muslim doctor’s site

March 23, 2008

how to be a lovely doctor

Filed under: Uncategorized — dokterqyu @ 6:35 am

skill komunikasi yang baik agaknya harus lebih ditingkatkan bagi para dokter. bukan dalam rangka menarik pasien sebanyak mungkin…tapi hal ini berhubungan dengan kepuasan pasien dan yang lebih utama adalah pemenuhan kewajiban dokter terhadap pasien.

yap! kontrak antara dokter dan pasien adalah hubungan antra hak dan kewajiban. masing2 memenuhi hak dan kewajibannya.

banyak kasus malpraktek yang dilaporkan akhir-akhir ini sebenarnya jika ditilik pokok permasalahannya adalah pada pola komunikasi yang jelek. edukasi dokter yang kurang dan tidak menyeluruh, waktu yang sempit, dan banyak alasan lainnya menimbulkan kesalahpahaman antara dokter dan pasien yang akhirnya menimbulkan kekecewaan pasien.

saat sedang browsing di site favorit saya: http://www.dakwatuna.com
saya menemukan sebuah tulisan yang sangat cocok untuk kondisi ini:
dan artikel ini telah saya edit sedikit Insya Allah tanpa mengubah maknanya
(
Agar Pesan Sampai Ke Hati Oleh: Asfuri Bahri, Lc)


Seorang pasien penderita penyakit kanker terbaring di atas tempat tidur di sebuah rumah sakit yang entah rumah sakit ke berapa yang pernah disinggahinya. Dan kali ini pun hasil yang didapat tidak jauh berbeda dengan perawatan sebelumnya. Bahkan dokter yang menanganinya sempat menghampirinya. Sambil mengangkat kedua tangannya ia berkata kepada si pasien, bahwa seluruh upaya medis telah ditempuh. Karena kondisi penyakit yang sangat kritis, agaknya harapan untuk sembuh sangat tipis.Bisa dibayangkan bagaimana reaksi pasien tersebut. Sedih, gelisah, depresi, tidak ada lagi gairah dan upaya. Berbeda halnya jika si dokter yang merawatnya itu mengatakan hal lain, kondisinya memang sangat parah, namun, menurutnya, masih ada harapan untuk sembuh. Tentu si pasien sangat bergembira mendengarnya. Kata-kata dokter itu akan mempengaruhi semangatnya untuk sembuh.

Kata-kata mempunyai kekuatan yang luar biasa. Bahkan terkadang ia lebih ampuh daripada senjata. Dalam hal ini pepatah lama masih relevan, bahwa lidah lebih tajam daripada pedang. Betapa sering sebuah perang berkobar disebabkan oleh kata. Demikian pula sebaliknya, perang dapat dihentikan oleh sebuah diplomasi atau secarik kertas perjanjian damai. Seorang penulis wanita Jerman, Annemarie Schimmel, berbicara tentang kekuatan kata. “Kata yang baik laksana pohon yang baik. Kata diyakini sebagai suatu kekuatan kreatif oleh sebagian besar agama di dunia; katalah yang mengantarkan wahyu; kata diamanahkan kepada umat manusia sebagai titipan yang harus dijaga, jangan sampai ada yang teraniaya, terfitnah, atau terbunuh oleh kata-kata.”

Karena kata-kata seseorang bisa bergairah, bersemangat, terhibur dari duka, seorang pasien akan mempunyai harapan sembuh oleh kata-kata dokter. Yang terkadang kondisi sesungguhnya berlawanan dengan kata-kata itu, sekadar untuk menerbitkan semangat. Juga karena kata-kata, hati yang tadinya cerah berbunga-bunga menjadi redup sedih. Tadinya optimis menjadi pesimis. Bersemangat menjadi patah arang.

Kata-kata sebagai alat yang ampuh untuk berbagai kepentingan orang. Melobi, mempengaruhi, merayu, menghina, melecehkan, membalaskan sakit hati. Dan kata orang, ia adalah senjata bermata dua. bisa menjadi duat hal yang baik jika digunakan untuk hal yang baik dengan cara yang baik, namun bisa pula sebaliknya.

Seorang dokter, mempunyai tujuan membantu pasien melawan penyakitnya. dokter bukanlah Tuhan yang dapat menentukan hidup matinya seseorang. ia hanya sebagai perantara, menjadikan profesinya untuk menolong sesama. informasi yang diberikan dokter kepada pasien harusnya disesuaikan dengan kondisi pasien itu sendiri. mislanya daja tidak semua pasien nyaman diberitahu detail tentang penyakitnya. ada yang cukup puas dengan penjelasan simpel, ada juga yang meminta penjelasan lebih detail. biasanya ini tergantung dari tingkat pendidikan seseorang, biasanya pendidikan dengan tingkat lebih tinggi membuat pasien lebih banyak bertanya tentang banyak hal.

dalam kasus ini, kondisi sebenarnya sang pasien tidak harus diberitahukan kepada yang bersangkutan karena akan mempengaruhi semangat hidupnya. informasi ini dapat diberitahukan kepada keluarga pasien sebagai perwakilan pasien. mengenai informed consent yang diberikan pasien kepada dokter juga berkaitan erat dengan bseberapa jauh informasi yang dokter berikan. dalam hal ini menyangkut 3 unsur informasi:

1. diagnosis

2. terapi

3.prognosis (perkiraan perjalanan penyakit)

ketiga hal ini adalah informasi yang harus diberikan dokter kepada pasien agar pasien dapat menentukan menerima atau tidak tindakan medis dari seorang dokter.

jika dokter tidak memberikan edukasi yag jelas, pasien bisa salah menangkap informasi, pasien mungkin akan over estimate terhadap terapi yagn diberikan dokter, sehingga apabila hasil yang muncuk tidak seperti yang diharapkan pasien akan kecewa dan jatuh pada penuntutan dokter di meja hijau.

jika kerugian pasien tersebut merupakan resiko medis, dokter dapat bebas dari tuduhan malpraktek. namun bila dalam edukasi pemberian informed consent dokter tidak menyampaikan kepada pasien, maka hal ini menjadi kesalahan dokter.

dalam situasi tertentu dia\mana keadaan pasien tidak memungkinkan memberikan informed consent, keluarga dapat menjadi wakil bagi pasien.

penyampaian informasi oleh dokter kepada pasien juga berpengaruh sangat besar. seperti kasus diatas. mungkin bila dokter menyampaikan dengan bahasa dan cara yang lebih halus (dengan juga melihat kondisi psikis pasien) mungkin segal ainformasi yang diterima tidak akan menimbulkan penyakit psikis lain yang justru meperberat perjalanan penyakit utamanya.

disini adalah seni komunikasi yang dituntut dari seorang dokter. ia bkan hanya orang yang bertugas memeriksa dan memberikan obat. namun ia juga sebagai terapis psikologis, dimana terapi yang dilakukan haruslah secara holistik. jiwa dan raga. dan ini bukan hanya tugas serorang psikiater atau ahli kejiwaan untuk dapat memberikan psikoterapi (selain obat psikotropika). ini adalah kewajiban semua dokter. karen aperan dokter disini juga sebagi PENYAMPAI BERITA.

bagaikan seorang dai dengan tugas dakwahnya mengajak orang kepada Allah dalam taat dan ibadah kepada-Nya. Aktivitas dai dan dokter sangat didominasi oleh penyampaian kata-kata. Sebab sasaran yang hendak dituju adalah akal manusia itu sendiri. Jika tujuan dakwah adalah melakukan perubahan (taghyir), maka faktor utama yang dapat mempengaruhi proses perubahan adalah akal pikiran. begitu juga profesi dokter, ia memberikan edukasi dengan tujuan agar pasien dapat merubah pikiran maupun perilaku yang menyangkut masalah kesehatannya

Penyampaian kata-kata bahkan menjadi titik tekan tugas para nabi dan rasul. Seperti yang Allah tegaskan kepada Rasulullah saw. Allah berfirman,

“Jika mereka berpaling maka Kami tidak mengutus kamu sebagai pengawas bagi mereka. Kewajibanmu tidak lain hanyalah menyampaikan (risalah).” (As-Syura: 48).

Berbagai kajian dan petunjuk tentang kata-kata dan ceramah yang berkesan telah banyak ditulis para ulama. Namun muaranya tidak jauh berputar pada beberapa poin berikut ini:

1. Kuatnya Hubungan dengan Allah

Hubungan yang menguatkannya, yang menjadi rujukan, tempat menyandarkan diri, kepada-Nya ia mengadu, berdoa, dan berbagi.

Sejarah telah menjadi saksi bahwa tidak ada seorang nabi pun atau pelaku perbaikan kecuali ia mempunyai hubungan yang kuat dengan Allah. Jalinan mereka dengan Allah sangat kuat, hidup, dan selalu segar. Tidak pernah putus barang sekejap pun dan tidak pernah layu.

sebagai seorang dokter, yang banyak berhubungan dengan masalah kehidupan dan kematian, seharusnya lah ia lebih mendekatkan diri kepada Allah, meminta untuk selalu diberikan kemudahan dalam setiap kesulitan dan dijauhkan dari fitnah dan marabahaya.

2. Selalu Memperbaiki DiriSetiap muslim wajib memperbaiki diri dari segala kekurangan. Apalagi seorang dokter yag banyak memberikan nasihat kepada pasien. Boleh jadi ini merupakan hasil dari hubungan yang baik dengan Allah. Sebab siapa yang mengingat Allah ia akan teringat akan semua dosa dan kekurangan dirinya serta menyadari semua aib pribadinya. Berbeda halnya dengan orang yang lalai dari zikir. Ia pun akan lalai kepada Allah bahkan lalai kepada dirinya sendiri. Ia berjalan tanpa arah dan petunjuk. Allah berfirman,

“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. mereka Itulah orang-orang yang fasik.” (Al-Hasyr:19)

Sangat berbahaya jika seorang dai mengajak orang melakukan sesuatu sementara dirinya sendiri jauh darinya. Atau mencegah orang dari melakukan sesuatu ia sendiri belum bisa terlepas darinya. Jika demikian, maka seruan yang dikumandangkannya tak nyaring lagi. apalagi jika dokter yagn melarang pasiennya merokok ternyata juga seorang perokok..

nah, siapa yang mau percaya?????

Bahkan, tidak hanya ajakannya yang diabaikan orang, ia bisa mendapatkan murka dari Allah.

“Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (As-Shaf:3)

Tentu saja hal ini tidak dipahami secara tidak konstruktif, dengan menyibukkan diri sendiri serta tidak peduli kepada perbaikan sekitarnya. Aslih nafsaka wad’u ghairaka (perbaiki dirimu dan ajaklah orang lain), begitu kata orang.

3. Kecerdasan Akal, Kebersihan Hati, dan Pemahaman yang Dalam tentang Islam dan keilmuannya

“Allah menganugerahkan Al hikmah (kepahaman yang dalam tentang Al-Qur’an dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar Telah dianugerahi karunia yang banyak. dan Hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).” (Al-Baqarah:269)

Menurut Muhammad Al-Ghazali, kecerdasan yang dimaksud, seseorang tidak perlu menjadi jenius. Namun hanya dengan memiliki kemampuan melihat suatu permasalahan apa adanya. Tidak menambah maupun mengurangi. Dengan cara pandang seperti ini seorang dari dapat mendiagnosa sebuah persoalan dengan baik dan pada gilirannya bisa memberikan terapi yang tepat sesuai dengan permasalahan yang dihadapinya. Kata-kata yang disampaikannya menjadi tepat sasaran.

Dengan kemampuan seperti inilah Rasulullah terlihat menyampaikan nasihat yang berbeda-beda, melihat kondisi dan latar belakang psikologis seseorang yang konsultasi kepada beliau. Suatu saat beliau hanya mengatakan, “Janganlah kamu marah.” Dan Jariyah bin Qudamah, orang yang bertanya itu pun puas dengan jawaban beliau. Bahkan menurut riwayat Thabrani, pahalanya surga, seperti yang beliau sabdakan, “Janganlah kamu marah, maka akan mendapat surga.” Suatu saat beliau hanya mengatakan, “Katakan, aku beriman kepada Allah. Lalu istiqamahlah.”

Kebersihan hati yang dimaksud tentu bukannya kebersihan hati yang setaraf dengan para malaikat. Cukuplah bagi seorang dokter memiliki hati yang penuh cinta kepada manusia.

4. Keikhlasan

Keikhlasan merupakan tuntutan yang harus dipenuhi setiap muslim dalam ibadahnya kepada Allah. Sebab ia sebagai syarat diterimanya ibadah. Ibnu Atha’illah berkata,

“Amal perbuatan merupkan tubuh yang tegak. Sedangkan ruhnya adalah adanya rahasia di balik amal yang berupa keikhlasan.”

erlebih lagi bagi seorang dokter. Aktivitasnya adalah sebaik-baik amal dan sarana taqarrub kepada Allah, tentu keikhlasan menjadi lebih urgen lagi. sayang sekali segala peluh yang mengalir hanya dibayarkan di dunia saja, tidak diberi ganjaran yang berbulir 700 kali lipat sebagai penambah timbangan kebaikan…

Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah itu baik dan tidak menerima selain kebaikan.” Bagi seorang dari, kebaikan yang hendak dipersembahkan kepada Allah adalah keyakinannya terhadap keutamaan aktifitasnya dan harapannya yang ditambatkan kepada ridha Allah semata.

5. Keluasan Wawasan

jelas, keilmuan seputar profesi sebagai seorang dokter sangat dibutuhkan karena ini adalah modal utama. selain itu, dibutuhkan wawasan lain selain ilmu kedokteran. keluasan wawasan yang dimiliki seorang dokter membuatnya mampu menemukan ‘pembuka hati’ bagi orang-orang yang menjadi objek dakwahnya. Ketika berkomentar tentang wawasan Abu Bakar yang paling tahu tentang nasab suku Quraisy dan paling tahu tentang apa yang baik dab buruk mereka, Munir Muhammad Al-Ghadhban berkata, “Pengetahuan tidak kalah penting daripada akhlaq. Yang dituntut dalam masalah ini bukan segala macam pengetahuan. Tetapi pengetahuan mengenai masyarakat dan kecenderungan-kecenderungannya. Pengetahuan yang menjelaskan karakteristik jiwa manusia. Pengetahuan inilah yang akan memberikan kunci comunication skill yang saya sebutkan diatas. Setiap hati memiliki ‘kunci’, dan tugas seorang dai adalah untuk mendapatkan kunci itu agar ia bisa memasuki hatinya lalu hati itu menyambutnya.”

6. Menguasai Metodologi Komunikasi

Sebab ada pepatah Arab mengatakan, likulli maqam maqal (bagi masing-masing momen ada ungkapannya). Dan masing-masing orang memiliki kecenderungan terhadap satu bentuk komunikasi tertentu. Ada yang suka dengan gaya bicara yang berapi-api. Ada yang tertarik dengan ceramah yang banyak ‘lawak’nya. Ada pula yang tidak suka terhadap hal-hal yang monoton dan serius dan ia lebih suka kalau ceramah banyak diselingi ilustrasi. Kemampuan memilih model komunkasi yang tepat akan menjadi daya tarik yang dapat menggait hati. Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya kejelasan (komunikasi) adalah sihir.”

6. Berdoa

seorang dokter tidak boleh menyandarkan hasil kepada kemampuan dan upayanya. Upaya itu harus dikembalikan kepada Allah yang menguasai segalanya. Ini akan menjaganya dari sikap ghurur apabila apa yang diperbuatnya menghasilkan suatu yang baik, misalkan kesembuhan pasien dan menjauhkannya dari berputus asa jika menemui kegagalan. Sebab ia yakin, seberapa hebat sarana yang dikuasainya, ia hanyalah senjata bisa mengenai sasaran dan bisa tidak. Doa juga dapat menutupi segala kekurangan dan kelemahannya. Sebab tidak ada orang yang memiliki semua dan menguasai segalanya secara ideal. Adakalanya seseorang memiliki kelebihan pada satu sisi, namun ia juga memiliki kekurangan pada sisi lain. Dan berdoa adalah ibadah. Adalah senjata seorang mukmin di saat senjata lain tidak mempan. Ketajaman doa dapat menembus sesuatu yang tidak bisa ditembus senjata biasa.

7. Selanjutnya, takdir dari Allah

sekali lagi, dokter hanya membantu. maslah sembuh atau tidak hanyalah allah yang berhak. bukan dokter yang juga manusia, ciptaan Allah dengan kekurangan yang sama banyaknya dengan makhluk lainnya.

Semoga Allah mengokohkan kaki kita dengan kata-kata-Nya yang tetap. Wallahu A’lam.
//muhtarsuhaili.files.wordpress.com/2007/04/al-quran.jpg” cannot be displayed, because it contains errors.

Menjadi biasa sekaligus luar biasa

Filed under: Uncategorized — dokterqyu @ 5:30 am

Dalam menjalani hidup, manusia terkadang harus dapat menjadi biasa

Namun, bukan berarti manusia tersebut bukan manusia yang hebat,

Justru ia adalah manusia yang luar biasa

Selayaknya Rasulullah SAW,

Sungguh beliau adalah manusia biasa dengan akhlaq yang luar biasa

Keluarbiasaan yang terdapat dalam diri beliau tidak menjadikannya lantas menaikkan dagu untuk merasa hebat.

Namun terbungkus begitu indah dengan ketawadhu’an yang membuat beliau secara zhahir tak berbeda dengan manusia lain.

Seorang sahabat pernah sampai begitu sedihnya ketika melihat Rasulullah tidur beralaskan tikar.

Padahal beliau adalah pemimpin pada saat itu,

Tak seperti para raja di negeri jiran yang tidur beralas kasur empuk, berpakaian sutra dan minum dari gelas perak.

Namun, itu tak menjadi masalah,

Karena bagi Beliau, semua itu adalah hal yang biasa,

Tak ada yang perlu ditangisi karena hal yang biasa,

Sungguh baginya harta dan kemegahan dunia adalah hal yang biasa saja,

Tak ada yang istimewa.

Namun sebaliknya, di zaman jahiliyah banyak hal yang dianggap biasa oleh masyarakat

Tapi itu bukan hal yang biasa bagi Rasul Karena di dalamnya terdapat banyak kemaksiatan.

Mengubur bayi perempuan hidup adalah hal biasa,

Tapi tidak bagi Rasul

Perjudian, perzinahan, dan begitu banyak kedzaliman yang terjadi di waktu itu sungguh telah dianggap hal yang biasa bagi mereka,

Namun tidak bagi Rasul

Karena hal biasa itu mengandung kemaksiatan. Bukan hal yang patut untuk ditanggapi biasa-biasa saja dan kemudian tidak menghiraukannya.

Lalu, hendaknya kita berkaca,

Apakah kita sudah dapat menjadi orang yang biasa saja dalam menjalani semua urusan dunia?

Dan menjadi orang yang luar biasa ketika menghadapi masalah ukhrawi?

Menganggap biasa pada tradisi korupsi-kolusi-nepotisme,

yah, karena hal ini sudah mengakar dan tak bisa diubah…jadi biasa aja kali…sabar aja” justru kalimat ini yang terucap.

Dan mengapa ketika dihadapi masalah ekonomi rumah tangga, kesabaran itu tak bisa muncul?

Sungguh itu bukan kesabaran yang sesuai pada tempatnya.

Menjadi biasa dalam kepungan masyarakat materialistik memang membutuhkan komitmen dan kesabaran yang luar biasa.

Dan menjadi luar biasa dalam prinsip yang telah digariskan Allah adalah tantangan yang luar biasa hebatnya pula.

inilah saatnya untuk berpikir di luar batas,

tidak sebatas ”apa kata orang” atau ”apa yang dilihat orang”

tapi lakukan sesuai kata hatimu, untuk berjalan di muka bumi dengan tawadhu’

tak ada yang patut disombongkan dari diri ini,

kecuali izzah sebagai seorang muslim!

Sungguh itu satu-satunya kemuliaan yang patut dibanggakan,

tidak yang lainnya.

Tawadhu’ dan izzah adalah dua sikap jiwa yang ambivalen,

masing-masing berada pada sudut yang berbeda

seperti rasa benci, cinta, takut, berani.

dan itu adalah bagian integral dalam struktur psikologis manusia

rasakan bagaimana dengan manisnya Islam mengajarkan seorang muslim mencintai sesama muslim,

Namun sekaligus membenci hal yang dibenci Allah

Memiliki rasa takut kepada Allah,

Dan dalam waktu yang sama menjadi berani dalam menghadapi kezaliman manusia.

Mohammad quthb berkata ” disinilah letak kehebatan Islam, ia dengan amat indah memadukan semua sikap jiwa dalam kepribadian muslim, secara proporsional dan integral”

IMAN lah yang mengendalikan kedua sikap ambivalen itu dan memadukannya menjadi musik kepribadian yang indah.

Bila kendali iman tak ada, maka tawadhu’ hanya akan menjadi dha’if (kelemahan)

Dan izzah menjelma menjadi takabbur.

Izzah adalah kelebihan luar biasa yang Allah berikan kepada seorang muslim,

Namun iman lah yang membungkusnya dengan ketawadhu’an yang menjadikannya memandang dunia ini secara biasa,

Teramat biasa

Namun, menjadi biasa bukanlah hal yang mudah,

Sesuatu yang terlihat begitu biasa dan sederhana justru mengandung kekayaan makna yang luar biasa, seperti sebuah puisi :

aku ingin

aku ingin mencintaimu dengan sederhana :

dengan kata yang tak sempat diucapkan

kayu kepada api yang menjadikannya debu

aku ingin mencintaimu dengan sederhana :

dengan isyarat yang tak sempat disampaikan

awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.

Aku pikir, Kekayaan rasa pada sebuah cinta yang sederhana bahkan dapat mengalahkan “cinta luar biasa” yang digambarkan dalam bait sajak penyair tersohor sekalipun.

Cinta yang kaya hanya akan dapat dirasakan oleh hati,

dan ketawadhu’an cintalah yang membungkusnya dengan sempurna,

menjadikannya terlihat begitu sederhana.

Karena rasa adalah fitrah sederhana dalam diri manusia,

dapat diraba dan dirasa oleh siapa saja, Oleh siapa saja yang hatinya dipenuhi cinta.

Memang tak perlu kerumitan untuk dapat memahami dan merasakannya

Karena cinta tak akan pernah cukup untuk dirangkum dalam kata….

-Qee-

*terinspirasi dari banyak orang, diilhami oleh banyak hikmah dan dipermanis oleh hidup yang berliku*

March 7, 2008

dokterqyu di DOKTER KITA

Filed under: Uncategorized — dokterqyu @ 1:33 am

Sudah sejak dulu saya seneng sama majalah satu ini : DOKTER KITA.

Isinya sangat informatif bagi para dokter dan juga tidak sulit dimengerti oleh masyarakat awam.

Pernah, suatu saat (kapan ya? Saya juga lupa) saya mengirim tulisan2 saya ke redaksi….

Ups, ternyata dimuat….. (silakan di KLIK untuk memperbesar)


Bagi saya, kemauan dan semangat untuk menulis bagai pasang surutnya air laut. Cepet banget pasang en cepet banget surut.

Sejak mula, hal-hal yang saya tuangkan adalah kehidupan sehari-hari, berkaitan dengan profesi seorang dokter, dan sebagai seorang muslim saya ingin mewarnai segala aktifitas dalam satu warna kesejukan: ISLAM.

Kelimuan dan profesi ini sangat komplit, paling tidak bagi saya. Banyak hal terkait di dalamnya, ini bukanlah ilmu hitung pasti.

Sebagai seorang yang “masih bau kencur” di dalam dunia persilatan (halah) kedokteran tentunya saya merasa merasa ilmu ini masih kuraaaaaaaaaang banget.

Tahukan anda jika co-ass memiliki strata terendah dalam status keilmuannya di RS? Hehe….


Dan itulah yang menjadi ganjalan terbesar saya… setelah selesai menulis sesuatu tentang “dokter muslim” rasanya bagai pundak ini tiba-tiba dijatuhi beban beribu ton.

Bisa membayangkan?

Makanya sekali-kali nonton kartun tom en jerry donk ah…. :p


Memberikan manfaat yang besar bagi orang banyak adalah sebaik-baiknya manusia (Rasulullah SAW). Dan saya ingin menggapainya, sangat ingin….

Itulah motivasi terkuat saya untuk terus menulis. Walaupun masih dengan tertatih… tapi saya yakin,

di belakang saya banyak saudara2 saya yang mendukung…

di depan saya juga telah banyak saudara2 saya yang telah memberikan kontribusinya lebih banyak daripada saya….

Itulah motivasi saya selanjutnya….


Saat ini, saya hanya sedang berusaha memupuk kekuatan di diri saya untuk menjadi seseorang yang lebih baik, lebih baik dihadapanNya tentu saja.. untuk kemudian bisa memberikan apa yang terbaik yang bisa saya lakukan untuk orang banyak.

——–hmmmmm doakan ya…….———


March 4, 2008

Apakah anda gila?

Filed under: Uncategorized — dokterqyu @ 11:29 am

Pernah ngetawain orang gila?

Pernah ngeledekin orang gila?

Pernah mukulin orang gila?

Atau…

Pernah berpikir bahwa orang gila adalah orang yang terkena kutukan?

Harus dijauhi?

Diasingkan?

Dan bahkan terpikir bahwa mereka sebaiknya tidak ada di dunia ini…

Jika iya,

Maka…

Andalah yang gila

Dan perlu diobati jiwanya!!!

Ekstreeeem?

Hmmm, aku pikir juga begitu.

Tapi itu dulu..

Sudah banyak penelitian yang mengemukakan bahwa pada orang-orang dengan psikosis (gangguan jiwa berat, termasuk didalamnya skizofrenia) mengalami kelainan di otak mereka yang berhubungan dengan fungsi bagian-bagian tertentu di otak. Cukup ribetlah kalo disini kita ngebahas patofisiologi nya (mempelajari proses terjadinya penyakit).

Jadi ketika mereka menunjukkan sikap dan tingkah laku yang abnormal, pada prinsipnya itu terjadi karena ada kesalahan bentuk pikir dalam menilai realita. Mereka berada dalam posisi yang sulit untuk membedakan antara realita dan yang bukan realita.

Memang faktor psikososial dan genetik juga ternyata berpengaruh di dalamnya. Namun segala sesuau yang terjadi dalam tubuh manusia bukanlah ilmu matematika yang mempunyai hitungan pasti. Banyak faktor yang berpengaruh secara simultan disana.

Nah, ada pertanyaan dari seorang psikiater:

“kalau kamu dicolek orang psikosis (gangguan jiwa berat), kamu marah tidak?”

Waktu itu para co-ass menjawab dengan jawaban yang hampir kompak: “marah tho ya…”.

“kalau kalian jawab begitu saat ujian, kalian langsung TIDAK LULUS!!!” kata beliau

Why?

Ada yang dinamakan tingkah laku impulsif pada orang psikosis. Dimana tingkah laku tersebut didasari oleh keinginan hawa nafsu tanpa rem. Ya, jadi mereka memang tidak bisa mengendalikan kehendak mereka sendiri. Itulah mengapa mereka bisa marah hebat, mengamuk, dan melakukan tindakan tidak senonoh…

Terus gimana dong ketika menghadapi mereka?

Ya, tetap waspada.

Dan berdoa…

Anakku skizofren!!!!

Filed under: Uncategorized — dokterqyu @ 11:27 am

Seorang anak yang mempunyai riwayat premorbid (sebelum sakit) yang jelek terutama problem keluarga akan mempunyai prognosis (perkiraan perjalanan penyakit) yang buruk.

Beberapa pasien yang saya temui, mempunyai riwayat masa kecil yang tidak baik. Masalah yang sering ditemui adalah: sejak kecil kurang kasih sayang (jauh dari orangtua, orangtua sibuk). Banyak akhirnya ketika dewasa mereka mengalami gangguan kepribadian dan bahkan gangguan jiwa.

Sedihnya ketika bertanya kepada sang ibu kandung:

“bu, pertama kenapa bisa begini, bisa diceritakan dari awal?”

Dan si ibu hanya bisa menggeleng lemah atau menjawab “tidak tahu” dengan alasan ia tidak tinggal serumah dengan anaknya atau pembantunya lah yang biasa mendampingi sang anak, bukan ia, ibu kandung darah dagingnya sendiri…

baca juga ceritanya disini: http://ulinundip2003.blogs.friendster.com/ulins_blog/2008/02/konsistensi_dan.html

Miris?

Ironis?

Ya! Jelas sangat mengiris hati.

Wallahualam dengan alasan apa akhirnya sang anak bisa mendapat perhatian yang kurang. Alasan ekonomi kah?

Saya rasa tidak ada orangtua yang rela menukar arti penting “perekonomian keluarga” dengan “masa depan anak”nya.

Orangtua lah yang harus bisa membagi tugas masing-masing, siapa yang mencari nafkah? Siapa yang memperhatikan urusan tumah tangga?

Dalam Islam suamilah yang berkewajiban mencari nafkah dan istri lah yang berkewajiban mengurus keperluan rumah tangga. Dua tugas yang sama-sama mulia dengan tanggung jawab yang setara besarnya sesuai porsi masing-masing.


Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). QS.An-Nisa:34

Memperhatikan perkembangan dan kebutuhan anak adalah tanggung jawab kedua orangtua. Karena kasih sayang yang dibutuhkan seorang anak adalah sama antara kebutuhan akan kelembutan belaian sang ibu dan kebutuhan akan kekuatan dari tangan kokoh sang ayah.

Dan, suami sebagai kepala rumah tangga bahkan mempunyai tanggung jawab lebih untuk menjaga keluarganya dari api neraka.

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS.At-Tahrim:6)

Masih berani coba-coba menelantarkan anak-anak anda?

Tanggung sendiri akibatnya…..

February 9, 2008

IPK ku , OH NO!!!

Filed under: Uncategorized — dokterqyu @ 2:42 pm

Cerita seorang mahasiswa di akhir semester awal….

Rasanya bumi mau terbelah, gunung bergoncang dan lumpur meluap-luap..bahkan segala bencana alam yang akhir-akhir ini terjadi di Indonesia tak bisa cukup menggambarkan rasa hati yang “nyesek abis” sewaktu melihat nilai IPK yang nongkrong manis di layar komputer berjudul KHS (kartu hasil studi). Apalagi kalau bayangan wajah itu muncul satu persatu…. ibu, papak, kakak, adik, nenek, kakek beserta tetangga-tetangga yang dulu ikut memanjatkan doa di sela-sela kepergian menuju kampus tercinta ….

Hue…rasanya ingin kembali ke masa sebelum ujian, ke masa kuliah di kelas…

ketika dosen mengajar di kelas…eh, malah tidur nyenyak di kursi belakang.

Sewaktu (harusnya) belajar serius mendengarkan dosen, malahan ngurusin organisasi….

di sela-sela kegiatan organisasi malah pake alasan mau belajar dan izin tidak rapat,

di waktu pulang ke kamar tercinta malah langsung tidur “terinhalasi” bau bantal yang seakan-akan mengumbarkan aroma halothan….

Tidak sedikit lho yang mengalami kebimbangan seperti diatas. Perlu diintropeksi jangan-jangan selama ini kita telah berlaku tidak adil terhadap diri sendiri. Menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya. Waktu belajar digunakan untuk tidur, waktu organisasi digunakan untuk (alasan) belajar, waktu tidur….teteeep digunakan untuk tidur..hehe..

Tentang IPK, memang bukan segala-galanya kok. Malah tidak terbukti kalau dokter yang pasiennya laris manis adalah mahasiswa yang dulunya meraih IPK tinggi.

IPK bukan segalanya, tapi segalanya bisa berawal dari IPK.

Gara-gara IPK jeblok tidak bisa lulus tepat waktu, terus mengulang banyak mata kuliah, SPP harus menambah beberapa semester, belum lagi dipotong uang bulanannya sama bokap.. hancur deh segalanya..hiks…

Anggap saja IPK sebagai buah dari ilmu yg sudah didapatkan. Ilmu kedokteran adalah SENI, karena dokter dituntut untuk bisa menghadapi segala kondisi dengan dasar knowledge yang dimiliki. Sehingga keputusan yang diambil merupakan hasil olah informasi yg sudah kita miliki sebelumnya, istilah kerennya prior knowledge dan itu bukan hal yg statis.

Menjadi dokter yang disenangi pasien ataupun tidak, tergantung keahlian dan “seni menghadapi manusia” yang tidak ada di kuliah kedokteran.

Tapi Bukan berarti IPK tidak penting.. Karena itu adalah penilaian terhadap knowledge.

Banyaknya ilmu yang dimiliki tidak dapat hanya ditentukan dari sebuah nilai mata kuliah. Nilai hanyalah bonus yang Allah berikan, sedangkan ‘hadiah utama” dari usaha yang telah kita lakukan adalah ILMU dan PAHALA dari Allah.

Seperti filosofi :

Seseorang yang dalam melakukan segala sesuatu hanya mengharapkan ridha dan surga Allah (istilah kata menanam padi), pasti akan dapat “bonus” nikmat dunia yang bahkan tidak disangka-sangka (rumputnya).

Tapi jika yang diharapkan hanya “rumput”, yaitu nikmat dunia : nilai mata kuliah, uang, kekuasaan, dll… maka yang didapatkan hanya rumputnya. Tanpa mendapatkan “padi” yang jelas lebih tinggi harganya. Seseorang yang ikhlas menjalankan hidup ini hanya untuk Allah, maka mereka yakin dgn janji Allah “barangsiapa yg menolong agama Allah pasti Allah akan menolong dirinya”

Inilah yang menjawab kenapa banyak manusia di dunia ini yang tetap mendapatkan begitu banyak nikmat duniawi dengan segala kerja keras yang ia lakukan. Tenang saja, mereka Cuma mendapat rumput doang kok.

Bagi kamu-kamu yang berjuang keras dalam upaya untuk memperoleh ridhaNya Insya Allah yang akan kamu dapatkan adalah PADI yang begitu bernilai.

So, mari sejak sekarang kita dendangkan lagu “menanam padi” (bukan lagu menanam jagung ya..) yang jelas-jelas sudah dijanjikan oleh Allah akan dibalas,walaupun sebesar dzarah pun!

Dan ilmu padi ini harus terus dilanjutkan. Ketika ilmu yang ada sudah semakin banyak, tetaplah rendah hati. Karena hanya Allah yang mempunyai ilmu Maha Luas. Bukan manusia!!

alu, ketika kamu merasa telah mendapat banyak ilmu dari hasil belajar kamu…. Jangan lupa banyak bersyukur.

Dan sesungguhnya Kami telah memberi ilmu kepada Daud dan Sulaiman; dan keduanya mengucapkan: “Segala puji bagi Allah yang melebihkan kami dari kebanyakan hamba-hambanya yang beriman.” (QS.An-Naml:15).

medical science is…..

Filed under: Uncategorized — dokterqyu @ 2:39 pm
“sekiranya pohon-pohon yang ada di bumi adalah pena dan lautan (menjadi tinta) ditambah lagi dengan tujuh lautan sesudah (kering)nya. Niscaya tidak akan habis (dituliskan) kalimat-kalimat Allah.

(QS.Luqman:27)

Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa ahli kitab bertanya kepada Rasulullah SAW tentang ruh. Pertanyaan ini dijawab oleh Nabi SAW sesuai dengan firman Allah, QS.Al-Isra:85

“..dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan hanya sedikit”

Ayat ini menegaskan bahwa ruh adalah urusan Allah, dan manusia hanya diberi ilmu hanya sedikit. Ahli kitab berkata

“Engkau menganggap bahwa kami tidak diberi ilmu kecuali sedikit, padahal kami diberi taurat. Taurat adalah hikmah. Dan barangsiapa diberi hikmah, sesungguhnya ia telah diberi kebaikan yang banyak”.

Maka turunlah ayat ini (QS.Luqman:27) sebagai penjelasan bahwa ilmu yang diberikan kepada manusia hanyalah sedikit, sedangkan ilmu Allah tidak mungkin dapat dicatat karena sangat banyak.

Hal ini dapat dirasakan oleh para dokter yang berkecimpung dalam sebuah ilmu yang bernama ilmu kedokteran. Dr.Atul Gawande dalam bukunya “KOMPLIKASI” yang fenomenal mengatakan:

“Pada akhirnya, kedokteran dalam praktik sehari-harinyalah yang paling mearik buatku — apa yang terjadi ketika kesederhanaan ilmu harus berhadapan dengan rumitnya kehidupan seseorang. Walaupun berkembang sejalan dengan kehidupan modern,tetap saja banyak yang tersembunyi dan sering disalahartikan dalam dunia kedokteran. Kita memandangnya lebih sempurna daripada kenyataannya dan sekaligus melihatnya tidak sehebat yang diharapkan.

Memang, semakin manusia menyelami lautan ilmu yang begitu luasnya maka ia akan menyadari bahwa ilmu yang ia ketahui hanyalah setitik saja. Begitu juga dengan ilmu kedokteran yang selama  ini dipandang sebagai ilmu logis yang terus berkembang sesuai kemajuan zaman. Yang harus terpatri dalam pikiran kita adalah bahwa Allah telah menganugerahkan ilmu ini sebagai ayat-ayat kauniyah Nya yang seharusnya selalu kita renungkan. Kalau selama berkecimpung dalam ayat-ayat kauniyahNya tapi sampai sekarang tidak menyadari akan kebesaran-Nya???

Yah itu saya sih no comment aja… mungkin asahan pisau mata hatinya lagi hilang….

 
Ayat-ayat-Nya
Dilihat dari jalan untuk mendapatkannya, ilmu Allah dapat diketahui dengan dua cara:

  • khusus, diperoleh melalui jalur formal melalui wahyu yang disampaikan lewat para nabi dan rasulNya. Ilmu ini disebut ayat Qauliyah.
  • umum, diperoleh melalui jalur non formal yang Allah berikan melalui ilham. Ilmu yang didapat tidak hanya melalui wahyu tapi melalui ilham, disebut ayat kauniyah. Allah memberikan ilmu ini kepada orang-orang yang diberi INSPIRASI. Inspirsi ini dalam bahasa arab disebut ilham.

 Ada sinergi yang sangat baik antara ayat qauliyah dan ayat kauniyah, karena keduanya berasal dari sumber yang satu dan merupakan tanda-tanda kekuasaanNya. Ayat-ayat kauniyah memberikan isyarat kepada para ulama dan ilmuwan untuk melakukan kajian dan penelitian terhadap fenomena alam, hasilnya merupakan bukti kebenaran ayat qauliyah.

Wahyu datang dari Allah Yang Maha Mengetahui maka seharusnya manusia menjadikan wahyu sebagai pedoman hidup sebab kebenarannya adalah mutlak. Akan tetapi ilham (penemuan2 ilmiah) tidak dapat dijadikan pedoman hidup karena kebenarannya tidak mutlak. Kebenaran ilmiah adalah eksperimental yang kadang terbukti sesuai wahyu namun kadang terbukti sebaliknya.

Ketika ada bukti ilmiah yan berbeturan dengan ayat Qauliyah dalam AlQuran, maka ada 2 kemungkinan:

1.       bukti ilmiah yang masih ada kesalahan

2.       manusia belum dapat memahamai makna ayat AlQuran yang tersirat.

Kebenaran sains dan kemajuan teknologi dapat digunakan untuk sarana kehidupan, dalam rangka melaksanakan tugas memakmurkan bumi. Namun tetap harus diperhatikan batas-batas syar’i yang terdapat  dalam ayat-ayat Qauliyah. Penggunaan sains yang tidak mengindahkan batas-batas wahyu dapat menimbulkan dampak negatif terhadap manusia dan alam itu sendiri. Bila ini terjadi tentu bukan kemaslahatan yang didapat, sebaliknya kehancuran. Karena kehancuran itu datang dari tangan manusia sendiri.

Adalah suatu kewajiban bagi setiap muslim untuk menggali ilmu dalam ayat-ayat qauliyah dan ayat-ayat kauniyah. Karena ayat kauniyah ini adalah sarana kita untuk menjalankan fungsi sebagai khalifah yang memakmurkan bumi ini. sepakat?

 

 MEMPELAJARI KEDOKTERAN SEBAGAI “FARDH KIFAYA”

 “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh ke­pada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik”. ( 3:110)

 Dalam Islam telah dijelaskan tegas bahwa kewajiban dalam melakukan tugas/pe­kerjaan dapat dibedakan dalam dua hal, yaitu: “ Fardh Ain” dan “ Fardh Kifaya”.

 1. “Fardh Ain” merupakan kewajiban dalam melaksanakan tugas/perintah setelah di Baligh. Tugas ini menjadi batas yang minimum sebatas bagi individu un­tuk menghindari dosa.

 2. “Fardh Kifaya” dimaksudkan untuk me­mastikan bahwa suatu kewajiban/tugas tertentu telah ditetapkan demi kepentin­gan bersama. Perlu beberapa orang un­tuk melaksanakan tugas itu. Tetapi apabi­la tidak ada orang yang mengerjakan itu, maka keseluruhan masyarakat tersebut dianggap berdosa.

 Dalam konsep “Fardh Kifaya”, telah jelas ditunjukkan bahwa setiap orang wajib untuk memberikan sumbangsih terha­dap kepentingan umum sesuai dengan bidang-nya masing-masing. Hal tersbut telah dijelaskan dalam Al-qur’an bahwa sesunggunhnya Allah memberikan ses­uatu sesuai dengan kesanggupan kita.

 
“Dan orang-orang yang beriman dan menger­jakan amal-amal yang saleh, Kami tidak memikulkan kewajiban kepada diri seseorang melainkan sekedar kesanggupannya, mereka itulah penghuni-penghuni surga; mereka kekal di dalamnya.” ( 7:42)

 Kesemua itu merupakan ujian yang Allah berikan untuk manusia

 “Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun” ( 67:2).

 Manfaat yang dapat diperoleh dari “Fardh Kifaya” adalah lebih luas dibandingkan :Fardh ‘Ain”. “Fardh Kifaya” akan menghindari dosa dan bersifat publik untuk kepent­ingan bersama. Yang termasuk dalam “Fardh Kifaya adalah tiap-tiap pengetahuan yang dibutuhkan dalam setiap kehidupan,jadi tidak terbatas pada ilmu-ilmu tertentu saja.

 Dalam sebuah hadist Rasulullah SAW juga menyatakan bahwa:

Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang banyak (HR.Bukhari-Muslim)

 So…dari keterangan diatas dapat digambarkan betapa mulianya profesi yang mengandung kemaslahatan bagi orang banyak. Jalan menuju pintu kebaikan terbuka lebar. Namun tak dapat dipungkiri, penyelewengan pun dapat terjadi di jalan ini. semua kembali kepada manusia yang menjalankan… mau pilih jalan yang mana???

 Seperti nasihat seorang ustadz:

Menjadi seorang dokter bagai berada di dua jalan. Melangkah sedikit ke kanan akan masuk surga, melangkah sedikit ke kiri akan masuk neraka.

 Ya memang, karena terkadang batas diantara kedua jalan itu begitu tipis. Antara menolong dan pikiran lain yang terbersit bisa menjadi suatu perdebatan batin yang hebat.

Sekali lagi..manusia lah yang memilih jalan mana yang akan ia ditempuh…..

 

Medical science is a art

Mengobati pasien yang satu dengan lainnya tidak selalu sama. Ada banyak faktor yang berpengaruh secara simultan disana.Setiap informasi yang didapat (knowledge) harus diolah dan dianalisa menghasilkan suatu keputusan dalam diagnosis maupun treatment. Ilmu “mengolah” inilah yang disebut-sebut sebagai seni dalam ilmu kedokteran.

Bagaikan seorang pemusik yang memadupadankan nada-nada untuk dijadikan senandung indah. Bagaikan seorang pujangga yang melahirkan sajak indah, seorang dokter juga harus dapat mendeskripsikn suatu penyakit. Baik mendeskripsikan menjadi suatu bentuk kesimpulan diagnosis dan tretment maupun mendeskripsikan segala masalah medis kepada pasien. Ia dituntut bagaimana bisa menyampaikan suatu proses di dalam tubuh yang begitu rumit menjadi suatu bahasa yang bisa dimengerti pasien ataupun keluarga pasien. Sulit memang (banget..) dengan banyaknya kemungkinan yang dapat terjadi pada suatu penyakit (harus diingat setiap individu memiliki proses yang berbeda dalam tubuhnya) seorang dokter juga dituntut untuk dapat menjelaskan secara simpel dan jelas.

berbahasalah dengan bahasa kaummu”

Apa yang disebutkan oleh Rasulullah SAW ini juga dikatakan sebagai cara komunikasi efektif di bidang ilmu psikologi.

Apalagi yang disebut sebagai edukasi pasien ataupun untuk anamnesis (mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada pasien untuk penegakan diagnosis) seorang dokter harus berbahasa dengan bahasa pasien. Bahkan di CM (catatan medik) atau laporan kasus pun jika menulis hasil anamnesis tidak  boleh memakai bahasa kedokteran!

So, para dokter itu dituntut untuk dapat menyesuakan diri dengan pasien dan keluarganya. Pasti akan berbeda edukasi yang diberikan baik dalam hal bahasa maupun muatan bagi pasien yang derajat pendidikan rendah dan yang tinggi. Pasien yang SD aja ga lulus akan sangat puas diberi penjelasan sederhana tanpa harus banyak dijelaskan tentang patogenesis (proses terjadinya penyakit). Tapi untuk pasien-pasien yang pendidikan tinggi pasti baru puas jika sudah dijelaskan lengkap dan detail.

Sekarang masyarakat Indonesia sudah semakin berpendidikan dan sebagian ada yang trauma dengan banyaknya kasus malpraktek. Sehingga tuntutan seorang dokter dalam hal seni berkomunikasi semakin meningkat. Segala hal yang berhubungan dengan diagnosis dan pengobatan yang dilakukan harus dapat dijelaskan dengan lugas. Segala resiko dan komplikasi yang dapat terjadi juga harus dijelaskan terlebih dahulu. Hal inilah yang membutuhkan komunikasi timbal balik yang baik antara dokter dan pasien. Kepercayaan dan kejujuran adalah hal dominan yang dibutuhkan keduanya. Dengan kepercayaan, kejujuran akan tercipta. Sulit juga ketika sang pasien tidak jujur dengan riwayat penyakit yang dideritanya, seorang dokter diharuskan membuat keputusan diagnosis dengan informasi yang terbatas.

Begitu juga pasien akan sulit menerima kenyataan bila sang dokter hanya memberikan informasi minimal tentang penyakit yang dideritanya. Pasti rasanya tidak enak bukan?

Kata-kata yang tepat seorang dokter kepada pasiennya adalah:

Please help me to help you

Untuk menolong pasiennya, pasien itu sendiri harus dapat menolong dokter untuk memudahkan sang dokter membuat diagnosis dan rencana pengobatan.

 

Bagi  para pasien atau keluarga pasien, jika ada hal-hal yang tidak jelas JANGAN MALU-MALU untuk bertanya kepada dokter! JANGAN TAKUT merasa pertanyaan-pertanyaan  itu dianggap BODOH oleh dokter! Kadang-kadang justru pertanyaan-pertanyaan yang terlihat bodohlah yang sulit untuk dijawab. hehe…

Seperti kata pepatah: Malu bertanya sesat di jalan….

 

Asalkan jangan bertanya pertanyaan yang sama berulang-ulang…kan bikin: cappe deh….

Yang pasti edukasi itu haknya pasien dan kewajibannya dokter!


 

Hidup Ga Seru Tanpa Tantangan

Filed under: Uncategorized — dokterqyu @ 2:35 pm

Hidup adalah ujian. Mungkin kalimat ini sering kita dengar, namun sangat jarang untuk kita resapi maknanya. Ujian dan tantangan dalam kehidupan adalah cara Alllah untuk “menyeleksi” hamba-hambaNya.

 Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan, sedang Allah belum mengetahui (dalam kenyataan) orang-orang yang berjihad di antara kamu dan tidak mengambil menjadi teman yang setia selain Allah, RasulNya dan orang-orang yang beriman. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS.At-Taubah:16)

 Seseorang yang diberi tantangan dan ujian dalam kehidupannya adalah untuk membersihkan jiwa manusia itu sendiri. Agar manusia kembali ke jalan Allah dan bertaubat.

 Dan sesungguhnya Kami telah menguji Sulaiman dan Kami jadikan (dia) tergeletak di atas kursinya sebagai tubuh (yang lemah karena sakit), kemudian ia bertaubat. (QS.Shaad:34.)

 Janganlah kita menjadi orang-orang yang tidak peka terhadap ujian Allah seperti yang dicontohkan dalam ayat dibawah ini:

 Dan tidaklah mereka (orang-orang munafik) memperhatikan bahwa mereka diuji[667] sekali atau dua kali setiap tahun, dan mereka tidak (juga) bertaubat dan tidak (pula) mengambil pelajaran? (QS.At-Taubah: 126)

 
Ujian datang dalam berbagai bentuk. Kesenangan dan kesedihan adalah ujian. Jadi bukan berarti ujian adalah hal yang tidak enak saja. Kemiskinan dan kekayaan adalah ujian, kegagalan dan keberhasilan adalah ujian. Ujian yang menunjukkan bagaimana sikap kita ketika menerima takdirNya. Apakah menggerutu? Menjadi ujub? Apakah dengan ujian tersebut keimanan bertambah? Atau malah sebaliknya?

 Maka apabila manusia ditimpa bahaya ia menyeru Kami, kemudian apabila Kami berikan kepadanya nikmat dari Kami ia berkata: “Sesungguhnya aku diberi nikmat itu hanyalah karena kepintaranku.” Sebenarnya itu adalah ujian, tetapi kebanyakan mereka itu tidak mengetahui. (Qs.Az-Zumar: 49.)

 
Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: “Tuhanku telah memuliakanku.” 16. Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rizkinya maka dia berkata: “Tuhanku menghinakanku”

(QS.Al-Fajr:15-16)

Aktifitas di RS terkadang memang memeras tenaga yang lebih. Dan ketika profesi ini -mau tidak mau- harus berhadapan dengan orang banyak, dengan berbagai kondisi, maka stressor yang datang juga akan lebih beragam. Ketika menghadapi pasien dan keluarga pasien yang membutuhkan perhatian lebih (well, namanya orang sakit kan butuh perhatian lebih, dan keluaga mereka membutuhkan penjelasan yang memuaskan), ketika menghadapi teman sejawat (yang sama-sama lagi capek), dan ketika menghadapi dokter supervisor (ini yang paling bikin deg-deg-serr).

Raga yang lelah mungkin bisa diobati dengan beristirahat sejenak. Meluruskan punggung, menggeliat sebentar dan akan tambah nikmat bila bisa tidur melepas lelah. Namun terkadang tidak hanya raga yang letih, jiwa ini pun ikut letih. Letih akan segala ujian dan tantangan yang dihadapi. Apalagi ketika raga terasa lelah, jiwa akan lebih sensitif. Orang yang sedang capek tentunya lazim dikatakan lebih mudah marah bukan?

 Segala yang kita hadapi dalam kehidupan adalah ujian yang Allah berikan. Apakah kemudian kita dapat memetik hikmah di setiap likunya, atau semua itu lewat begitu saja tanpa meninggalkan bekas dan jejak sedikitpun di hati kita?

Terkadang raga ini letih melalui semuanya…

Terkadang perasaan lelah membuncah akan segala hal yang terjadi di hadapan kita…

Dan hanyalah jiwa yang dapat menyirami bunga raga untuk tidak layu dan tetap merekah…

Indah…

Pasien bertato itu…

Filed under: Uncategorized — dokterqyu @ 2:33 pm

“melaporkan pasien dengan gross hematuri et causa suspek carcinoma buli” seorang residen melaporkan status pasien saat visite (kunjungan dokter). Dokter spesialis urologi menanyakan kepada residen beberapa hal penting terkait kondisi umum, hasil laboratorium dan pemeriksaan penunjang lainnya. Tepat disamping tempat tidur pasien, kami, para ko-ass; residen; dan dokter spesialis menbahas hal-hal terkait diagnosis, terapi dan prognosis sang pasien. Hal-hal yang oleh pasien sendiri tak mengerti “bahasa planet” apa yang kami ucapkan.

bagaimana keadaannya hari ini, pak?”

“baik…tapi kok ya belum sembuh-sembuh ya pak…?” pasien dengan badan penuh tato itu mengeluh pendek..

:”yang sabar ya pak, pengobatannya memang tidak bisa langsung sembuh…”

“dek, ini pasienmu tho…? Nanti diedukasi ya” bisik seorang residen, menandakan aku harus mengedukasi pasien ini nanti terkait penyakitnya. Karena memang visite dokter spesialis tidak dapat meluangkan waktu yang cukup banyak untuk mengedukasi pasien secara menyeluruh. Ada banyak pasien, dan banyak program operasi yang harus dilakukan hari ini.

 “pak, bapak sudah tau penyakitnya apa?” tanyaku pada si bapak bertato setelah kegiatan visite selesai.

katanya tumor ya mbak?” tanyanya pilu. Gurat kesedihan tampak bertumpuk dengan keningnya yang berkerut berlipat.

Aku berusaha menjelaskan sebisaku, menunjukkan hasil USG, menjelaskan dengan bahasa semudah mungkin mengenai gambaran hiperekoik berwarna putih di kandung kemihnya. Hasil pemeriksaan sitologi urin untuk melihat sel tumor belum keluar hasilnya. Artinya kami -para dokter- harus menunggu hasil laboratorium tersebut untuk kemudian memutuskan terapi apa yang akan dilakukan.

mbak, nanti kalo saya di operasi. Mbak ikut?”

“ya mungkin, kalau memang saya masih di bagian urologi” kataku dengan penuh ketidakpastian, karena toh aku cuma seminggu di sub bagian ini.

mbak tolongin saya, saya pengen sembuh”

“pak..yang menyembuhkan itu Allah. Kami hanya berusaha membantu sebisa kami. Bapak juga harus banyak berdoa sama Allah” kataku yakin bahwa si bapak adalah muslim setelah sebelumnya mengecek status di rekam mediknya.

ya mbak, saya selalu minta sama Allah. Diberi kesembuhan, anak saya masih kecil.. saya ingin melihat dia menjadi anak yang sholeh” kata si bapak sambil menggaruk lengannya yang penuh tato…

Hmm, sangat kontras pikirku…

Tapi, tak berhak jika kita menilai seseorang hanya dari luar saja. Hanya dari tato nya saja. Allah lah yang Maha Mengetahui tentang hati dan keimanan seseorang..

Untuk bapak bertato itu…

Perlahan doa tadi ku amin-i…. dan aku percaya, para malaikat yang ada di sekitar kami pun memajatkan doa yang sama….

Doa seorang pria bertato yang (telah) lembut hatinya, mungkin dilembutkan oleh penyakit yang dideritanya…

Mau Jadi Dokter Seperti Apa?

Filed under: Uncategorized — dokterqyu @ 2:17 pm

Jadi Spesialis apa?

“kalau mau rumah tangganya bahagia, buat cewek-cewek..JANGAN pernah mengambil spesialis besar!”

Itu kata seorang residen waktu lagi ngobrol dengan para ko-ass.

Duh, segitunya ya pak????

Hmm, kalau melihat para residen(dokter yang sedang menjalani program spesialis) bagian besar seperti obsgyn, interna, bedah dan anak memang sih sepertinya mereka itu sibuuuk banget! Pagi-pagi ada laporan pagi dan follow up pasien, siang di bangsal  sampai sore. Belum lagi kalau malamnya jaga. Ditambah lagi berbagai ‘tekanan mental’. Kelihatan matanya pada cekung, badan ceking, rambut kusut… (hiperbolis nih). Yang pasti waktu buat yang lain (jalan-jalan, santai di rumah, masak, nyuci, nonton tv, tidur, atau “yang paling penting- ibadah!) berkurang banget!… mungkin itu yang jadi alasan residen tadi mengatakan seperti itu.

Tapi, saya menjadi berpikir ulang ketika terjadi obrolan ringan antara saya dan dua orang bapak pengunjung pasien.

Mereka berdua terlihat biasa-biasa saja, tidak ada yang istimewa, sampai akhirnya aku (diajak) mengobrol oleh kedua bapak itu. Dari awal pembicaraan terlihat salah satu bapak (yang ternyata lulusan IAIN) adalah orang yang mempunyai wawasan luas. Pembicaraan diawali dengan pertanyaan-pertanyaan biasa seputar penyakit pasien yang mereka kunjungi, dan pertanyaan berlanjut ke seputar dunia kedokteran.

Aku pun dengan semangat 4-5, 6 dan 7 mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan si bapak. Tentang jenjang pendidikan seorang dokter, status ku sebagai ko-ass, tentang sekolah spesialisnya para residen, dan suka-duka dalam pendidikan dokter…

Obrolan menjadi semakin seru sewaktu si bapak menjabarkan fenomena kurangnya dokter spesialis kebidanan dan kandungan wanita. Tentang hukum fardhu kifayah dalam Islam, pekerjaan dunia sekaligus sebagai pekerjaan akhirat, dan tentang orientasi kehidupan seorang dokter.
Si bapak mengatakan seorang dokter itu pekerjaan yang sangat dekat dengan pahala dunia dan akhirat, akan sangat merugi jika tidak dilaksanakan dengan maksimal.

“kalau adek melihat situasi seperti  ini, apa adek ga tergugah untuk menjadi dokter kandungan?”  

Katanya setelah aku sedikit bercerita bahwa mengambil spesialisasi kebidanan dan kandungan cukup berat dari segi fisik dan mental.

“apalagi di Aceh kan? disana kan udah penerapan syariat Islam”

Tambahnya lagi setelah mengetahui aku berasal dari Aceh.

Waktu itu aku pasti terlihat tidak  berminat menjadi seorang Sp.OG (karena untuk saat ini belum berniat kesana, kupikir tidak harus menjadi Sp.OG untuk bisa bermanfaat bagi orang banyak)

Tapi si bapak terus memotivasi saya, waktu saya bilang semua itu butuh komitmen tinggi dalam keluarga malah si bapak bilang :

“nah, sebelum berkeluarga dikomunikasikan dulu, kalo dia tidak mau istrinya ga bisa dirumah aja, ya udah cari yg lain….dokter itu kayak artis, jangan takut masalah jodoh”

haha…aku tertawa geli aja dalam hati mendengar  komentar si bapak, ga segitunya kaleee….

Tapi, kata-kata terakhir sang bapak membuat aku berpikir….

“maaf ya dek, saya ngomong begini karena adek berjilbab. Siapa lagi yang akan peduli terhadap umat ini kalau bukan orang-orang  seperti adek. Lakukan yg terbaik yang bisa adek lakukan, jangan pernah menyerah. Manusia itu ada di dunia memang cuma untuk beribadah kok, bukan yang lain. Kalau adek yakin, pasti Allah memudahkan jalan adek”

hmmmm, thinking….thinking…….

« Previous PageNext Page »

Blog at WordPress.com.