang sayapnya yang belum lengkap…

Sepasang sayap yang bernama:

cinta….

Aku terbangun,

Tertegun..

Mencerna kata yang cinta ucapkan padaku….

Aku pun tersadar,

Bahkan cinta telah tumbuh dalam hatiku,

tanpa aku sadari dan tanpa aku minta

Entah mengapa…
untuk apa…

Dan kepada siapa??

Lalu, kembali cinta berkata dalam mimpi….

kaukah disana?

Yang berikanku berjuta inspirasi

Mengirimkan kekuatan yang lembut

Kelembutan yang melahirkan kekuatan…

Kaukah disana?

Kaukah itu..?

Kaukah yang bernama cinta?

Entah mengapa,

Entah siapa,

Entah dimana…..

Sahabat…

Akhirnya aku mengerti

Cinta adalah rasa

fitrah sederhana dalam diri manusia,
dapat diraba dan dirasa oleh siapa saja,

Oleh siapa saja yang hatinya dipenuhi cinta.

Memang tak perlu kerumitan untuk dapat memahami dan merasakannya

Karena cinta tak akan pernah cukup untuk dirangkum dalam kata

Kerumitan cinta,

Keindahan cinta,

Kelembutan cinta, dan

Kekuatan cinta

Adalah fitrah terindah dalam diri manusia

Tak ada yang salah dengan cinta

bila engkau tak mendua,

cinta tertinggi yang tak boleh lekang

satu rindu yang tak boleh lepas

satu cinta yang tak boleh terlampaui

mencintaiMu, Ya Rabb..

utuh untukMu semata

lalu…

di sore itu,

Saat awan berwarna abu-abu menggantung indah, Tersenyum pilu di atas sana…

Kau ketuk pintuku,

Tanpa banyak kata, Sinar matamu telah berucap sendu

Tertatih, perlahan, Memelukku dengan isak tangis tertahan….

Cinta itukah yang telah menyakiti? Cinta itukah yang membuat jiwa ini rapuh?”

Matamu bertanya dalam sepi.

Tidak, sahabat..

Cintalah yang membuat dirimu kuat, Sekuat karang…

Namun sekaligus membuat hatimu lembut, Selembut awan….

Ia begitu indah…

Begitu indah tuk menyatukannya dalam kekuatan yang lembut…

Dalam kelembutan yang melahirkan kekuatan…

Lalu, mengapa ia menyakiti?

Ia tidak menyakiti, namun terkadang kitalah yang menyakiti cinta…

Maksudmu?

Cinta pada Sang Pemilik cinta…

Terkadang kitalah yang telah mengingkarinya…

Sahabat….

Tak perlu terseok tuk temukan sekerat cinta

Tanyalah pada Sang Pemilik hati, Penggenggam cinta di setiap jiwa

Semailah cintamu, Untuk-Nya semata

Maka kau akan temukan Percikan cinta-Nya

Dalam insan yang mencintamu…

Dan awan pun kembali tersenyum, Dalam langit yang cerah…

Pelangi tersenyum malu-malu

Dibalik titik hujan yang tersisa di sore itu…..

Lalu, Ingatkah sahabat?

Pernah di suatu malam, kau mengajakku duduk di teras lotengku

Kau tunjuk bintang-bintang itu

mengurai mimpi-mimpi kita dalam lukisan langit yang berkelap-kelip….

Tertawa…

Menangis…

Marah…

Sedih….

Bahagia…

Impian…

Cita….

Dan juga cinta…

Semua yang telah kita bagi bersama

Adalah episode kehidupan yang tak kan pernah terlupakan…

engkaulah episode terindah dalam hidupku

Dahulu, saat ini, dan selamanya…..

Dan,

tak pernah ada yang akan dapat mengakhiri segala kisah,

segala kisah yang sempat singgah dalam mimpi-mimpi kita…

mimpi masa depan yang indah,

bersiaplah menjemput mimpi!

bersiaplah tuk mengarungi langit dengan berjuta bintang baru

Tuk menjemput takdirnya yang terindah..

Indah, terlalu indah

Sahabat,

Mencintailah dengan sederhana

Rasakan Kekayaan cinta yang sederhana

Yang dapat mengalahkan “cinta luar biasa” yang diagungkan manusia

Cinta yang begitu sederhana

Sekaligus begitu kaya, yang hanya dapat dirasakan oleh hati,

dan ketawadhu’an cintalah yang membungkusnya dengan teramat sempurna,
menjadikannya terlihat begitu sederhana

namun mengadung kekayaan rasa yang sungguh luar biasa…

sahabatku, Pelangi dalam langitku, Bintang di malamku…

Ingin kutunjukkan cinta kepada mu….

Cinta yang tak akan pernah menyakiti

Tak akan pernah mengkhianati…

Karena aku begitu mencintaimu…

Cinta dari seorang sahabat

Cinta yang begitu sederhana….

aku ingin

aku ingin mencintaimu dengan sederhana :

dengan kata yang tak sempat diucapkan

kayu kepada api yang menjadikannya debu

aku ingin mencintaimu dengan sederhana :

dengan isyarat yang tak sempat disampaikan

awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.

siramilah jiwa-jiwa yang merindu ini

Dengan hujan cintaMu

Yang tak pernah habis

Kepada kami, hati yang saling merindu

Karena cinta-Mu….

Teruntuk semua sahabatku yang tengah mencinta….

Jangan pernah mendustai cinta,

Cinta yang telah Ia tanamkan di hati kita…

Jangan pernah mengkhianati cinta,

Cinta yang telah Ia suburkan dalam kalbu kita…

Karena cinta itu hanya percikan dari cintaNya yang begitu besar..

Kepada kita..

Hamba yang begitu Ia cintai

Cinta yang lebih besar dari seluruh cinta yang ada di hati manusia

*with love…dokterqyu*

Blog at WordPress.com.