00.00 WIB
badan ini letih sekali, saatnya untuk melepas lelah, putusku.
perlahan kuambil posisi bersiap tidur di kasur yang seakan memanggil-manggil sedari tadi, menggoda.
kriing..kriing…
hhffhh…panggilan malam? pikirku datar. belum sempat berbaring, apalagi tidur.
“jaga bayangan, kesini ya, pengawasan PBRT, 30 menit”. kalimat terpotong, singkat, padat, jelas, tanpa kompromi, dan ..
menjengkelkan!!!
itu artinya dalam waktu 30 menit aku harus ke RS sebagai petugas jaga “serep” di malam itu.
sebel. kenapa sekarang? malam-malam buta saat semua orang punya hak asasi manusia bernama tidur. kenapa tidak tadi saja ketika mataku belum mengantuk? kenapa tidak nanti saja ketika ayam sudah membangunkan matahari?
sungguh menjengkelkan!!!
setan terus membisiki.
hey, diamlah!!!! tak ada jawaban untuk kenapa-mu, tak ada alasan untuk jengkel-mu, hatiku mencoba memberontak.
sehat, sakit, sekarat, koma, dan akhirnya mati. itu adalah hak-Nya, dan aku hanya berada dalam lingkaran itu, berjuang di dalamnya, apa yang aku bisa, sekuat yang aku mampu dan sesuai yang seharusnya aku lakukan.
dan setan pun enyahlah….
aku pun menuju panggilan malamku, tanpa beban. Insya Allah, harapku getir
malam yang gelap, dan memang selalu gelap. bulan terpotong setengah seakan menggantung begitu saja di langit. pasrah. Mencoba terangi bumi dengan sinar yang ia pantulkan. pantulan sinar yang indah, hanya memantulkan. Walau tak dapat terangi bumi seperti matahari.
Tapi sungguh indah.
malam yang gelap pun menjadi indah karena pantulan sinar bulan.
seperti gelap, seperti itu pula mati. hal pasti yang tak pernah berubah.
bulan dan usaha, bulan dan ikhtiar. hanya mencoba berikan setitik benderang dalam gelap. menjadi indah, sangat indah….
dan aku pun tetap menuju panggilan malam, seperti bulan yang tetap terangi malam.
berusaha menahan kelopak mata yang memberontak.
aku bagai terbang. seperti melayang. seperti mimpi.
dalam hati, aku berharap: ini hanya mimpi
lorong-lorong putih menatapku sendu. tiang-tiang menyapa dan berlalu, tersenyum lalu membisu.
aku masih terbang, melayang melewati lorong.
aku tetap berharap, ini mimpi.
“pengawasan, kadang apneu, tak bernafas, prematur, beri rangsangan”
perintah di malamku
satu kali…dua kali…tiga kali…. bernafas. lalu berhenti
beri rangsangan, pelan-pelan nafasnya muncul kembali.
satu kali…dua kali…tiga kali…nafas kecilnya berlomba dengan detik jam di dinding.
dan,
panggilan malamku mengajarkan. tentang arti penting sebuah tarikan nafas yang mungkin sudah bermilyar kali kudapat si sepanjang umurku.
duhai mungil, apa arti hidup bagimu?
mempertahankan nafas satu-satumu? atau
menunjukkan padaku tentang makna dalam setiap tarikan nafasmu?
oh, hanya Allah yang tahu.
kuharap engkau tak pernah menganggap ini mimpi burukmu
seperti aku yang masih berharap:
malam ini hanya mimpi…

labiognatopalatoschiziz komplit. tetangga box si mungil diberi nama. sumbing derajat paling parah. bibir, gusi, dan langit-langit mulut tidak menyatu mencapai hidung.
ah, apa kabarmu sayang?
ia mencoba tersenyum. tapi hanya seringai yang tampak. sayang, aku tahu kau tersenyum. tetap tersenyum walau hidupmu pilu. kau hanya dapat tersenyum, belum dapat bertanya pada dunia. mana ayahmu, mana ibumu. mana kasih sayang itu?
tak ada yang ‘kan dapat menjawab tanya mu sayang.
begitu juga aku.
tapi mungkin senyum seringai mu yang dapat menjawab semua
senyum yang jadikan ayah-ibumu pergi? begitu saja meninggalkanmu.
senyummu yang jadikan mereka tak dapat memahami, mengapa engkau lahir dari darah mereka. rahim ibumu. mani ayahmu.
senyummu, mimpi buruk bagi mereka
semoga kau tidak, tetaplah tersenyum hadapi dunia.
dan senyum-Nya lah yang ‘kan kau dapat nanti
di ujung ruangan, tetangga mungil yang lain mewarnai malamku
hidrocephalus, atresia ani, omphalocele….begitu mereka diberi nama.
seakan melabeli hidupnya. bahwa hidup adalah mimpi buruk.
bahwa mimpi buruk itu karena kalian lahir, dan hidup.
di pojok lain, tubuh dingin berbalut kain terbujur kaku.
tanpa nama, tanpa senyum. jikapun diberi nama, mungkin kau berujar haru “bebas dari mimpi buruk” itu namaku.
bahwa kau telah bebas dari hidupmu. hidupmu yang telah menjadi mimpi buruk bagi ayahmu, ibumu. bahkan kepergianmu pun tak menghilangkan mimpi buruk itu. kau pernah hidup, lalu mati.
tak ada yang mengambil tubuh kakumu. untuk sekedar mengantarkan ke peristirahatan sementara, menuju kampung halaman semua manusia. akhirat.
mimpi buruk
nama yang diberikan para orangtua tak bertanggungjawab kepada anak-anaknya.
padahal merekalah mimpi buruk bagi bayi-bayi tak berdosa itu. mimpi buruk untuk dilahirkan dari manusia-manusia tanpa cinta.

04.00 WIB
aku berganti tugas dengan temanku. ia melanjutkan menemani mungil. merangsang mungil berkali-kali agar tetap bernafas. walau hanya bernafas satu-satu.
1x..2x..3x… lalu berhenti. dirangsang, dan bernafas lagi. berlomba dengan waktu yang tersisa. tak ada yang tahu sebarapa banyak waktu yang tersisa itu.
di tempat “tak ada yang tahu” itulah kami berupaya. sampai titik akhir yang Kau tentukan.
aku pun pulang, diiringi sayup adzan muadzin masjid Asy-Syifa
mataku letih berjuang dalam perih, begitupun hatiku
mencoba memahami sebuah mimpi buruk bernama kenyataan hidup
tiang-tiang di lorong kembali menyapa
melambai pilu
mengantar diriku yang letih dan masih berharap: Ini hanya mimpi!!!!
![]()
